Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
51. BAB 51 ll Panggil Om Suami


__ADS_3

"Susi, mau kemana kau?" tanya Davis pada Susi yang tidak sengaja berpapasan di depan kamar. Tampak Susi memakai sweater biru muda dan bersiap ingin pergi.


"Mau kemana lagi kalau bukan lihat anak didikku, hehehe," cengir Susi.


"Karena hari ini hari minggu, aku mau menemani Chia membawa dua anaknya itu ke taman bermain," tambahnya menyimpan dompetnya ke dalam saku.


"Ha? Ke taman?"


"Iya, taman. Hari ini Gema dan Gempi ulang tahun, Davis. Kebetulan aku tidak ada kerjaan, jadi aku mau mengajak anak - anak itu bermain sepuasnya hari ini," ucap Susi lalu menunjukkan sebuah foto.


"Lihatlah, aku barusan mendapatkan foto ini dari Chia."


Davis sedikit terkejut melihat foto itu berisi gambar Gempi disuapin oleh Gerry.


"Ehhh, pria itu sudah siuman kembali?" tanya Davis.


"Hmm, iya. Dia sudah siuman tapi tidak ingat apa-apa. Kasihan sekali Chia, pasti unek-uneknya tidak bisa tersalurkan lagi, pfft," ucap Susi menahan tawa memikirkan Chia yang sudah pasrah atas kondisi suaminya.


"Oh ya, Chia juga titip pesan, katanya dia mau cuti hari ini. Tidak apa-apa, kan?" tanya Susi lalu mengerutkan dahi melihat Davis masuk ke kamarnya lagi.


"Sudahlah, aku ke sana saja." Susi memutar badan ingin keluar rumah, namun sebelum pintu dibuka, Davis datang menahannya.


"Susi, sebentar!"


"Hmm, kenapa?" tanya Susi menoleh. Menarik tangannya yang tadi mau menarik gagang pintu.


"Aku ikut!" 


"Ha? Ikut? Kau tidak mau ke kantor sekarang?" tanya Susi heran.


"Hmm, hari ini sih gak terlalu sibuk jadi mumpung ada waktu, aku juga mau ikut melihat dua anak itu. Lagipula, aku sudah menganggap mereka seperti keponakanku, kalau tidak memberi ucapan, rasanya agak kurang enak. Apalagi Chia bekerja di kantor. Itung-itung jadi atasan yang baik hati, hehehe," kekeh Davis gugup.


Susi menyipitkan kedua matanya dan memutari Davis yang agak bertingkah aneh.


"Hmm, yakin nih cuman itu doang?" tanya Susi.

__ADS_1


"Lho, memangnya kenapa kau tanya lagi?" tanya Davis.


"Ya, aku merasa aneh saja. Jangan-jangan kau punya niat lain dari keinginanmu itu. Misalnya, ada niat mau mendekati Chia, kan?" tebak Susi ngasal.


"Ha? Dekati Chia? Mana ada! Berhenti mikir begitu dong." Davis membantah.


"A-aku ke sana bukan cuma mau melihat si kembar, aku ke sana mau mengembalikan ini juga, Susi," kata Davis mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang dibungkus kain.


"Ini apa?" tanya Susi menunjuknya.


"Ini pistol Hexion. Aku merasa benda ini perlu dikembalikan sebelum musuh Hexion mengira aku punya hubungan sama mereka. Kalau musuh tahu aku punya ini, perusahaan ku bisa jadi kena musibah." Davis menjelaskan kekhawatirannya.


"Oke, kalau begitu kita ke sana pakai mobilmu." Susi mengangguk paham lalu menunjuk kendaraan kakaknya di luar rumah.


Davis mengelus dada lega tidak dicurigai lagi. Ia dan Susi pun masuk ke dalam mobil kemudian melaju ke rumah Chia.


.


"Bibik Odah! Lama amat sih! Cepat dong bawa ke sini kopernya!" teriak Aletta yang sampai duluan ke dalam mobil pribadinya dan melihat Bik Odah susah payah menarik koper yang berat dan mengangkat kardus besar yang entah apa isinya. Mungkin perangkap?


"Nyonya, saya sudah menyimpan barang anda. Kira-kira, apakah saya juga harus ikut pergi bersama Nyonya?" tanya Bik Odah.


"Nggak usah!"


"Kau di rumah saja."


Aletta menjawab ketus lalu menyetir mobilnya sendiri dengan kecepatan di atas rata-rata. Aletta ingin cepat-cepat sampai ke sana daripada nanti dihadang oleh hal lain. Ia yang sebagai istri kedua mantan Mafia HEXION tentu lumayan terkenal.


Bik Odah menghela nafas dengan kasar ditinggal sendirian.


"Mudah-mudahan rumah Tuan Gerry tidak meledak dengan kedatangannya." Bik Odah masuk setelah mengunci pagar. Lanjut beres-beres rumah. Hari ini ia sedikit bisa tenang sudah tidak diganggu dengan celotehan Aletta.


Sedangkan di rumah Gerry, Chia yang kali ini tidak tenang. Pasalnya, dia bingung mau memanggil apa suaminya yang beda 10 tahun dengannya. Terdengar beda jauh, tapi aslinya terlihat serasi sebab Gerry wajahnya manis dan tampan seperti si loli Gempi.


"Apa aku panggil Om suami saja?"

__ADS_1


"Atau nama saja?"


"Eh tapi, kalau dipanggil begitu, rasanya kurang nyaman."


Chia yang sedang mencuci piring kotor sibuk mencari nama panggilan yang cocok untuk Gerry. Setelah mematikan krang, tiba-tiba Gempi datang mengagetkan Ibunya.


"Mama! Mama!" panggil Gempi berulangkali.


"Oh, Gempi. Kenapa panggil Mama?" tanya Chia menoleh.


"Dari tadi Mama bengong, lagi mikir apa, Mama?" tanya Gempi yang penasaran karena ekspresi Ibunya yang lesu.


"Oh ini, Mama lagi bingung mau panggil Papa kalian apa. Gempi tau sendiri kan, Mama dan Papa itu tidak begitu akrab, sayang." 


"Oh itu, panggil seperti Mama panggil Gempi, hihihi," ucap  Gempi tertawa kecil lalu diam melihat wajah Ibunya yang memerah.


"Ehh, pipi Mama kenapa merah? Mama sakit?" tanya Gempi cemas.


Chia memalingkan wajahnya lalu menggelengkan kepala. Ia sangat malu mendapat saran sesimpel itu dari putrinya yang dimaksud adalah kata -Sayang. Memangnya semudah itu?


"Mama, kenapa diam? Mama sungguh sakit ya?" tanya Gempi tambah dekat.


"Haha, tidak. Mama senang punya Gempi yang pinter kasih saran, terima kasih ya sayang," ucap Chia mencubit gemas pipi putrinya.


"Hihihi, cama-cama Mama!" kata Gempi tersenyum manis.


"Oh ya, Gema mana?" tanya Chia melepaskan celemeknya dan menggantungnya.


"Di kamar, Mama."


"Terus, Papa Gempi di mana?" tanya Chia melihat dapur yang kosong.


.


Kemana tuh Papa Amnesia wkwk

__ADS_1


__ADS_2