Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
35. BAB 35 ll Di Sarang Musuh


__ADS_3

Terlepas dari kecurigaan para gangster yang berbaris itu, Gerry membawa kedua anaknya setelah mengatur strategi untuk memberi sinyal penyelamatan untuk Chia. Tiba-tiba di tengah perjalanan untuk menemukan Davis dan Susi, si Gempi berhenti. Terlihat kedua tangannya itu menekan area pipisnya. Benar, gadis kecil itu mendadak ingin buang air kecil.


"Gempi, ayo cepat.  Nanti ada yang lihat kita di sini," panggil Gema yang jalan di sebelah ayahnya.


Terpaksa, Gempi menahan keinginannya itu sejenak dan mengejar Gerry cepat sebelum tertinggal.


Kini Davis dan Susi menelusuri lorong - lorong di depannya. Seketika, saat keduanya ingin berbelok ke kanan, dari arah sana lagi - lagi ada lima gangster yang datang dengan perlengkapan senjata api dan satu buah senter. Kedatangan mereka ingin melihat kondisi rekan mereka yang belum ada kabarnya. Apalagi listrik yang tiba-tiba padam itu harus segera dipulihkan sebelum Tuan mereka menyadarinya.


"Nah, sudah aku bilang, Gema dan Gempi tidak jalan ke sini," ucap Susi menepuk pundak Davis.


"Kalau mereka ke sini, pasti sudah ditangkap oleh mereka. Aihhh," keluh Susi cemas tidak bisa pulang hidup - hidup. Davis meredupkan cahaya senternya dan terdiam memikirkan cara melewati mereka.


"Hmm, apa aku hadapi mereka saja?" gumam Davis melihat pistol milik Gerry.


"Jangan bodoh kau, Dav! Aku masih belum nikah tahu!" celetuk Susi.


"Aku juga belum nikah, Susi. Tapi kalau kita diam saja di sini, mereka pasti akan temukan kita dan mengeksekusi kita berdua!" kata Davis.


"Ya sudah, kita lewat jalan yang lain!" pinta Susi mau cepat - cepat menemukan si kembar lalu pulang ke rumah.


"Sudah tidak ada waktu lagi! Kau di sini saja, biar aku—"


SREEK!


Susi terbelalak melihat Davis ditarik ke belakang sebelum menampakkan dirinya pada lima gangster itu.


"Tante, Om!" panggil Gempi dan Gema.


"Ya ampun, dari mana saja kalian?" Susi memeluk bergantian dua anak itu lalu melihat Gerry yang tadi menghentikan Davis yang mau nekat.


"Ck, kenapa sih kau baru nongol?" decak Davis melepaskan cengkraman tangan Gerry dari bajunya. Tapi Gerry tidak menjawabnya, pria itu lebih memilih hal lain.

__ADS_1


Susi dan Davis pun sontak terperangah melihatnya terang-terangan bertindak. 


"Hai, siapa di sana!" ujar kelima gangster terkejut melihat Gerry. Mereka berbelok, mengejarnya tapi mendadak teriakan kesakitan mereka memenuhi lorong itu. Ahhhhhhhh!


"Oh my god, apa yang terjadi di sana?" Kaget Susi dan Davis bergidik ngeri. Sedangkan Gempi dan Gema bertatap muka dengan kebingungan.


"Papa!" ujar Gempi menghampiri Gerry yang datang sambil mengelap darah di pisau yang ada di tangannya itu, kemudian ia menyimpannya kembali ke dalam saku.


"Woah, apa yang Papa lakukan pada mereka?" tanya Gema ingin tahu.


"Oh itu, hanya sedikit polesan," ucap Gerry tidak bisa jujur kalau ia menghabisi kelima gangster itu.


"Jangan bilang kalau kau sudah —" putus Davis disekap mulutnya oleh Susi.


"Hahaha, daripada mencari tahu itu, lebih baik kita cari cara bagaimana bisa keluar dari sini?" ucap Susi.


"Iya, Gempi juga mau cepat-cepat pulang!" sahut Gempi yang kebelet pipis membuat Gema mengernyitkan keningnya melihat adiknya itu sedikit aneh.


Satu demi satu, lampu kembali menyala. Setelah itu, Gerry membereskan gangster-gangster yang dia lumpuhkan ke suatu tempat. Sebelum gangster lain sadar atas kondisi di bagian gedung itu yang sudah terkendali, Gerry pun menatap Gema, Gempi, Davis dan Susi untuk melaksanakan strategi yang sudah diatur sebelumnya.


"Hahahaha… memang tidak sia-sia kami berbisnis padamu, kau memang bisa diharapkan menyempurnakan racun ini," tawa para tamu memecah ruangan pertemuan malam ini.


"Ck, di dunia ini tidak ada yang bisa lepas dari rancangan ku," ucap Rion sombong lalu memberi stempel miliknya di atas kertas kerjasama yang kini berakhir.


"Kami begitu senang, anda memang tidak ada duanya, Tuan Rion," pujinya mengambil satu - satu racun milik mereka. Dengan itu, mereka dapat sesuka hati menjatuhkan lawan bisnisnya.


"Sebelum kami meninggalkan tempatmu ini, apa kau tidak keberatan memperkenalkan siapa wanita di sampingmu itu?" tanya mereka melirik Chia yang berpenampilan seksi menggoda.


Rion menepuk bahu Chia dan tersenyum sangat manis.


"Sepertinya ini waktunya aku umumkan pernikahanku," ucap Rion mengagetkan Chia.

__ADS_1


'Hah? Maksudnya dia mau nikahi aku? Dia sudah gila ya? Jelas - jelas aku sudah katakan punya suami!' gerutu Chia dalam hati mau protes tapi tangan Rion menepuknya lebih keras. Bagai tulang bahunya ingin patah merasakan tekanan dari tenaga dalam Rion itu.


"Pernikahan? Siapa yang kau maksudkan, Tuan Rion?" tanya mereka.


"Siapa lagi kalau bukan calon istriku ini yang mau ku pinang beberapa hari nanti," ucap Rion menjawab dengan mudah.


Mereka pun terdiam. Dalam hatinya terkagum-kagum melihat calon istri Rion yang cantik dan nyaris sempurna. Jika saja Chia dilelang, pasti akan ada banyak yang mengangkat harga dengan tinggi untuk membelinya. Tapi sayang sekali, itu tentu tidak akan pernah terjadi karena Gerry sudah pasti tidak mau istrinya dimiliki orang lain.


Pria itu kini mengepal tangan mendengar pembicaraan mereka melalui penyadap yang terpasang di ikat rambut Gempi. Gadis kecil itu berada di bawah meja dorong yang membawa hidangan penutup untuk para tamu.


"Ada apa ini? Siapa yang menyuruhmu?" tanya mereka pada pelayan yang datang, yang tidak lain adalah Susi yang menyamar berkat bantuan Gerry. Wanita itu dilanda ketakutan ditatap oleh Rion dan juga Chia yang sedikit menyadari pelayan itu mirip sahabatnya.


"Letakkan itu, dan enyahlah dari hadapan ku," kata Rion menerima hidangan itu tanpa kecurigaan karena hal ini sering dilakukan ketika mau menjamu tamu-tamunya yang lain. Rion pun juga tidak menyadari Chia yang sedang terkejut ketika kaki wanita cantik itu dipegang cepat oleh seseorang.


"Mama," panggil Gempi berbisik.


Chia tercengang melihat putri kecilnya tiba - tiba ada di sarang musuh dan kini memberikannya secarik kertas kecil yang berisi kode pelarian dari Gerry yang ditulis oleh Gema.


"Mama, jangan takut, nanti Papa datang bawa Mama pulang," ucap Gempi lalu duduk manis di dalam meja dorong. Gadis kecil yang benar - benar merasa senang sekali. Seperti berada di dalam kereta api.


"Ba-baik, Tuan. Permisi." Susi bergegas meninggalkan ruangan itu yang seolah-olah ia berada di tengah segerombolan ikan hiu yang lapar dan ganas.


"Hahaha, aku tidak sangka Tuan Rion masih bisa berbaik hati malam ini," tawa mereka tapi tidak berani mencicipinya. Takut mati keracunan sebelum sampai rumah.


Sedangkan Chia sibuk berpikir siapa yang dimaksud Gempi. Apa itu suaminya atau Bos Hexion? Tapi sejenak Chia tersenyum tipis, mengira yang datang adalah Rios. Namun kemudian kerutan kekesalan terlihat di pelipis matanya. Merasa kesal juga pada suaminya yang datang membawa Gempi.


"Awas ya! Kalau sudah keluar dari tempat ini, aku tidak mau tidur sekamar dengannya, titik!" gerutu Chia dalam hati lalu melihat para tamu meninggalkan ruangan. Kini waktunya giliran Chia melaksanakan perintah dari isi kertas itu yang menyuruhnya ke toilet. Tapi ketika berdiri, tangannya diraih Rion.


"Mau kemana kau?" tanya Rion sinis. Ia sangat ketat memperhatikan gerak-gerik Chia sampai tidak sadar di luar gedungnya itu sedang diamati diam - diam oleh beberapa gangster dari Hexion yang datang mengkhawatirkan ketua mereka. 


.

__ADS_1


Mau ketemu ayang suami 🤭hehehe


__ADS_2