
"Si, kau udah telepon sahabatmu itu?" tanya Davis datang menghampiri Susi yang berdiri di depan piano si kembar. Alat musik yang tadi sore dikirim ke rumah Davis.
"Udah nih, Dav," kata Susi yang menyudahi panggilannya dari Chia.
"Terus, dia dan anak - anaknya di mana?" Sambil bertanya, Davis duduk di kursi dan iseng - iseng memainkan piano si kembar.
"Mereka tidak diculik atau pergi ke luar negeri lagi, kan?"
"Tidak kok, Chia ada di rumah suaminya," kata Susi yang membuat Davis berhenti memainkan pianonya.
"Suaminya? Dia benar - benar ke tempat suaminya?" ulang Davis berdiri.
"Ya sih, katanya mereka berada di sana," ucap Susi terlihat gelisah. Ia takut suami Chia itu bukan orang yang baik - baik, tetapi di dalam penggilan barusan, Chia berkata bahwa pria itu suaminya.
"Pantas saja aku menunggu dia datang ke kantor, rupa - rupanya sedang bersama suaminya. Apa kau tahu di mana rumahnya, Si?" Davis nampak ingin mendatangi Chia. Bicara langsung ke sana sambil melihat pria yang dimaksud suaminya Chia.
"Sorry, Dav. Aku tidak tahu,"
"Kenapa kau tidak tahu?" tanya Davis mengambil jasnya.
"Itu, tadi aku tanya alamatnya tapi mendadak pulsaku habis, hehehe," kata Susi cengengesan.
"Kalau begitu, berikan nomor Chia padaku, biar aku yang lacak lokasinya." Davis mengulurkan tangan dan meminta cepat. Namun tiba - tiba dari hapenya, seseorang menghubunginya.
"Astaga! Aku baru ingat, ada acara yang harus aku hadiri," desis Davis yang tukang pelupa.
"Kalau memang penting, kau ke sana saja dulu!" kata Susi.
"Sekalian, belikan aku pulsa ya, hehehe,"
"Okeh, aku pergi dulu." Davis meninggalkan rumahnya.
Setelah laki - laki itu pergi, beberapa menit saja, Susi pun mendapat notif berisi pulsa yang unlimited.
"Nah, kalau begini, aku tidak akan kesusahan," ucap Susi kembali menelpon Chia, tapi panggilannya tidak terhubung.
"Lho, kenapa tidak tersambung ya? Apa mungkin sudah terjadi sesuatu pada mereka di sana?"
"Hmm, tidak! Aku tetap harus tenang. Bisa saja Chia sudah tidur di jam ini, tapi tetap saja aku tidak bisa tenang, ahhhhh," desah Susi resah. Ia tahu Chia sudah menikah sejak lama dan tahu sahabatnya itu tidak pernah melihat wajah suaminya. Susi khawatir laki - laki itu suami palsu atau jadi - jadian.
Yang sebenarnya terjadi di rumah itu, nampak Chia meninggalkan hapenya lagi di atas meja usai membersihkan dapur. Ia sedang berada di belakang rumah yang luas bersama dua anak kembarnya yang mau menangkap kunang-kunang sambil menunggu Gerry pulang.
"Mama, kapan Papa Rios pulang?" tanya Gempi.
"Hmm, kita tunggu sebentar ya, mungkin di jalan macet," kata Chia membantu Gema yang memasukkan kunang-kunang hasil tangkapannya di dalam toples.
"Mama, kita pesan lewat hape saja, tidak perlu menunggu laki - laki itu," kata Gema yang perutnya sudah keroncongan.
"Hmm, tapi, Mama dilarang, sayang," jelas Chia yang diperintah untuk tidak memesan makanan dari luar.
"Kalau dilarang, terus kita makan apa, Mama?" tanya Gempi mendekat.
"Sepertinya laki - laki itu mau membunuh kita, Mama!" ujar Gema.
__ADS_1
"Eh," kaget Chia dan segera menggelengkan kepala.
"Tidak boleh nuduh orang dulu, kita harus tetap berpikir jernih. Siapa tahu di perjalanan ke sini memang sedang macet, sayang. Kalian sabar sedikit dulu ya," kata Chia menasehati dua anaknya itu.
Tiba - tiba dari pintu belakang, seseorang berdiri.
"Mama, Papa Rios sudah pulang!" Tunjuk Gempi pada Gerry yang berjalan ke arah mereka dengan tangan kosong dan hanya memegang hape Chia.
"Kenapa kalian ada di sini??" tanya Gerry dengan mimik curiga.
"Ini, aku hanya menemani anak - anak supaya tidak suntuk menunggumu," jawab Chia juga bermimik datar.
"Kalau begitu, masuklah, di luar sini sangat dingin," suruh Gerry memberikan hape Chia yang diam - diam sudah diberi pelacak tersembunyi.
"Papa, Gempi lapar, mana makanannya?" Pinta bocah perempuan itu mengulurkan tangan kecilnya. Gerry spontan terpaku dipanggil dengan sebutan itu.
'Papa? Barusan anak ini panggil aku, Papa? Apa yang sudah terjadi?' pikir Gerry lalu melihat Chia.
'Hmm, sepertinya ini karena dia.' Batin Gerry sedikit senang.
"Makanannya tidak ada ya, Om?" tebak Gema sinis.
"Ada kok, itu ada di dalam. Barusan ku letakkan di atas meja," kata Gerry tersenyum getir kecut.
"Ya sudah, ayo kita makan bersama," ajak Chia menggandeng tangan dua anaknya. Namun sejenak berhenti saat Gerry tidak ikut masuk.
"Kau mau kemana?" tanya Chia.
"Ada sesuatu yang mau aku urus di luar," kata Gerry mau mengerjakan tugasnya.
Chia pun meminta Gema dan Gempi pergi ke kursi duduk mereka lalu ia pun mengejar Gerry sebelum pria itu masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu!" Pekik Chia menahan.
"Hmm, kenapa ikuti aku? Makanannya kurang enak?" tanya Gerry melihatnya.
"Ada beberapa yang mau aku tanyakan," ucap Chia.
"Apa?" tanya Gerry was - was.
"Apa kau punya istri selain aku?" tanya Chia beranggapan tujuan Gerry mau ke tempat istrinya yang lain.
"Pfft, istri selain kau itu tidak ada," ucap Gerry ingin tertawa tapi berusaha tahan.
"Jadi aku bukan istri gelap ya?" tanya Chia dengan muka lugunya itu.
"Bukan lah, kau itu satu - satunya istriku, bukan istri gelap," kata Gerry. 'Astaga, apa dia selama ini berpikir dirinya istri simpanan? Pfft, hahaha.' Tawa Gerry hanya dalam hati.
Chia menunduk merasa bodoh sudah berpikir sebagai istri kedua.
"Apa masih ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya Gerry membuka pintu mobil.
"Itu, soal surat yang kau tinggalkan padaku enam tahun lalu,"
__ADS_1
"Surat? Ohh… yang itu! Kenapa dengan surat itu?" tanya Gerry pun ingat.
Dengan cemberut, Chia berkata, "Kenapa kau panggil aku, Babu? Kau anggap aku pembantu atau istri?"
"Hah, Babu? Tidak loh, aku panggil kau -baby," kata Gerry.
"Tapi yang tertera di kata terakhir itu, Babu!" cibir Chia masih dendam pada hal itu.
"Wahhh, itu pasti kesalahan!" kata Gerry.
"Ishh, bilang saja kau mau meledekku! Tidak usah mengelak," cerocos Chia memonyongkan bibirnya.
"Suwerr, aku benar - benar tidak mengejek, itu pasti kesalahan —"
"Tau ah, aku tidak mau bicara padamu lagi," celetuk Chia berpaling dan berjalan masuk ke pintu rumah
"Sebentar!" Tahan Gerry yang kali ini menghentikan langkah Chia.
"Kenapa?" tanya Chia ketus.
"Itu, soal keinginanmu kemarin di obrolan pesan kita, kau serius mau minta cerai?"
"Nggak dong! Aku cuma bercanda," jawab Chia cepat.
"Tapi kalau kau mau cerai sih juga aku akan cepat mengurusnya," tutur Gerry sedikit memaksa.
"Kubilang sekali lagi, aku cuma bercanda! Aku ti-tidak ma-mau cerai kok," ujar Chia marah.
Gerry mendesis, berharap Chia masih mau lagi berpikir cerai dengannya agar ia dapat membawa dua anak kembarnya ke tempat Aletta. Satu wanita ini benar - benar sudah dikendalikan. Barang - barang yang mau dibawa Gerry malah diambil paksa. Aletta melarang Gerry minggat dari rumahnya dan lebih baik bawa anak - anak Gerry kepadanya.
"Hey, kalau kau cerai denganku, kau bisa merasakan masa - masa indah dengan orang lain dan urusan anak - anak kau serahkan saja padaku, aku pasti bisa menanggungnya," kata Gerry.
Chia terkejut. Ia merasa yang tertera di dalam surat sepertinya benar. Pria di depannya itu hanya menjadikannya wadah dan menitipkan benih saja. Kalau begini, status istrinya tidak dihargai!
Dengan emosi yang membara, Chia membentak, "Sampai kapan pun aku tidak akan berikan hak asuh anak - anak pada orang lain, terutama pada dirimu! Kalau kita cerai, anak - anak ikut bersamaku dan kau jangan mengganggu kami lagi," kata Chia kecewa.
'Dan kau bukan ayah kandung mereka!' batin Chia juga marah dalam hatinya.
Setelah itu, ia pergi mengabaikan Gerry yang membisu. Perkataannya yang menusuk ke dalam jantungnya. Sakit juga diomelin.
"Kalau saja kau tidak cantik, sudah ku buang kau!" gerutu Gerry menyetir mobilnya dengan kesal.
"Ck, aku tahu, kau menolak cerai karena sudah jatuh cinta padaku!" gumam Gerry terlalu percaya diri menebak hal itu.
Tidak seperti Chia yang masuk ke dapur dan membuat Gema terkejut. "Mama, kenapa menangis?" tanya Gema dan juga Gempi menyadari mata Ibunya basah.
"Oh ini, Mama tadi kelilipan. Yuk kita makan sayang." Chia duduk di antara anak kembarnya. Sekarang ingin rasanya Chia curhat pada Susi. Merasa kecewa berat. Mau itu tua atau muda, laki - laki sama saja tidak ada yang menghargainya dan hanya malaikat si Gema kecilnya yang tulus sayang padanya dan juga sosok ayahnya. Namun sayang sekali, pria yang dulu dipanggil ayah itu sudah tiada setelah ditemukan gantung diri. Untung saja Susi datang di waktu itu sebelum Chia tenggelam lebih dalam pada keterpurukannya.
Sampai saat ini juga, Chia bertanya - tanya mengapa ayahnya melakukan itu. Apa dia menyesal memiliki anak yang sudah membunuh istrinya? Seorang Ibu yang baik hati dan bersusah payah melahirkannya itu meninggal tepat di malam dirinya dilahirkan.
Tapi yang dilakukan ayahnya itu memiliki alasan lain. Keterpaksaan demi menyelamatkan nyawa putrinya dari seorang Tuan muda gila dan kejam yang menginginkan Chia sebagai tebusan dari biaya persalinan.
.
__ADS_1
Musuh utama Gerry mulai nongol nih🤭kira² masih dipertahankan nggak tuh istrinya kalau direbut sama si Tuan muda😏