
Usai melewati pagar kawat bertegangan listrik tanpa diketahui, Davis yang ikut masuk ke area smping bersama Gema dan Gerry, ia sedikit takjub melihat keahlian Gerry yang menghilangkan arus tegangan dengan caranya sendiri yang sulit ia percayai. Walau begitu, kawat - kawat itu kembali berfungsi dan jalan satu - satunya untuk mematikannya secara permanen adalah masuk ke ruang sistem keamanan Robertus dan menghentikan arus tegangan itu tanpa Rion tahu.
Namun, tiba - tiba …
"Papa! Lihatlah!" Gema menunjuk ke arah gerbang utama yang terbuka lebar - lebar.
Dua pria dewasa itu sedikit terkejut melihat beberapa mobil datang. Tetapi Gerry lebih terkejut ketika Davis menyebut nama seseorang di antara mobil itu. Orang yang dulu pernah berkonflik dengannya dan juga penyebab tubuhnya terserang racun
Penguasa yang menjalin hubungan gelap atau khusus pada Robertus demi melegalkan semua barang narkob4, senjata dan obat - obat terlarang.
Tapi hal yang sangat dipikirkan Gerry adalah, Chia.
"Cepat! Kita harus menemukan Ibumu dan pergi dari sini!" Gerry menuntun Gema dan Davis ke jalan yang tidak ditangkap cctv. Ia pun agak menyesal tidak membawa beberapa anak buahnya juga.
Orang - orang di dalam mobil itu bersama - sama masuk ke dalam bangunan. Dijaga ketat oleh banyaknya pengawal profesional dan bahkan dilihat ada pembunuh bayaran yang ikut serta dalam pertemuan besar - besaran itu.
Chia yang masih menemani Rion makan, tiba - tiba teralih pada laki - laki itu yang menyudahi makan malamnya. Chia memperhatikan seksama satu anak buah Robertus datang melaporkan tamu - tamu berhaharganya sudah datang.
"Hei, jangan pergi, berengsek!" ujar Chia teriak saat melihat Rion keluar dan hanya anak buahnya yang mendekatinya.
"Apa lihat - lihat? Mau ku colok matamu itu?" bentak Chia.
"Nona, tolong kali ini saja jadilah wanita penurut." Anak buah itu menarik paksa Chia berdiri dan membuatnya terkejut kala ikatan di tangannya dilepaskan.
Kesempatan! Chia mendorong dada preman itu namun ….
"Akhhh!" Lehernya dicekik lengan preman itu.
"Nona, tolong tenang dan ikut saya!" Ditariknya paksa menuju ke sebuah ruangan tata rias dan mengabaikan Chia yang memberontak.
"Hei, apa - apaan ini! Lepaskan aku! Jangan sembarangan pegang - pegang!" kesal Chia pada penata rias wanita yang sesuka hati mengganti gaunnya dan juga make up-nya.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Sesuai perintah dari Tuan Rion, anda perlu tampil sempurna di depan tamu - tamunya," ucap mereka menata rambut Chia yang tergerai indah itu.
"Tamu? Apa maksud kalian?" tanya Chia berdiri dan menatap tajam.
"Kalian mau menjadikan ku wanita malam, begitu?" tebak Chia marah.
"Nona, anda salah. Tuan Rion hanya ingin Nona duduk manis di samping Tuan sebagai pasangan saja, tidak bermaksud hal lain," ucap mereka.
"Ck, manusia sepertinya penuh kelicikan. Bisa saja aku duduk, tapi aku yakin ada negoisasi tersembunyi dari mereka," kata Chia merasa mau dijual atau mungkin dijadikan pelampiasan nafffsu kotor para tamu.
"Berhenti mengatakan pendapatmu, keluar dan ikutlah bersamaku," sahut Rion datang sendiri menjemput Chia ke ruang pertemuan.
"Tidak, aku tidak mau! Kau bukan siapa-siapa aku!" tolak Chia lantang. Tapi percuma, gertakkannya itu tidak menggoyahkan Rion, melainkan pria itu membawa paksa dan bahkan menyeret Chia tanpa memperdulikan Chia yang kesakitan.
"Ku mohon, kali ini saja, tolong selamatkan ku, Rios!" pekik Chia dalam hati. Benar - benar berharap suaminya datang tepat waktu sebelum hal yang tidak mengenakkan terjadi padanya. Tapi Chia menunduk, diam - diam menangis. Merasa mungkin saja Suaminya sudah membawa kabur kedua anaknya daripada mencarinya yang sedang diculik ini
'Benar, aku dan dia menikah bukan karena dasar cinta. Dan ini kesempatan dia mengambil anak - anakku. Hiks, ujung - ujungnya aku tetaplah sendiri, Papa.'
Gerry pun menoleh, memberikan pistolnya pada Davis.
"Ambil ini, dan gunakan jika keadaan kalian dalam bahaya," ucap Gerry.
"Se-sebentar! Jika kau serahkan ini padaku, apa yang akan kau pakai masuk ke dalam sana?" tanya Davis tercengang. Ia jujur tidak tahu cara pakai benda itu. Memang cuma ditarik pakai pelatuk, tapi Davis bodoh dalam membidik.
Tidak! Anggap saja membidik sebuah titik desain!
"Tanpa itu, aku masih bisa keluar hidup - hidup dari sini," ucap Gerry membuat Gema terperangah. Nampak menunjukkan sisi lain ayahnya yang keren.
"Kalau begitu, Gema mau ikut Papa!" ujar Gema.
Gerry menggelengkan kepala. "Tidak! Di dalam sangat bahaya, kau di sini saja bersamanya," tolak Gerry. Bukan karena Gema beban, tapi anak kecil tidak boleh melihat pertumpahan darah di dalam sana yang kemungkinan bisa terjadi.
__ADS_1
"Tapi, Papa lagi sakit! Gema harus bantu Papa juga," rengek Gema.
Meski kasihan, tapi nyawa putranya lebih penting. Gerry mengusap kepala Gema, bicara lembut tapi serius. "Gema, dengar baik - baik. Kau bisa bantu Papa tanpa harus masuk ke sana, kau cuman lakukan satu hal, Nak,"
"Apa itu?" tanya Davis.
"Tunjukkan aku jalan melalui cctv di seluruh area ini," ucap Gerry yang penglihatannya sudah tidak begitu bisa diandalkan menunjukkan jalan ke tempat Istrinya. Sebelum matanya buta total, ia harus cepat ke dalam sana. Ia percaya, dengan kemampuan Gema, putranya itu bisa menuntunnya dengan benar.
"Baik, Papa!" kata Gema pun duduk di kursi. Tapi sejenak turun dan kembali meraih tangan Gerry sebelum keluar dari ruangan.
"Ada apa lagi?" tanya Gerry terkejut.
"Berhati-hatilah, Papa."
Davis terdiam melihat Gema memeluk Gerry. Terlihat gengsi anak itu runtuh seketika. Sedangkan Gerry merasa terharu mendengarnya. Tapi ia pergi tanpa membalas Gema. Ia tidak bisa berjanji kembali dengan selamat. Tapi Gema tidak akan biarkan orang tuanya kenapa - napa. Ia terus memberi arah jalan yang benar pada ayahnya itu sambil mencari letak keberadaan Ibunya. sedangkan Davis, keluar berjaga - jaga sambil memakai terompi milik musuh walau sekarang ia sangat kebelet pipis.
"Aduuhh, toilet di mana ya?" gumam Davis mau pergi cari toilet tapi tidak tega meninggalkan Gema sendirian. Sontak saja, ia terkejut hebat ketika ada lima anak buah musuh datang membawa senapan besar. Niat Davis yang mau pipis seketika hilang dan langsung masuk ke dalam. Menutup pintu rapat - rapat.
"Om, kenapa? Mau kencing ya?" tanya Gema yang terkejut.
"Celaka! Ada yang datang kemari!"
"Kalau begitu, om keluar dan hadipi mereka!" Kata Gema membuat Davis tercengang disuruh menghadapi musuh seorang diri. Bukan kah ini namanya bunuh diri sendiri? Sekali ditembak, langsung pindah alam.
Tok tok tok….
Gema dan Davis spontan membola pintunya diketuk - ketuk perlahan.
"Om, lakukan sesuatu! Jangan bengong saja!" pinta Gema sambil berusaha menghubungi ayahnya melalui airphone tapi tiba - tiba sinyal di tempat itu mati mendadak membuatnya terjebak berdua saja. Tampaknya keberadaan mereka sudah diketahui sehingga mengutus lima anak buah untuk mengecek lokasi keamanan B yang terputus.
😱😱😱
__ADS_1
Ayo Gema putar otaknya Davis🤣suruh main tembak - tembakan dulu sama lima Abang jago🤭