Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
42. BAB 42 ll Pucat Seperti Mayat


__ADS_3

Sampainya Chia di markas Hexion. Semua gangster yang ada di sana tanpa aba-aba langsung berbaris menyambut kedatangan Chia dan penerus kursi istimewa bos mereka. Gempi yang di dekat Gema sedikit takut sampai ia tidak mau melepaskan genggamannya dari tangan kakaknya. Kalau saja Gangster itu tidak bertubuh seperti raksasa, mungkin Gempi bisa menunjukkan keimutannya, tapi ini wajah sangar dan tato-tato mereka itu menakutkan. 


Gema sendiri hanya diam. Memang patut jadi pewaris Hexion karena ia tidak menunjukkan reaksi ketakutan atau kepanikan. Ia berjalan begitu tenang tanpa adanya beban yang dipikul. Sedangkan Chia dan Susi mencari-cari Gerry sambil mengikuti langkah pengacara yang mengarah ke sebuah pintu.


Krieeekk!


Pintu besi di depannya itu dibuka sang pengacara. Spontan, mereka diam terkagum-kagum melihat ruangan itu yang penuh dengan berbagai senjata berbeda. Tampaknya sebelum ke tempat Gerry, Chia dan si kembar melewati ruang persediaan senjata. Hal itu untuk melihat bagaimana tanggapan Gema, namun bocah itu tidak mengatakan apapun dan hanya Gempi yang heboh. Membuat pengacara merasa Gema itu bocah yang tidak bertidak berlebihan. Bisa dilihat jelas, Gema tidak tertarik dan cuman Gempi yang tertarik ingin memegang senjata itu, tapi Chia melarang. Bahaya jika nanti Gempi asal menembak orang. Bisa-bisa markas itu diporakporandakan.


Setelah itu, lagi-lagi mereka melewati ruang kontrol sistem keamanan dan juga kontrol sistem yang lain. Barulah Gema menunjukkan reaksi yang mengesankan. Melihat monitor, matanya begitu cepat berbinar-binar.


"Ehem, dari tadi kita sepertinya berkeliling saja, apa ruangan suamiku masih jauh?" tanya Chia lalu berhenti ketika pengacara juga berhenti di depan pintu.


"Maaf, Nona. Ini adalah ruang labolatorium. Demi keamanan, silahkan memakai masker terlebih dulu," ucap pengacara itu memberikan maskernya.


"Pak! Kami ini mau lihat ayahnya anak-anak, bukan melakukan tur di tempat ini. Pak pengacara jangan lagi membawa kami berkeliling." Sahut Susi.


"Atau mungkin anda sengaja supaya kami tidak mengganggu Dokter yang mau melepaskan alat-alat medisnya dari Tuan Gerry? Anda sedang menunggu kabar itu, kan?" tanya Susi menatap serius.


"Maaf, Nona-nona. Saya tidak bermaksud begitu, saya membawa kalian bukan untuk tur, tapi melihat kondisi Tuan Gerry,"

__ADS_1


"Kalau begitu, bawa kami ke tempatnya sekarang!" desak Susi.


Pengacara itu dengan raut kesal pun menunjuk pintu di depannya. "Tuan Gerry ada di dalam, Nona-nona. Jadi mohon suaranya dipelankan, paham?"


"Ehh, maaf, Pak!" cengir Susi sadar pintu itu adalah ruangan Gerry.


Pengacara pun membuka pintu itu dan langsung melihat seorang berpakaian putih ala profesor berbalik badan. Profesor itu sedikit terkejut melihat kedatangan Chia dan dua anak kembar itu. Profesor itu dengan ramah tersenyum lalu kedua matanya mengarah ke sebuah alat kapsul yang bisa memuat satu orang.


"Om, Plofisor, Papa Gempi mana?" tanya Gempi cepat, tidak peduli ucapannya belepotan.


Profesor itu menunjuk kapsulnya dan berkata. "Ayah kalian sedang ditangani di sana."


"Papa…" lirih Gempi memegang kaca kapsul di depannya lalu mendongak ke Chia yang berdiri di sebelahnya.


"Mama, kasihan Papa. Pasti Papa sedang kesakitan. Apa Papa akan seperti ini terus, Mama?" tanya Gempi sedikit menangis. Sedangkan Gema tidak bisa berhenti menatap wajah ayahnya yang pucat. Seperti mayat.


Seketika seseorang masuk. Yang tidak lain adalah Edgar yang membawa sebuah botol yang berisi cairan untuk kesembuhan Gerry. 


"Aku tidak bisa menjamin apakah ini berhasil atau tidak, tapi aku yakin sudah mendapatkan info yang mirip dengan racun yang menyerang Gerry. Tapi diluar itu, mungkin akan ada resikonya," ucap Edgar memberi cairan itu kepada profesor untuk diteliti lebih dulu. Tiga hari mencari info, hanya itu yang bisa dibawa pulang Edgar.

__ADS_1


"Nona, apa anda bersedia mencoba cairan ini ke tubuh suamimu?" tanya Profesor pada Chia yang terdiam dan bingung mengambil keputusan. Ia juga takut resiko yang dikatakan Edgar.


"Kira-kira apa resikonya, Om?" tanya Gema.


Edgar menjawab, "Ada dua kemungkinan, pertama saraf otak ayahmu mati dan itu dipastikan hidupnya berakhir, dan kedua mengalami kerusakan pada otak ayahmu yang bisa mengakibatkan kelumpuhan total. Tapi daripada itu, saya berharap ayahmu tetap hidup. Saya masih membutuhkannya," ucap Edgar.


"Hiks, kalau begitu, Papa sama saja kesakitan dong, Om." Gempi menangis kencang. Susi segera memeluknya dan menenangkan Gempi.


"Apa boleh buat, ini cara satu-satunya supaya ayahmu tetap hidup." Ucap Edgar dan melihat Gema yang sibuk berpikir. Sedangkan Chia memegang dadanya yang entah kenapa rasanya tiba-tiba sakit. Ia pun melirik Gerry dan memikirkan banyak hal apa yang akan terjadi ketika pria itu berhasil diselamatkan.


"Apa dia akan ingat aku?" gumam Chia merasa sedih tidak ada lagi lawan yang bisa diajak bertengkar. Padahal ia juga ingin merasakan arti hubungan suami istri yang sebenarnya. Sedangkan Aletta yang baru datang, ia nampak berdiri di dekat pintu dan tersenyum tipis. Ini keuntungannya jika Gerry selamat dan ingatannya yang lumpuh, maka ia bisa menempati hati anak tirinya. Hanya cari cara bagaimana menyingkirkan menantunya itu. Ya, ini adalah kesempatan mendapat cinta anak dari suaminya.


.


Tidak semudah itu Ferguson😼🤭sadarlah lawanmu dua bocil anak tirimu🤣🤭Aletta hihihi..


Ibu bapak ngebucin🤭


anak-anak main belakang🤣

__ADS_1


__ADS_2