Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
26. BAB 26 ll Suami Ketiga Mama


__ADS_3

Chia memelas ditolak langsung. Ia segera menutup pintu dengan kecewa dan mengintip suaminya yang pergi melalui jendela rumah.


"Hmm, padahal aku masih mau tanya - tanya tentang dirinya!" gerutu Chia jalan ke arah kamar si kembar.


"Dia itu masih misterius! Belum jelas asal usulnya dan pekerjaannya. Aku benar - benar sangat penasaran tahu! Dasar Om Suami kurang peka! Eh….."


"Eh tapi, maklum sih, dia kan sudah tua sekali, pasti daya ingatnya sudah menurun. Duuh, aku tidak boleh begini. Cepat sadar Chia, jangan jadi istri durj*na." Chia menampar - nampar pipinya yang sering suka menggerutu.


Tiba - tiba dua anak kembarnya itu terbangun.


"Mama …"


"Kita di mana?" tanya Gema dan Gempi yang rambutnya setengah berantakan dan wajah yang kusut sekali.


"Gema dan Gempi pergi cucu muka dulu, setelah itu Mama kasih tahu yang sebenarnya," ucap Chia menunjuk kamar mandi.


"Baik, Mama!" Gema dan Gempi pergi mematuhi perintah Ibunya. Setelah merasa segar kembali, dua anak itu keluar dari kamar. Mencari - cari Ibunya yang kini berada di ruang dapur.


"Mama!" Gema dan Gempi berlari memeluk Chia.


"Mama, jangan tiba - tiba hilang. Kita takut, Mama." Gema dan Gempi cemas ditinggal barusan.


"Maaf ya, sayang. Mama lagi bersiap masak, tapi di rumah ini tidak ada apapun yang bisa dimasak," kata Chia cemas tidak ada makan malam untuk anak - anaknya.


"Memangnya kita ada di mana, Mama?" tanya Gema.

__ADS_1


"Begini, sayang. Kita itu ada di rumah Papa kalian, dan mulai sekarang Gema dan Gempi akan terus tinggal di rumah ini, jadi Mama tidak perlu repot - repot membeli rumah." Kata Chia tersenyum.


"Apa? Rumah Papa? Papa asli Gema dan Gempi, Mama?" tanya dua anak itu kaget.


"Ehhh, bukan Papa yang itu!" kata Chia menggelengkan kepala.


"Terus, Papa yang mana?" tanya Gema garuk pelipis.


"Wah, jangan - jangan suami ketiga Mama?" tebak Gempi ngasal. Tapi itu berhasil mengejutkan Gema dan Ibunya.


"Eiyyy, jangan bicara sembarangan, Mama kan pernah bilang cuma nikah sekali saja. Mana ada suami ketiga, Gempi!" cetus Gema gemas melihat kepolosan adiknya yang kadang menggemaskan dan ngeselin. Merasa Ibunya seperti tukang harem yang suka main gigolo di balik layar.


"Hehehehe, Gempi cuma bercanda," tawa Gempi.


Chia berjongkok di depan dua anaknya, lalu tersenyum simpul. "Gema, panggil Papa Rios, jangan panggil begitu sayang. Itu tidak sopan namanya, paham?"


"Paham, Mama! Maaf, hehehe," ucap Gema pura-pura ikut polos walau itu hal yang amat dibencinya.


"Wah, Papa Rios baik banget! Kalau begitu, suruh saja Papa Rios yang belikan makanan di luar, Mama!" pinta Gempi mulai kambuh penyakit suka merengeknya itu.


"Okeh, tapi, Mama cuci piring dulu, tampaknya alat dapur di sini cukup berdebu." Chia membelai kepala putrinya kemudian meletakkan hapenya di atas meja.


"Mama, Gema boleh bantu Mama?" tawar Gema yang suka kebersihan dan anti dengan hal kotor.


"Serius mau? Gema tidak kerepotan nih?" 

__ADS_1


"Iya, Mama! Gema kan anaknya baik dan rajin," ucap Gema dengan wajah datarnya itu.


"Kalau begitu, tolong bantuannya, sayang."


"Siap, Mama!"


Gema dan Chia mendekati wastafel. Sedangkan Chia si bocah banyak tebakan itu melirik hape Ibunya. Ia pun diam - diam membuka isi benda itu. Seketika matanya membola.


"Mama….Mama…Mama…!" pekik Gempi turun dari kursi, ia berlari hendak memberikan hape Ibunya.


"Kenapa, sayang?" tanya Chia heran melihat Gempi yang panik.


"Mama, Tante Susi telepon! Sudah 100 kali! Mama harus menelponnya balik sekarang, sebelum Tante Susi cemas di sana. Terus bilang juga piano kita dikirim ke rumah ini," kata Gempi menjawab.


"Astaga! Mama lupa!" Chia segera mengambil hapenya. Menelpon Susi, sahabatnya yang memang sekarang diselimuti kegelisahan tidak mendapat kabar. 


Karena Ibunya sedang sibuk menjelaskan keberadaannya, Gempi dan Gema yang melanjutkan cuci piringnya, tapi ujung - ujungnya malah perang busa sampai busa - busa yang mereka mainkan berjatuhan dan bertebaran di mana - mana dan itu pasti membuat Gerry naik darah melihat dapurnya bak kepal yang pecah habis dihantam ombak laut. Benda - benda yang awalnya tersusun rapih, mendadak terlihat acak - acakan, piring di atas lemari, sendok di bawah kolom meja dan gelas di letakkan entah berantah. Baru pertama kali dibawa ke rumahnya, si dua bocilnya Gerry sudah aktif memporak-porandakan dapur ayah mereka.


Sementara Gerry pulang ke rumah Aletta untuk mengambil barang - barangnya. Begitu senangnya Bik Odah melihat majikanya pulang, sebab makanan yang dia buat bisa dimakan oleh Gerry. Tapi Gerry malah menyuruh Bik Odah membungkus makanan itu untuk diberikan pada anak dan istrinya daripada harus dibuang. Sedangkan Aletta, wanita satu ini lebih gembira melihat Gerry pulang.


"Gerry!" Aletta datang menyerbu. Ingin memeluk Gerry tapi anak tirinya itu menghindar dengan cepat dan membuat Bik Odah pergi sebelum tawanya pecah melihat Aletta diabaikan.


.


Kasian dicuekin🤭cari laki baru lah Letta, masa mau sama milik orang🤭yuk lah cari hot duda gitu hehehe.

__ADS_1


__ADS_2