Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
43. BAB 43 ll Mau Lihat Papa!


__ADS_3

Pukul 11 siang, nampak hari ini Chia duduk sendirian di kantin kantor. Ia seminggu ini sudah resmi bekerja di perusahaan Davis sebagai ketua tim desainer. Rekan - rekan Chia pun juga makan siang bersama kecuali Chia yang tidak bergabung. Bahkan terlihat Chia tidak menyentuh sedikitpun hidangan lezat di atas nampannya itu.


"Huftt." Dan menghembus nafas berat sekali-kali.


"Hai, Chia! Ternyata kau ada di sini toh." Susi datang dan duduk di sebelahnya. Susi tidak bekerja di tempat itu, kedatangannya ingin mengajak Chia segera menjembut Gema dan Gempi yang dua hari ini telah masuk ke sekolah dasar. Sekolah yang memiliki siswa elit dari keluarga kaya raya. Tidak tertinggal, Samuel dan twins Ed juga satu sekolah dengan Gema dan Gempi.


"Lho, kenapa kau tidak menghabiskan makan siang mu?" tanya Susi menepuk pundak Chia.


"Makanan yang ada di sini rasanya hambar ya?" tebak Susi lalu mengambil stick kentang milik Chia dan memakannya.


"Bukan itu," ucap Chia lesu.


"Terus, apa yang membuatmu murung?" tanya Susi bingung melihat raut wajah Chia yang kurang fresh.


"Sudah seminggu lewat, keadaannya masih begitu, dan tidak ada tanda-tanda keberhasilan penawar yang dibawa oleh Tuan Edgar, cairan itu serasa tidak mempan pada racunnya. Aku sedih, Susi," kata Chia yang terus memikirkan suaminya.


"Apalagi, tinggal tiga hari, Gema dan Gempi berulang tahun. Aku berharap dia cepat sadar dan bisa ikut merayakan ulang tahun anak - anaknya." Chia menatap Susi lalu melihat nasi di depannya.


Chia merasa putus asa sebab kalau Gerry tidak sadar-sadar juga. Ia takut, Rion akan berulah lagi. Ditambah situasi ini sangat menguntungkannya untuk melakukan rencana jahatnya pada dirinya atau pada Gempi dan terutama pada Gema yang mengambil alih kekuasaan Hexion.


Seketika hapenya berbunyi. Sebuah alarm pengingat menyadarkan Chia. Wanita muda itu pun berdiri dan mengambil tas mininya.


"Susi, sekarang waktunya jemput Gema dan Gempi, kau mau ikut, nggak?" tanya Chia.


"Tentu saja mau dong." Susi beranjak dari tempat duduknya. Saat mau keluar dari kantin, tiba - tiba saja di depan pintu sudah ada Davis.


"Wah kebetulan ada Davis, bagaimana kalau kita jemput Gema dan Gempi pakai mobilnya Davis, Chia?" ucap Susi melihat Davis.


"Tidak usah deh, Davis mungkin hari ini sibuk" tolak Chia menatap Davis yang sedikit tersentak.


"Ehhh, tidak sibuk kok. Hari tidak ada jadwal penting, jadi biarkan saja aku mengantar kalian. Kebetulan juga, aku mau keluar sebentar membeli sesuatu," kata Davis cepat sebelum Chia pergi dan hanya alasan saja.


"Serius nih tidak apa-apa?" Tanya Chia.


"Tidak apa-apa, aku tidak sibuk sekarang jadi ada waktu bersantai hari ini." Davis sedikit tertawa kikuk.

__ADS_1


"Yeah, hemat ongkos taksi, hehehe," ucap Susi melihat isi dompetnya yang cuma berisi gopek.


Chia tertawa kecil lalu berjalan duluan. Susi dan Davis pun juga berjalan di sebelahnya menuju ke lift. 


Tiba di sekolah elit si kembar, wali kelas Gema dan Gempi mengatakan dua anak itu dibawa pergi oleh seseorang.


"Si-siapa yang membawa mereka, Bu?" tanya Susi dan melirik Chia yang gelisah di sebelah Davis. Wali kelas itu menjawab jika yang datang adalah ayah mereka dan dibawa ke rumah kediaman keluarga Cano.


"Baiklah, terima kasih informasinya, Bu." Susi, Chia dan Davis pun buru-buru pergi ke kediaman Cano. Ingin segera melihat siapa yang dimaksud wali kelas si kembar. Apakah itu Gerry yang sudah siuman? Atau ayah mereka yang dimaksud itu ayah dari twins Ed yang datang menjemput anak - anaknya? Sehingga mungkin saja Gema dan Gempi diajak pulang bersama.


"Benar, kalau dia sudah siuman, pasti aku yang pertama kali dikasih tahu oleh profesor!" gumam Chia yang duduk di sebelah Susi dan tidak sadar Davis diam-diam sedang meliriknya lewat kaca spion mobil di depannya. 


'Apa dia begitu khawatir pada suaminya sampai membuat raut wajah seperti itu?' batin Davis sedikit cemburu. Ingin juga dikhawatirkan tapi ia tidak punya kekasih.


Setibanya di rumah kediaman Cano, benar saja si kembar ada di sana. Sedang berkumpul bersama Samuel dan juga si kembar Ed yang diawasi oleh Ibu mereka sendiri.


"Mama!" pekik Gempi berlari ria ke arah Ibunya yang memasuki halaman rumah.


"Mama, lihat! Gempi bisa bikin burung kertas, cantik kan, Mama?" Senyum Gempi melompat-lompat dan menunjukkan buatannya. Chia balas tersenyum dan mengelus pipi gembul Gempi lalu melihat Gema yang berjalan santai.


"Kata Ibu wali kelas, itu adalah ayah kalian, apa itu benar?" tanya Davis penasaran juga.


"Bukan! Yang jemput kita itu Papa kami," sahut twins Ed datang bersama Samuel lalu disusul istri kesayangan Edgar juga keluar menghampiri Chia.


Chia yang berhadapan dengannya langsung tersenyum ramah. "Terima kasih sudah memperhatikan anak - anak saya, nyonya," ucap Chia sopan dan sedikit kecewa bukan Gerry yang dimaksud Ibu guru.


Istri Edgar balas tersenyum manis dan berkata, "Panggil Keylin, tidak perlu seperti itu, Nona Chia." 


Chia sedikit tertegun mengetahui wanita itu tahu namanya membuat Chia langsung gugup dan tidak enak. Walau seumuran, tapi Chia merasa latar belakangnya tidak begitu hebat seperti wanita di depannya yang merupakan anak dari Mafia juga. Tidak sepertinya yang lahir dari keluarga biasa. 


Tapi di mata Keylin, wanita itu sama sepertinya dan mudah berteman dengan siapa yang dia inginkan.


"Oh ya, Mama sudah makan?" tanya Gema.


"Sudah, sayang. Sekarang ayo kita pulang," ajak Chia meraih tangan kecil Gema dan Gempi. Namun tiba - tiba Samuel dan twins Ed maju.

__ADS_1


"Tante, tinggal sebental di sini dulu. Main sama kita," ucap Samuel di sebelah dua adiknya itu.


"Ya, Mama! Kita pulang nanti sore saja, Gempi masih mau di sini main sama Tante Celin." Gempi menunjuk Keylin.


"Ehem, apa kami berdua tidak diajak nih?" Deham Susi dan melirik Davis yang terkejut ditunjuk adiknya itu.


"Boleh saja, Tante! Tapi tidak untuk sama Om ini," ucap twins Ed menunjuk Davis.


"Lho, kenapa?" tanya Susi.


"Kami tidak mau nanti Mama diculik sama Om ini," kata twins Ed menatap sinis Davis.


Chia, Susi, Gempi, Keylin dan Samuel sedikit tertawa. Sedangkan Gema juga tertawa tapi hanya di dalam hati. Melihat ekspresi Davis yang kesal itu membuat suasana hati Chia sedikit terhibur.


'Ck, memangnya wajah tampan aku ini seperti pebinor ya?' decak Davis dalam hati. Sedikit menyesal datang ke rumah itu.


"Maaf, tolong jangan dimasukkan ke hati. Anak - anak memang suka bicara begitu," ucap Keylin tahu kedua anak kembarnya suka menyinggung orang.


"Ya, saya bisa memakluminya, Nyonya Keylin," ucap Davis tersenyum paksa.


Sontak, pergantian mereka teralih saat Edgar keluar dari rumah dengan terburu-buru.


"Sayang, mau kemana kau?" tanya Keylin.


Edgar menjawab sambil melihat Chia. "Aku mendapat kabar dari profesor kalau Gerry sudah siuman,"


DeG.


Chia pun melihat isi hapenya dan ternyata ada sebuah pesan singkat dari Profesor yang mengabarkan kondisi suaminya.


"Mama! Gempi tidak jadi main sampai sore, Gempi mau lihat Papa. Ayo kita lihat Papa, Mama!" rengek Gempi memeluk - meluk Ibunya yang terdiam itu.


"Jika kau mau ke sana, naiklah ke mobilku. Aku akan mengantar kalian ke sana sekarang juga," ucap Edgar pada Chia.


.

__ADS_1


Semoga cabe ijo tidak ada di sana🤭


__ADS_2