Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
31. BAB 31 ll Selamatkan Mama!


__ADS_3

"Dan karena itulah, kau tetap diam di sana dan jangan ikut campur!" kata Gerry memutuskan panggilan itu secara paksa.


"Aihhh, bodoh!" gerutu Edgar segera meninggalkan tempat duduk. Bertindak tanpa harus katakan lagi pada Gerry.


"Om, mau kemana?" tanya Samuel.


"Ke suatu tempat di mana aku bisa menemukan penawar racun." Edgar memesan tiket penerbangan, ingin mencari seseorang yang ahli membuat penawar racun yang ampuh. Sangat disayangkan jika ia kehilangan Gerry secepat itu.


Kini Gerry berjalan menuju ke mobilnya, tapi karena merasa ada yang mengikutinya, ia pun menoleh. Langsung terkejut melihat Gema di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Gerry.


Gema mengeratkan jemarinya lalu mendongak. "Gema mau ikut!"


"Tidak, tetaplah di sini!" tolak Gerry.


"Nggak! Gema tetap ikut!" paksa Gema lari dan masuk ke dalam mobil.


"Berhenti, jangan memaksa! Kau tidak diperbolehkan masuk ke dalam sarang musuh!" larang Gerry menarik Gema keluar dari mobil. Ia ingin langsung ke tempat Robertus. Menyelinap dan menculik istrinya pergi.


"Jangan hentikan Gema, Papa!" ujar Gema spontan mengagetkan pria itu yang kini membulatkan matanya.


"Gema mau selamatkan Mama juga!"


"Anggap saja ini latihan buat Gema juga, Papa."


Gema menunduk, diam - diam mengusap air matanya yang menetes. Hatinya serasa ingin meluap memiliki perasaan bersalah itu.

__ADS_1


"Gema juga minta maaf, Papa." 


"Dan juga Papa jangan sampai mati,"


"Kalau Papa tidak ada, siapa yang akan mengajariku bela diri?"


"Ge-gema mau kuat seperti Papa!"


Gerry tercengang mendengar semua itu. Ia pun tersenyum lalu menepuk bahu kecil Gema.


"Tidak, kau harus melebihi Papa."


Gema mengangguk dan mengusap cepat air matanya sampai kering. "Papa tidak usah khawatir, Gema akan terus belajar!


"Haha, anak baik. Sekarang kau boleh ikut tapi tetap di samping Papa dan dengar instruksi Papa. Jangan lakukan di luar rencana dan jangan sampai melakukan kecerobohan fatal,"


"Baik, Papa!"


"Apa yang mau kalian berdua lakukan?" tanya Davis.


"Kau tidak berniat membawa Gema, kan?" Tatap Davis pada Gerry.


"Om, Gema sama Papa mau pergi selamatkan Mama," kata Gema membuat Davis sedikit kaget pada anak itu yang mendadak mau memanggil Gerry seperti itu. Ada sedikit kekesalan dan mengira Gerry berhasil mencuri perhatian Gema.


"Kalau begitu, aku juga ikut!" Davis menerobos masuk, duduk di kursi tengah.


"Hei, kau tidak diajak! Keluarlah!" usir Gerry.

__ADS_1


"Kau hanya akan menjadi beban ku!" tambahnya protes.


"Yaelah, jalan saja! Aku ikut juga pasti ada fungsinya!" sewot Davis kesal ditatap sombong begitu.


"Hm, baiklah. Kalau dipikir-pikir kau memang perlu ikut jadi umpan pancingan," cibir Gerry.


"Ck, terserah! Yang jelas aku akan lakukan apapun demi menyelamatkannya. Tidak sepertimu! Sudah dipakai langsung dibuang tanpa menghargainya," kata Davis berpaling acuh. 


Gema yang di sana pun menepuk jidat melihat dua pria dewasa itu bisa juga cerewet seperti Aletta. Tidak seperti Chia yang sedang dijamu mewah oleh Rion. Tampil dengan cantik menawan.


Nampak Chia duduk di depan banyaknya hidangan lezat. Tapi itu tidak menggiurkan sama sekali dan tetap tidak mempan bagi Chia yang masih duduk tenang dan menatap tidak suka pada Rion yang sedang menikmati hidangan di piringnya.


"Hei, Nona sayang, jika kau tidak makan, kau akan mati lho," kata Rion melirik Chia yang tidak menyentuh sedikitpun makanan di depannya.


"Ck, makan? Kau pikir dengan kedua tanganku diikat seperti ini, aku bisa makan? Kau bodoh atau memang idiot?" cibir Chia tidak segan - segan. Rion melakukan itu agar Chia tidak bergerak leluasa dan bertindak yang dapat membahayakan dirinya.


Rion pun menggenggam erat sendok dan garpu di tangannya. Idiot, satu kata yang amat menyakitkan. Tapi ia pun tersenyum kecut dan membalas Chia lebih kejam.


"Aku merasa kau itu yang idiot, bukan kah kau bisa makan dengan mulut mu itu? Oh atau aku kasih rekaman bagaimana anjing kesayangan ku makan?" cecar Rion. Chia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, emosinya mendidih dianggap setara dengan binatang.


"Tidak peduli kau menghinaku, tapi aku yakin tidak lama lagi suamiku yang tampan dan gagah perkasa akan datang melibas mulut mu itu." Menghina dengan emosi yang kembali normal.


Kali ini Rion yang emosinya terbakar. Kata -Suami- hanya ia yang boleh memperolehnya. Chia tersenyum menyeringai, senang juga melihat pria di depannya termakan ucapannya. 


Benar saja, saat ini anak dan ayah itu sudah sampai di tempat yang dikelilingi begitu banyak gangster - gangster yang tidak dapat dihitung dengan jari. Terlihat sangar dan begitu diandalkan menjaga keamanan tempat itu, membuat seluruh tubuh Davis mati kaku. Presdir yang hanya tahu soal bisnis itu tidak menyangka bisa mendatangi langsung kematiannya sendiri. Mau menyesal sudah terlanjur datang.


.

__ADS_1


Sabar Rion, nanti juga ada giliran mu ketemu sama Gerry🤭kita lihat siapa yang cocok jadi suaminya Chia. Eh tapi hati - hati, ada Gema yang bisa menyusup culik Ibunya🤭sayangnya Gempi tidak ikut ya. Anak manis emang di rumah aja😁hihi


Duuh, jangan sampai mokad kau ya Davis🤣wkwk


__ADS_2