
"Gempi, sini!" panggil Gema pada adiknya yang berdiri di dekat Susi. Melihat Susi yang tengah bicara pada penjual piano, Gempi pun berlari ke Gema.
"Kenapa, Kak? Ada sesuatu yang menarik di sini?" tanya Gempi. Gema pun mendekati telinga adiknya, berbisik pelan - pelan.
"Tadi subuh aku meretas salah satu perusahaan di kota ini,"
"Kakak melakukan itu lagi?" tanya Gempi terkejut. Gema pun mengangguk.
"Ihhh, kenapa tidak ajak Gempi juga?" celetuk Gempi.
"Habisnya kau tidur seperti kebo! Diguncang sana sini tidak mau bangun," balas Gema mengerucutkan bibirnya.
"Terus, kakak dapat apa?" tanya Gempi dengan raut wajah yang sudah tidak sabar ingin tahu.
"Aku dapat informasi mengenai pria yang di pesta itu,"
"Serius?" Kaget Gempi.
"Ya, serius. Nama aslinya Gerry Brondong –” Gema menghentikan ucapannya, menyentuh dagu dan tidak begitu ingat.
"Brondong? Namanya Brondong? Pfftt.... hahaha," tawa Gempi terbahak - bahak. Gema pun menyumbat mulut adiknya pakai roti sobek.
__ADS_1
"Jangan tertawa, Gempi. Kalau Tante tahu kita sedang menggali infomasi orang lain, kita berdua bisa dipulangkan ke London," kata Gema penuh penekanan.
"Uppss... sorry, Kak. Namanya lucu, hehehe...." kekeh Gempi merapatkan bibirnya itu.
"Sepertinya aku salah, namanya itu Gerry Brandon, tapi ada nama belakangnya, cuma aku tidak ingat apa itu, Gempi," ucap Gema memijat kepalanya, sedang berusaha ingat, tapi tetap sulit mengingatnya. Gema memang memiliki kelebihan, tapi dia juga punya kelemahan. Yaitu, tidak bisa mengingat nama orang.
"Ya udah kak, tidak usah cari tahu nama belakangnya, sekarang Gempi mau tanya lagi, apa yang kakak dapatkan selain nama lengkapnya?" tanya Gempi dan melirik Susi yang masih mengobrol dengan sang penjual.
"Status, aku dapat statusnya, Gempi," jawab Gema mengambil hape Susi di tangan adiknya yang dititipkan tadi.
"Oh, apa yang mau kakak lakukan?" tanya Gempi.
"Kakak, kenapa? Kenapa tiba - tiba terkejut?" Sentuh Gempi pada bahu Gema.
"Gawat!" ujar Gema.
"Gawat kenapa, Kak?" tanya Gempi dan merebut hape Susi tapi isi hape itu sudah tidak berisikan apa - apa.
"Gempi, kita harus pulang. Sepertinya Mama sudah membuka laptopnya dan melihat isi yang aku cari. Ayo kita pulang sekarang!" Gema lupa menyembunyikan filenya yang ada di laptop Ibunya itu.
"Oke, sebentar, Kak. Aku mau panggil Tante dulu," ucap Gempi mengalihkan matanya ke Susi yang sedang menjabat tangan si penjual. Yang artinya, Susi berhasil membeli satu piano, dan tinggal diangkut dan dikirim ke rumah.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku pergi ke motor, kau cepatlah suruh Tante pulang," kata Gema berlari ke motor Susi. Gempi mengangguk paham, ia segera mendekati Susi.
"Tante! Tante! Tante!" panggil Gempi menarik-narik tangan Susi.
"Hmm, ada apa, Gempi?" tanya Susi sambil memberi kartu debit milik si kembar.
"Tante, Gempi mau pulang, kita pulang yuk!" rengek Gempi.
"Ya udah, kita pulang, tapi gimana kalau singgah beli makanan untuk Ibumu?"
"Tidak usah, Tante. Mama pasti sudah masak di rumah, Gempi mau cepat - cepat pulang makan bersama Mama." Gempi terus merengek manja. Tingkahnya yang imut itu membuat si penjual sedikit gemas melihatnya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak. Terima kasih atas waktunya yang sudah sabar menemani kami, permisi." Susi pun menggandeng Gempi keluar. Ia pun duduk di depan Gema yang duduk di belakang, sedangkan Gempi berdiri di depan Susi. Motor Mio itupun melaju pergi.
Sesampainya di rumah, pintu tidak terkunci dan tidak ada tanda - tanda keberadaan Chia. Bahkan di semua kamar pun tidak ada jejaknya. Semua tersusun rapih dan bersih.
"Tante, Mama kami kemana?" tanya Gempi dan Gema cemas tidak melihat Ibunya.
.
Maaf ya kalau covernya Gonta ganti😅😂🙏maklum author kadang gabut dan perlu hiburan untuk nulis lanjutan cerita ini.
__ADS_1