Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
6. BAB 6 II Mengintai


__ADS_3

"Hey, Chia! Lihatlah yang aku pilihkan ini, sangat - sangat imut dan pantas dipakai oleh anak kembar mu itu. Kau beli semua yang aku pilih ini dong." Susi memperlihatkan sepuluh pasang baju kembar. Jumlah yang banyak dan itu membuat dompet Chiara menjerit-jerit. Satu pasang saja harganya melebihi satu juta, lalu bagaimana jika membeli semuanya? Pasti akan mengeluarkan lebih dari sepuluh juta. Jumlah yang cukup besar untuk membeli kebutuhan dalam setahun.


Sementara Gema cuma bisa diam, ia tidak begitu mencemaskan harganya sebab ia sendiri sudah memiliki tabungan yang isinya lebih banyak dari sang Ibu. Semua itu tentu hasil pertunjukkan piano dari kedua anak itu yang tampil menggemaskan di pesta orang lain.


"Wahhh, Gempi mau bajunya, Tante!"


Netra hitam Chia membola, satu anaknya malah ikut - ikutan. Sedangkan Gema menepuk dahinya. Harusnya adiknya paham kondisi dompet Ibunya yang kismin.


"Bagaimana, ini bagus 'kan, Gema?" tanya Susi pada anak tampannya Chia itu.


"Bagus, Tante! Tapi Gema hanya ingin membeli satu saja dan maunya Mama yang pilihkan," ucap Gema. Ia memegang tangan Ibunya dan mendongak ke atas.


"Mama, ayo kita ke sana. Gema barusan melihat baju yang bagus di sana." Gema menarik - narik Ibunya.


"Ehhhh… bentar! Semua ini bagaimana?" Susi menahannya. Gempi pun pindah ke sisi Ibunya, merengek juga.


"Mama, belilah semua ini. Gempi mau, boleh 'kan, Mama?" Memohon dengan keimutan supernya, membuat orang - orang di sekitarnya terpesona melihat Gempi. Anak perempuan berumur lima tahun yang imut dengan rambut yang dikuncir dua dan bersweater merah muda. Terlihat ceria dan pertumbuhan yang sehat.

__ADS_1


Saat mau disetujui, tiba - tiba Gema menyahut. "Tidak!"


Bibir mungil Gempi mengerucut ke depan. "Kalau kau mau itu, beli sendiri," ucap Gema berkacak pinggang.


"Oke, belinya pakai uang Gema, hihihi…." Kikik Gempi kemudian berlari dan menarik Susi ke arah ruang ganti. Dengan sangat senang, Susi mau - mau saja menemani anak perempuan itu.


"Gempi!" ujar Gema kesal.


"Pftt, tidak usah bikin wajah begitu, Mama masih punya tabungan kok," tawa Chiara pada anak sulungnya itu.


"Tidak, sayang. Tabungan kalian tidak boleh diganggu gugat lagi, itu untuk masa depan kalian nanti," kata Chiara membelai pipi chubby Gema dengan sentuhan lembutnya. Gema pun memeluk Ibunya, ingin tersenyum tetapi mulutnya terasa susah digerakkan. 


"Mama, kalau Gema sudah besar nanti, biarkan Gema yang menafkahi Mama. Jadi Mama tidak usah menikah lagi, Gema tidak membutuhkan ayah. Apalagi Mama jangan takut sama siapapun, nanti Gema yang akan lawan orang jahat itu terutama kepada orang yang sudah mempermainkan Mama dulu."


Chia terpaku. Mendengar ucapan itu membuatnya teringat pada suaminya dan kelakuannya dulu yang bersusah payah menggugurkan kehamilannya, ia sedikit menyesal dan hampir kehilangan Gema yang sangat perhatian padanya.


"Terima kasih, Gema. Maaf kalau dulu Mama kadang sibuk sampai lupa memberi waktu untuk kalian berdua, sayang."

__ADS_1


"Tidak apa - apa, ayo Mama, kita buruan ke sana!"


Chia menghela nafas lega melihat putra kecilnya. Namun ketika mau meninggalkan posisinya, tiba - tiba Susi datang. "Chia, Gema!" ujarnya panik.


"Kau kenapa, Susi?" tanya Chia.


"Gawat, si Gempi hilang!"


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Chia, dan Gema diam terkejut.


"Aku barusan ke toilet, tapi Gempi sudah tidak ada di tempatnya, aku sudah cek di sekitar sini tapi tetap tidak ada," jelas Susi.


"Yaudah, kita berpencar! Gema, kau ikut sama Tante Susi, cari di sana, biar Mama cari ke sana. Mengerti, sayang?"


"Hmm mengerti, Mama. Ayo Tante, cari Gempi!" Gema dan Susi pun ke arah kanan, sedangkan Chia mencari di bagian kiri toko. Raut wajahnya sangat mencemaskan Gempi, satu anaknya yang memang tidak bisa diam dan suka menjelajahi semua tempat.


Terlihat yang dicari - cari sedang bersembunyi di bawah meja sambil mengintai dua orang dewasa di sana yang sedang memilih - milih pakaian.

__ADS_1


__ADS_2