
"Om, daritadi lihat hape terus, lakukan sesuatu dulu dong," kata Gema pada Davis yang berusaha mengirim pesan darurat pada Susi dan berharap dari 100 pesannya ada satu yang berhasil dikirim.
"Sial, sinyal di sini benar-benar hilang. Kalau begini, kita bisa mati terjebak di sini, Gema," desis Davis sebal. Ia belum berani membuka pintu di depannya.
"Halo, siapa pun yang di dalam, tolong segera buka pintunya!" kata mereka yang masih mengetuk pintu. Seketika, sebagia area di sana mati lampu. Mendadak aliran listrik padam. Davis menyalakan senter hapenya dan mengarahkan ke Gema.
"Ahhh, silau Om!" kata Gema memalingkan wajah.
"Apa kau yang memutuskannya, Gema?" tanya Davis.
"Bukan, Om! Gema cuma duduk di sini saja kok," ucap Gema.
"Lalu, siapa?" tanya Davis sedikit cemas. Tentu itu bukan ulah hantu, melainkan ulah Gerry yang sampai ke ruang pembakit listrik di area itu. Gerry menghancurkan kabal-kabal di sana dan sekalian memutuskan arus listri yang di pagar kawat. Sekarang, Gerry dengan lampu senternya, ia menerangi jalannya sendiri dan menuju ke sebuah ruangan yang terang. Namun sontak bersembunyi kala Rion dan Chia yang lewat menuju ke ruang pertemuan itu.
"Hai berengsek! Lepaskan aku! Lihatlah, di bagian sana sepertinya gelap gulita. Kau pergilah perbaiki listrik di sana daripada membawaku ke situ! Lepaskan aku!" ujar Chia.
"Diamlah! Atau mulutmu itu benar - benar akan ku robek!" Ancam Rion menarik paksa Chia. Gerry pun segera diam - diam mengikuti dari belakang dan sedikit lega istrinya masih hidup.
"Rion sialan, kau masih tidak berubah. Wanita cantik seperti itu masih kau perlakukan kejam. Memang sudah bukan manusia lagi." Gerry mengepal tangan dan menyiapkan pisau cadangan. Ia pun dengan samarannnya yang memakai rompi milik musuh pun masuk ke dalam ruangan itu. Tinjunya semakin dikepal kuat - kuat melirik para tamu yang hadir. Mereka yang bekerjasama membentuk kejahatan di luar batas manusia. Memperjual belikan organ manusia yang kadang diculik dengan biadab tanpa ampun. Mungkin kali ini, targetnya adalah Chia. Wajah dan tubuhnya yang ideal itu layak dihargai, bukan?
Hihihi…..
Deg.
__ADS_1
Suara tawa dadakan itu mengejutkan lima bawahan Robertus yang masih setia di depan pintu.
"Suara milik siapa itu?" tanya salah satu dari mereka dan menyoroti cahaya senter mereka ke lorong yang sepi mencekam.
"Akhhh!" Kaget mereka langsung mengangkat senapan saat ada sosok kecil lari begitu cepat sambil tertawa.
"Apaan itu? Sosok apa itu?" Mereka bertanya - tanya ketakutan. Sekali lagi ada yang lewat dan melesat cepat.
"Woi, bro. Tempat ini memang angker atau aku yang salah lihat?" tanya mereka sama - sama merasakan hawa dingin yang mengerikan.
"Bukan kok," sahut seseorang tiba - tiba muncul di belakang mereka.
"Ahhhhhhhhh!"
Kelimanya jatuh pingsan setelah melihat wanita beraput panjang mendadak hadir dengan seringai yang lebar dan mengejutkan mereka.
"Hahahaha…." Gempi tertawa lepas melihat Susi yang berpenampilan dedemit berhasil menjatuhkan lima orang itu. Namun tiba - tiba satu diantara mereka ada yang tersadar lebih cepat. Tapi ….
PLAK!
Gempi dengan lebih cepat lagi menimpuk wajahnya memakai sepatu boots. Susi meringis, merasa itu pasti sakit sekali. Buktinya, ada darah keluar dari hidung pria itu.
"Aduh, maaf Om jahat, Gempi tidak sengaja. Ini Gempi punya uang lima koin, dipakai berobat ya, Om," ucap Gempi pada pria itu yang pingsan.
__ADS_1
"Gempi, Gempi. Ada-ada saja kau ini, hahaha," tawa Susi geleng - geleng kepala dan mengikat rambut panjangnya itu lagi. Susi menghembus nafas lega. Ia memang datang ke kantor polisi, tapi polisi tidak bisa membantu jika belum ada bukti yang kuat soal Chia yang diculik oleh si Rion. Hingga akhirnya, Susi dan Gempi mendatangi langsung lokasi yang dikirim Davis tadi.
"Tante, ayo kita cari Mama dan Papa." Gempi mengambil senter besar milik bawahan Robertus dan menarik-narik tangan Susi. Akan tetapi, tiba - tiba pintu di dekatnya terbuka. Susi dan Gempi kompak menunjuk bersamaan Gema dan Davis tercengang melihat dua orang ini benar - benar datang ke tempat bahaya itu.
"Astaga, Susi! Aku kirim kau pesan buat lapor polisi, bukan suruh kau serahkan nyawa di sini bodoh!" kata Davis menampol wajahnya sendiri lalu melirik ke samping Susi.
"Ehhh, mana Gempi, Sus?" tanya Davis.
"Alamak! Mana anak itu?" Kaget Susi lalu melihat di sisi Davis juga tidak ada Gema.
"Ya ampun! Gawat, cepat cari mereka!!" Susi dan Davis mencari Gema dan Gempi yang melarikan diri ke arah pintu masuk menuju ke ruang pertemuan para pengusaha.
"Papa, lagi lihat apa?"
DEG!
Gerry menoleh ke bawah. Melihat dengan tatapan terkejut pada Gema dan Gempi yang berdiri di belakangnya. Sambil memperhatikan keamanan istrinya, ia juga tadi fokus mendengar obrolan Rion yang membahas topik utama pertemuan yang membicarakan perkembang racun buatan yang sangat efisien melumpuhkan target dengan jangka waktu yang diinginkan. Gerry berharap obrolan mereka juga membicarakan penawar yang berampuh untuknya. Tapi gara - gara anak kembarnya muncul, perhatiannya terkecoh lagi.
"Astaga, kenapa kalian berdua sampai di sini?" Gerry diam - diam mundur dari barisan dan segera membawa dua anaknya itu menghindari mereka sebelum ada yang sadar.
"Papa, ayo pulang dan bawa Mama juga." Gempi tersenyum tanpa rasa takut sedikitpun di matanya. Enteng sekali ia menyuruh sang ayah yang lagi misi penyelamatan disuruh pulang ke rumah. Tapi tiba - tiba ide cemerlang muncul di otak anak dan ayah itu.
.
__ADS_1
Gempi gituloh, main terobos aja wkwk