
Pada sore ini, Gerry masih terbaring lemah di tempat tidurnya dan belum siuman. Di sampingnya, Gempi pun juga masih setia menunggunya sadar sambil mengkompres sekali-kali dahi ayahnya itu pakai kain basah. Mengusap lembut keringat kotor yang kadang keluar membasahi seluruh wajah tampan Gerry yang jelas sedang menyembunyikan rasa sakit yang cuma bisa dirasakan oleh ayahnya itu.
"Papa…." lirih Gempi memanggilnya.
Merasa ada sentuhan dari tangan kecil yang imut, perlahan Gerry membuka matanya. Menatap kosong pada sosok gadis cilik yang menunjukkan raut wajah yang khawatir.
"Papa!" Gempi terkejut senang. Ia melebarkan senyumnya melihat Gerry beranjak duduk.
"Papa, kata Dokter, Papa tidak boleh banyak bergerak dulu," ucap Gempi sangat lancar melontarkan panggilan sayangnya itu membuat pria itu tertegun diam. Merasa tidak ada nada paksaan dan terlihat tulus menjaganya.
Satu tangannya itu pun menutup sebelah matanya. Melihat Gempi kembali dengan pandangan yang setengah tidak jelas. Ia pun menghembuskan nafas berat, merasa sebelah matanya sudah tidak berfungsi. Yang artinya, racun itu berhasil sampai ke sel saraf matanya dan melumpuhkan penglihatan kirinya. Jika terus seperti ini, ia akan kehilangan fungsi kedua matanya atau bisa dibilang mengalami kebutaan total dan berujung mati.
"Papa, sebenarnya sakit apa? Kata Dokter, Papa susah disembuhkan," kata Gempi dengan nada tidak seperti sebelumnya yang membentak ayahnya itu.
"Hanya sakit biasa, Gempi tidak perlu memasang wajah sedih seperti itu," kata Gerry mengusap pipi putri ciliknya.
Gempi mengambil tangan Gerry yang besar dan dingin itu dan mengatakan sesuatu padanya. "Papa, Gempi minta maaf," ucapnya merasa bersalah. Menyadari ayahnya seorang Mafia yang tidak lagi kuat seperti yang dikabarkan di luar sana. Tapi Gerry tetap memasang tampang arogannya itu.
"Minta maaf? Memang Gempi punya salah apa sama Papa?" tanya Gerry.
Gempi memainkan ujung jari telunjuknya, tingkah yang mirip dengan Chia ketika sedang malu mengutarakan sesuatu.
"Itu, Gempi terus bicara kalau Papa jahat, tapi sebenarnya Papa Gempi sebenarnya orang yang baik,"
"Baik dari mananya?" tanya Gerry sedikit merasa tenang mendengar putrinya yang satu itu sedang mencoba mendekatinya.
"Pokoknya baik! Kalau jahat, pasti Mama sudah tidak bersama kita. Papa masih biarkan Mama tinggal di rumah Papa dan juga kasih —" potong Gempi mendongak tatkala kepalanya dielus oleh tangan kekar itu.
Gerry nampak tersenyum lalu berdiri.
"Papa, tidak mau maafkan Gempi ya?" tanya Gempi ikut turun dari tempat tidur, meraih tangan papahnya.
__ADS_1
Gerry menoleh, menatap Gempi. "Tidak ada yang salah darimu, kau tidak perlu mengatakan itu, manis." Gempi menunduk, tentu malu dipuji ayah sendiri.
"Kalau begitu, Papa mau ke mana?"
Karena teringat pada Chia, Gerry harus ke tempat istrinya itu berada. Untuk ke sana, ia tentu tidak bisa katakan tujuannya pada Gempi karena itu pasti akan membuat gadis cilik itu tambah khawatir.
"Membawa Ibumu pulang," kata Gerry apa adanya.
"Jadi tetaplah di sini, tidak perlu ikut pergi," lanjutnya kemudian keluar dari kamar. Gempi menghembus nafas ringan, lalu memegang kepalanya. Tersenyum bahagia. Sontak terkejut saat Susi masuk.
"Lho, Gempi, mana Papa kamu?" tanya Susi.
"Papa barusan keluar, Tante. Katanya Papa mau pergi ambil Mama,"
"Kalau begitu, Gempi sudah baikan sama Papanya?" tanya Susi ingin tahu sedalam apa hubungan anak dan ayah itu.
"Hem, udah. Papa tidak marah sama Gempi,"
"Terus, Gema mana?" tanya Susi yang tadi mencari Gema. Tapi tidak muncul - muncul juga.
"Huftt, mungkin sedang bersama Davis. Ayuk ikut Tante,"
"Mau kemana, Tante?" tanya Gempi digandeng Susi.
"Gempi, sudah beberapa hari berlalu, kalian berdua tidak pernah latihan, jika seperti ini, Tante takut kalian tidak sehebat berpiano seperti dulu," jelas Susi mau mengasah Gempi.
"Baik, Tante! Kalau Mama dan Papa sudah pulang, Gempi dan Gema mau tunjukkan kehebatan kita!" riang Gempi.
Sedangkan Gema, satu bocah itu memang bersama Davis di dalam ruang kerjanya. Mencari jejak informasi yang didapatkan dari bawahan Gerry kalau Chia sedang diculik oleh gangster bayaran.
Brak!
__ADS_1
Pintu terbuka paksa, membuat Gema dan Davis sedikit kaget dan menoleh ke arah Gerry yang berjalan masuk. Pria itu mendekat dan menjulurkan tangannya.
"Berikan hapeku yang kau ambil," pinta Gerry pada Davis dengan tatapan dingin.
Davis berdiri di hadapan Gerry, mengangkat hape itu di depan matanya.
"Aku mendapat info kalau Chia diculik, kenapa kau hanya diam saja dan membiarkan dia dalam bahaya? Oh.. apa ini mungkin rencanamu sendiri untuk menyingkirkannya?" tanya Davis kesal. Mengira Gerry tidak mementingkan Chia yang enam tahun ini bersedia melahirkan dan membesarkan anak tapi dibalas dengan ketidakadilan seperti itu.
Gerry merebut paksa hapenya dan menatap benci. "Kau diam saja, tidak usah ikut campur urusan kami." Gerry berbalik badan.
"Dan lagi, dia adalah istriku, dan hanya aku yang tahu keadilan apa yang pantas untuknya," lanjut Gerry berlalu pergi dari ruang Davis namun ketika ingin membuka pintu rumah, ia berhenti dan menerima panggilan dari seseorang. Yang tidak lain adalah Edgar.
"Hey, Ger. Aku dengar kau sakit? Dan istrimu diculik! Kenapa kau tidak memberitahuku hal ini? Aku bisa membantumu, bodoh!" ujar Edgar pada mantan kepercayaannya itu.
"Sorry, aku bisa lakukan ini sendiri. Kau tidak usah lagi mencampuri urusanku!" Gerry menolak, tidak mau membebani siapapun. Terlebih lagi, hidupnya juga sudah tidak lama. Membantu makhluk sekarat sepertinya hanya sia - sia.
"Dasar bodoh! Buang kesombonganmu itu dan katakan sekarang, penyakit apa yang kau derita dan siapa yang menculik istrimu?" Edgar yang serba bisa tentu kemungkinan bisa menyelesaikan masalahnya. Tapi keras kepala Gerry tidak bisa dilawan.
"Ini bukan sebuah penyakit, tapi racun yang perlahan sedang membunuhku. Selama tiga tahun ini aku sudah berkeliling mencari penawarnya tapi hanya mampu memperlambat penyebaran racunnya dan sulit memusnahkannya. Entah kata Prof, hidupnya hanya tinggal menunggu waktu kapan tubuhku mati membusuk."
Deg
Percakapan itu mengejutkan Gema. "Menunggu waktu? Papa mati?" Kaget Gema melihat Gerry yang nampak tidak ragu hidupnya berakhir.
"Heh, bodoh! Kenapa kau baru katakan ini padaku?" tanya Edgar kesal.
"Jika aku katakan padamu, kau tidak akan bisa memberi waktu untuk keluargamu, lagipula aku sudah tidak penting - penting amat untuk dipertahankan," kata Gerry dingin, nada bicara yang seperti sudah pasrah.
"Kau pun juga harus tahu, aku tidak dibutuhkan lagi. Hexion sudah memiliki calon berikutnya dan aku bisa tenang meninggalkannya tanpa mengkhawatirkan apapun. Aku yakin, dengan keunggulannya itu bisa membesarkan nama Hexion dan bisa sebanding dengan milikmu," ucap Gerry yang dimaksud adalah Gema yang sudah dicantumkan sebagai kandidat.
Gema terdiam. "Jadi alasannya karena itu, bukan karena wanita cerewet itu? Papa mau aku jadi pewaris Hexion?" Gema memegang dadanya. Merasa sudah salah menduga ayahnya. Organisasi yang mau dia hancurkan rupanya warisan untuknya di masa depan.
__ADS_1
.
Nah lho🥺warisannya gede kan, Gema.