
Hari sudah sore, tapi belum ada pesan masuk dari suaminya. Keylin yang menunggu dan duduk di depan televisi melihat kedua twinsnya yang sedang sibuk sendiri. Tampak si sulung belajar menggambar strategi dan si adik bermain game tempur bersama Samuel. Rasanya sungguh bosan tidak melakukan apapun dan hanya menonton televisi yang menyiarkan sinetron yang tidak bermutu.
Melihat sinetron yang bertema pelakor, akhirnya Keylin mengambil remot dan mencari siaran tv yang lain.
'Haiss, aku lagi hamil, apa tidak ada yang bisa ditonton selain film perselingkuhan? Bikin mood jadi rusak!' Mendesis dalam hati.
Alih-alih, sebuah berita menghebohkan, mencuri perhatiannya dan juga si kembar. Terdengar reporter mengatakan tingkat kejahatan di kota semakin mer4jalela. Penculikan anak di mana - mana dan juga penjualan senjata ilegal di pasar gelap mulai marak di kalangan semua masyarakat. Lebih parahnya lagi, beberapa saat yang lalu terjadi ledakan di salah satu gedung perusahaan. Polisi sedang berusaha menyelidiki dan menyuruh untuk meningkatkan kewaspadaan dan penjagaan mereka. Beserta menyuruh masyarakat melaporkan apabila ada hal aneh yang terlihat mencurigakan.
Dari kabar yang beredar, ledakan dipicu bukan karena kesalahan teknis melainkan serangan yang sengaja ingin mencelakai sang CEO yang sekarang ini istrinya sedang mencalonkan diri sebagai walikota yang baru.
"Samuel!" Twins Ed memanggil Samuel yang lebih fokus menyelesaikan permainan latihan menembak dari game yang dibuat khusus oleh perusahaan IT milik Edgar.
"Kenapa?" Samuel menoleh.
"Ada kebakalan!" Tunjuk twins Ed.
Mata bulatnya yang biru itu membola sempurna, persis yang terjadi pada Keylin yang juga terkejut melihat gedung milik perusahaan ayah Samuel terbakar.
"Daddy, Mommy!" Samuel meletakkan hapenya, berlari ke depan televisi.
"Tante, apakah belita ini bohongan?" tanya Samuel cemas.
"Tidak, ini sungguhan!" kata twins Ed menunjuk televisi. Mengarahkan ujung jarinya pada orang tua Samuel yang berhasil diselamatkan tim penyelamat, namun terlihat anak perempuan yang dibawa ayahnya tidak sadarkan diri.
Samuel mematung melihat adiknya pingsan.
"Samuel, kamu mau kemana?" Tahan Keylin menangkap tangan kecil bocah gendut itu.
"Tante, Samuel mau pulang." Samuel meronta.
"Jangan, bahaya!" Keylin melarang. Seperti yang sudah dikatakan orang tuanya, Samuel harus dilindungi sampai waktu pemilihan selesai. Sebab Samuel adalah pewaris keluarganya yang juga diincar saingan Ibunya.
"Tapi Samuel tidak bisa diam melihat Mommy dan Daddy, Tante. Apalagi adiknya Samuel! Izinkan Samuel pulang," mohon Samuel.
"Jangan! Kamu tetap di sini sampai Papi pulang!" larang twins Ed membantu Ibu mereka mencegah Samuel berbuat nekat.
"Hiks… tapi, Samuel cemas lihat mereka." Samuel sedikit menangis. Tapi Keylin tidak memberi izin dan menyuruh dua anak kembarnya membawa Samuel ke kamar dan menghiburnya.
"Samuel, kamu naiklah bersama dua adikmu, biarkan Tante mencoba telepon ayahnya mereka. Kamu boleh ke sana, tapi harus pergi bersama Om Edgar."
"Baik, Tante." Samuel dengan pasrah menuruti Keylin.
Kini Keylin tidak mau menunggu lagi, ia terpaksa menelpon kontak suaminya yang masih berada di markas Hexion.
"Nenek! Jangan menuduh Mama Gempi. Mama tidak pernah jahat sama Papa. Nenek berhenti bicara begitu!" ujar Gempi marah.
__ADS_1
"Ayelah, wanita sepertinya kebanyakan matre. Menikah hanya untuk menguras harta suaminya. Tidak ada yang bisa sepertiku yang setia dan sayang pada suaminya dan terutama pada ayahmu, sayangku itu melebihi rasa sayang Ibumu yang munafik itu," ucap Aletta berkacak pinggang.
"Ihhh, Mama tidak materle! Kalau Mama pandang harta, Mama sudah menikah sama orang lain yang jauh lebih kaya dari Papa! Tante, mulutnya dijaga sedikit dong!" Sentak Gempi balas berkacak pinggang.
"Hahaha, memangnya ada lagi pria yang lebih kaya dari Gerry? Ngaca dong anak kecil. Di wilayah ini, hanya ada lima orang terkaya. Oh tapi bisa saja, Ibumu ini memiliki profesi sebagai simpanan konglomerat," cibir Aletta melirik Chia lalu Edgar.
"Mungkin misalnya, hubungan rahasia antara Mafia SKY dengan istri Hexion. Akhir-akhir ini, Ibumu dan pria itu terlihat lebih akrab dari biasanya, atau mungkin selingkuh diam-diam dengan lelaki itu." Tunjuk Aletta pada Davis.
Kalimat Aletta memicu adrenalin Edgar. Sangat-sangat ingin memukul mulut busuk Aletta yang sekarang menuduhnya berselingkuh. Bukan cuma dia, Susi juga ingin sekali menjambak rambut Aletta tapi ia urungkan sebab sadar kalau wanita itu bukan sembarangan orang yang bisa dibalas tangan kosong.
Tiba-tiba di tengah perdebatan antara cabe ij0 dan cabe r4wit, Gerry mendadak kesakitan.
"Arghhh!" Gerry menutup sebelah mata kirinya yang tetap tidak berfungsi. Gerry nampak menyadari sebelah matanya mengalami kebutaan.
"Papa!"
"Gerry!"
Aletta dan Gempi mendekat.
"Papa kenapa?" tanya Gempi cemas.
"Gerry, apa kau baik-baik saja?" tanya Aletta juga khawatir.
Sementara Gema dan Chia menatap kesal. Merasa kalau ocehan Aletta yang membuat kepala Gerry sakit. Siapa juga yang bisa tahan mendengar omong kosong wanita itu?
"What? Pulang? Kedatangan saya di sini ingin melihatnya!" geram Aletta mendorong Dokter. Beruntung pria berjas putih itu berhasil ditahan bahunya sehingga tidak terjatuh ke belakang, tapi tiba-tiba Gerry yang jatuh pingsan.
"Papa!" Gempi memekik saat ayahnya kembali terbaring ke atas brankar.
"Omaigad! Gerry!" Aletta tidak kalah hebohnya berteriak. Sampai-sampai gendang telinga semua orang sakit.
Chia mendekat ingin melihat Gerry, tapi Aletta mendorongnya. "Jangan dekati dia!" larang Aletta melotot.
Sontak, Chia menoleh ketika bahunya dipegang seseorang dari belakang.
"Kenapa Susi?" tanya Chia.
"Chi, aku dan Davis mau pulang nih. Tidak apa-apa kan kami pergi duluan?" Susi berbisik, tidak kuat berada di markas itu.
"Maaf, Chia. Di kantor sedang ada keributan, entah tiba-tiba sebagian karyawan panik setelah mendengar berita salah satu perusahaan diserang."
Gema yang tadi diam pun mengalihkan perhatiannya pada Davis. 'Diserang? Tiba-tiba ada yang melakukan tindak kejahatan?' gumam Gema dalam hati sedikit terkejut.
"Baiklah, kalian berhati-hatilah." Chia mengangguk paham. Setelah Susi dan Davis pergi, barulah Edgar mendapat pesan dari istrinya.
__ADS_1
"Om kenapa?" tanya Gema.
"Ck, aku harus kembali," jawab Edgar mendecak lidah.
"Apa yang sudah terjadi Tuan Edgar?" tanya Profesor.
"Aku tidak yakin ini ulah siapa, tapi ada serangan yang terjadi di gedung kantor ayahnya Samuel. Beruntung pegawai di sana hanya mengalami luka ringan, tapi malang sekali adik kembar Samuel mengalami kritis."
"Apa?" Kaget Aletta.
"Kritis? Kenapa bisa?" tanya si dua cabe itu kompak.
Edgar melirik Gerry lalu pindah menatap Dokter.
"Dokter, ikut saya ke rumah sakit, gejalanya persis yang terjadi pada Gerry, anak perempuan itu mengalami gangguan pernafasan dan membuat oksigen sulit masuk ke dalam paru-parunya. Dia kritis setelah diagnosa mengalami keracunan dari gas ledakan pada serangan itu. Saya takut, racun itu menjalar ke syaraf otaknya." Edgar yang sudah diberitahu awal gejala Gerry dari Profesor meminta Dokter mempersiapkan dirinya menangani satu keponakannya itu.
Tidak lupa menghubungi orang yang membantunya membuat penawar. Tapi jawaban yang didapatkan Edgar malah kematian orang itu.
"Ada apa, Om?" tanya Gema dan Gempi melihat Edgar memukul tembok setelah menyudahi panggilannya.
"Ck, orang yang meracik penawarnya sudah dibunuh."
"Hah? Di-dibunuh?" Aletta dan Chia saling menatap dan menelan ludah susah payah.
"Sialan, harusnya aku berikan dia keamanan!" decak Edgar lupa menyuruh anak buahnya menjaga orang itu.
"Kalau begini, nasib anak itu …." Chia menghentikan ucapannya melihat Edgar yang marah besar.
"Tidak akan kubiarkan tujuan mereka terwujud." Edgar pergi bersama Dokter meninggalkan markas Hexion.
"Profesor, apa kau tidak bisa meracik penawarnya?" tanya Chia.
"Maaf, Nona. Bahan-bahan yang diperlukan sulit ditemukan dan saya butuh waktu lama membuat penawar itu." Profesor memberikan dokumen, tertera bahannya dari tanaman langka.
"Mama! Perlihatkan pada kami juga!" Gempi dan Gema menjinjit. Ingin tahu penawar sang ayah.
"Ck, sok baik sekali dia sampai mau peduli pada orang lain." Aletta mencebikkan bibirnya dan kemudian menatap Gerry.
"Profesor!" ujar Aletta.
"Ya, Nyonya, ada apa?"
"Saya mau pulang, tapi bisakah membawa Gerry pulang bersamaku? Saya mau Gerry lanjut dirawat saja di rumah saya," ucap Aletta ingin membawa Gerry sekarang juga.
"Ihhh, tidak boleh!" larang Gempi mencegat.
__ADS_1
.
Ayo Gempi, jangan buat sainganmu bawa Papa😁mu