
Tiga hari sudah lewat, tapi kondisi Gerry belum menunjukkan kemajuan. Pria yang sedang ditangani darurat itu kini hanya bisa bergantung pada alat medis. Dokter sekaligus profesornya mengatakan, bahwa tubuh Gerry mengalami kelumpuhan total dan hanya syaraf di otaknya yang membuatnya masih bertahan. Gerry koma dan itu membuat Gempi sedih.
"Mama," panggil Gempi datang ke kamar Ibunya. Menghampiri Chia yang menekuk lutut dan termenung diam di atas tempat tidur. Kondisinya juga tidak baik hari ini. Usai mengetahui semuanya, Chia tidak pernah lagi keluar dari rumah dan tidak mau bicara pada siapapun. Ia syok berat menerima kenyataan statusnya yang ternyata istri sah dari pria yang amat dia benci. Bahkan tidak sekalipun bicara pada dua anak kembarnya.
"Mama, jangan begini. Ayo bicara sama Gempi," lirih Gempi duduk di sebelah Chia. Memegang tangan Ibunya dengan tatapan sedih. Namun Chia memalingkan wajahnya. Tidak mau dipandang oleh putrinya sendiri.
"Hiks…. Mama, Gempi kangen Mama. Jangan diam begini, jangan begini," tangis Gempi tidak ingin Ibunya terus diam seperti itu. Tapi Chia tidak menjawab apapun.
"Gempi," panggil Gema masuk bersama Susi. Gempi turun dan lari memeluk Susi. Mendongak dengan deraian air matanya.
"Tante, Mama tidak mau bicara, hiks…"
"Mama sepertinya benci sama Gempi,"
"Padahal Gempi tidak sengaja bentak Mama malam itu,"
"Gempi cuman takut Papa tinggalin Gempi,"
"Gempi, hiks… hanya mau Mama dan Papa selalu bersama Gempi,"
"Hidup bersama Gempi dan Gema, Tante."
Susi mengusap air matanya lalu melihat Gema yang menatap sedih pada Ibunya. "Gema, tolong tenangin adikmu dulu, biar Tante coba lagi bicara pada Ibu kalian,"
"Baik, Tante." Angguk Gema lalu menarik Gempi keluar. Memberikan waktu Susi dan Ibunya bicara empat mata. Setelah Gema keluar, Susi pun duduk di tepi ranjang.
"Chia, sudah tiga hari kau tidak memperhatikan Gema dan Gempi, apa kau tidak merasa tega sama sekali? Mereka mencemaskan mu, sampai-sampai setiap malam selalu ada tangisan di rumah ini."
"Chia, berhentilah menutup diri seperti ini. Gema dan Gempi membutuhkan mu. Kau jangan marah begini dong. Sudahi kekecawaanmu ini, kau hanya membuat kedua anaknya terbebani. Kasihan mereka."
Susi membujuk walau itu terlihat tidak berhasil. Tapi kali ini, Chia menangis tersedu-sedu. Ia juga sedang terbebani sesuatu. Susi pun segera memeluk Chia dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
"Sekarang, coba tenanglah dan ceritakan padaku semua yang kau pikirkan tiga hari ini. Siapa tahu, aku bisa bantu," ucap Susi tersenyum dan menyeka air mata Chia.
__ADS_1
"Maaf, Susi. Aku sedang mencoba mengikhlaskan mereka," kata Chia dengan suara seraknya.
"Mengikhlaskan? Apa maksudmu?" tanya Susi.
"Susi, selama tiga hari ini kepalaku penuh dan serasa ingin pecah."
"Astaga, separah itukah?" tanya Susi membelai rambut Chia.
"Tentu saja, mengikhlaskan itu rasanya berat," ucap Chia lalu menarik nafas banyak-banyak kemudian menjelaskan panjang lebar semua yang dia pikirkan.
"Sekarang aku tahu kenapa dia menginginkan anak dariku, ternyata dia sedang mempersiapkan pewaris untuk Hexion. Aku sih tidak masalah jika itu yang ia inginkan, tapi setidaknya dia seharusnya jujur dan tidak usah pakai nyamar-nyamar! Kalau begini, aku jadi merasa bersalah padanya, Susi."
Susi tersenyum lalu meraih tangan Chia. "Jadi maksudmu, kau ingin memberikan cuma-cuma kedua anakmu itu padanya?" tanya Susi.
"Entahlah, dari awal, anak yang aku lahirkan ini hanyalah titipan darinya, Susi. Mungkin aku harus mengalah dan menyerahkan Gema dan Gempi," kata Chia menutup wajahnya.
Susi geleng-geleng kepala lalu menepuk bahu Chia. "Jika titipan, lalu apa yang kau dapatkan? Apa kau hanya mendapat status saja? Ayolah Chia, berhenti memikirkan pikiran singkat itu. Gema dan Gempi sekarang hanya mengingkan kau dan dia bersama. Jadi mulai sekarang, kau coba membangun hubunganmu dari awal. Jangan pikirkan awal bagaimana pernikahanmu terjadi. Ikhlaskan yang sudah berlalu dan sekarang kau awali hubunganmu kembali dengan pondasi yang baru."
Chia sontak memandangi Susi.
"Kalau suamimu berhasil diselamatkan. Kau coba saja membangun pernikahanmu lagi dengan cinta, kepercayaan dan —"
"Dan apa?" tanya Chia melihat Susi berhenti.
"Ya, pokoknya kau coba cintai suamimu dulu dan perbaiki kesalahan pahaman yang terjadi diantara kalian. Soalnya, dipikir-pikir, kalian berdua ini masing-masing memang salah. Dan itu yang perlu dibicarakan empat mata antara kalian."
"Jadi… apa yang harus aku lakukan?" tanya Chia memperbaiki rambutnya yang kusut dan acak-acakan itu.
"Pergi mandi dan kunjungi suamimu. Jangan lupa bawa Gema dan Gempi ke sana. Aku yakin, mereka sudah rindu ayahnya dan bahagia datang bersamamu," jawab Susi tersenyum sumringah.
"Tapi aku lagi tidak mau mandi, Susi," ucap Chia malas gerak ke kamar mandi.
"Ya ampun, tiga hari kau tidak mandi, itu akan membuat suamimu tidak sadar-sadar! Bau tubuhmu pasti tercium tidak mengenakkan! Sekarang pergi mandi! Tidak ada tapi-tapian lagi!" ujar Susi menunjuk tegas ke kamar mandi. Seperti Ibu-ibu yang sedang menyuruh putrinya.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan paduka Susi," ucap Chia sedikit meledek lalu masuk ke kamar mandi. Susi menghela nafas lega lalu keluar. Sontak terkejut melihat Gema dan Gempi yang ternyata ada di depan pintu.
"Tante, apa yang Mama lakukan sekarang?" tanya Gempi dan Gema.
Susi menjentikkan jarinya bergantian ke hidung Gema dan Gempi. "Mama kalian sedang mandi."
"Mandi? Mama mandi? Kenapa bisa, Tante?" tanya Gema terkejut tapi merasa lega.
"Karena hari ini, Mama kalian mau pergi menjenguk Papa kalian. Jadi ayo sini ikut sama Tante. Kalian juga harus siap-siap dan dandan yang cantik."
"Horeee, Gempi senang dengarnya, Tante. Ayo cepat kita pergi siap-siap." Gempi menarik Susi ke arah kamarnya. Sedangkan Gema menatap sejenak pintu kamar Ibunya. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Tersenyum tipis dengan perasaan yang senang juga. Ia pun bergegas menyusul Gempi dan Susi.
Setelah berdandan seadanya. Chia pun keluar dan langsung menuruni anak tangga. Keningnya mengkerut melihat ruang tamu kosong.
"Lho, kemana mereka?" gumam Chia mencari Susi dan anak kembarnya. Ia pun menatap ke lantai dua, mengarah ke kamar anak kembarnya. Saat ingin menaiki anak tangga lagi, tiba-tiba pintu rumah yang terbuka itu diketuk seseorang.
"Permisi," ucap seorang laki-laki bersetelan hitam dan rapih. Chia berbalik badan cepat dan terkejut melihatnya.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Chia menghampirinya. Bukan karyawan Davis, tapi laki-laki itu nampak datang dengan tujuan lain.
"Maaf, Nona. Apa kita boleh bicara sebentar hari ini?" Pria itu dengan sopan meminta dan menunjuk ke sofa. Perasaan Chia yang tadi sudah membaik, kini merasa tidak enak melihat surat-surat di depannya.
"Maaf, Pak. Ini mksudnya apa ya? Kenapa ada surat cerai? Hak Asuh? Warisan? Semua ini untuk apa ya?" tanya Chia tidak berani menyentuh surat-surat itu.
"Nona, perkenalkan, saya pengacara Tuan Gerry ingin menyampaikan wasiat terakhir beliau."
Mata Chia membola sempurna mendengarnya.
"Maksudnya, suami saya sudah meninggal? Begitu, Pak?" tanya Chia tidak sadar Gema dan Gempi yang menuruni anak tangga itu mendengar obrolan mereka.
"Apa? Papa Gempi sudah meninggal? Siapa yang bilang!"
Gempi segera lari mendekati pria itu dan Susi pun cepat-cepat duduk di samping Chia yang kembali syok. Sedangkan Gema, terdiam kaku di tempatnya. Mau percaya, tapi ia butuh bukti. Karena hanya ucapan saja tidak bisa dipercayai semudah itu.
__ADS_1
.
Drama ituh, mungkin sih wkwk….