Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
29. BAB 29 ll Mendadak Sakit


__ADS_3

"Gempi, ayo pergi dari sini! Kita ke rumah Tante Susi! Orang itu jahat tapi Papa lebih jahat! Dia mau merebut kita dari Mama!" Gema segera lewat dari jendela samping sebelum pintu rumah itu dirusak. Gema merasa Aletta adalah istri lain ayahnya yang menginginkan anak dengan memanfaatkan Ibunya. Merasa Ibunya dianggap hanyalah seorang wanita tidak bernilai dan itu membuat Gema teramat benci pada Gerry.


Kebenciannya itu pun berhasil merusak dan mengacaukan data-data markas Hexion. Membuat Gerry yang sedang berada di laboratoriumnya segera mengambil alih sebelum data-data rahasianya bocor ke tangan musuh.


Setelah semua terkendali, tiba - tiba sesuatu menetes dari hidung Gerry. Tetesan darah turun dari hidung mancungnya itu dan perlahan membuat penglihatannya kabur.


BOS!


Semua bawahannya terkejut melihat Gerry terkapar pingsan. Lagi-lagi sel syaraf pada otaknya diserang. Seorang profesor ilmuan segera memapah Gerry membawa ke atas brankar dan memberinya suntikan berisi cairan kekebalan tubuh meskipun itu tidak seberapa mempan menghentikan racun yang susah menggerogoti tubuhnya. Walau begitu, ia terus berupaya mencari penawar dan tidak peduli pada efek samping yang akan berdampak pada tubuhnya juga. Karena itulah mengapa Gerry lebih sering tinggal di markasnya.


Sedangkan Chia, wanita cantik ini sedang berjalan sendirian sambil membawa laptopnya dari rumah Susi. Ia merasa lega benda itu tidak diambil tapi Chia juga merasa heran mengapa isi rumah Susi acak-acakan. 


"Sudahlah, aku ke kantor Davis sebentar, memberikan sekalian berkas pengakuanku padanya," ucap Chia mau ke perusahaan Davis namun seketika seseorang menepuk bahunya.


"Hey, Nona! Kau menjatuhkan hapemu," panggil orang itu memberikannya pada Chia yang langsung bengong.


"Te-terima kasih," ucap Chia tersenyum kaku dan merasa laki-laki di depannya agak familiar.


"Omong-omong, apa kita pernah bertemu?" tanya Chia pada laki - laki itu yang seumuran dengan Gerry. Pria itu tersenyum sangat manis dan menjawab, "Tentu saja, aku adalah penyebab ayahmu meninggal, Nona." Seluruh tubuh Chia terguncang hebat mendengar pengakuannya itu.


"Akhhh!" pekik Chia terkejut disumbat mulutnya dari belakang oleh seseorang membuatnya pingsan setelah menghirup cairan bius dari kain yang menyumbatnya itu. Chia pun dibawa pergi, namun sebelum diseret masuk ke dalam mobil, hapenya tidak sengaja terjatuh di tepi jalan.


"Chiaa!" teriak Gerry akhirnya sadar setelah pingsan dua jam. Ia melihat profesor masih setia duduk dan menunggunya. 


"Tuan Gerry, bagaimana perasaan anda?" tanya profesor itu.


"Sial, aku harus pulang, perasaanku tidak baik - baik sekarang," ucap Gerry turun dari brankar, mencabut sendiri selang-selang infus di tangannya.


"Jangan terlalu memaksakan diri, anda barusaja siuman, Tuan Gerry," tahan profesornya.


"Tidak, aku tidak bisa lama-lama di sini."

__ADS_1


"Kenapa? Apa yang membuatmu khawatir, Tuan Gerry?" tanya profesor itu.


"Aku khawatir anak - anak dan istriku di rumah, Prof," jawab Gerry memakai jas hitamnya. Profesor itu mangut - mangut, dan mengerti saja. Ia pun membiarkan bos Hexion itu pergi.


Sampai di rumah, Gerry heran melihat pintunya rusak dan lebih herannya lagi ada Ibu tirinya.


"Aletta? Ngapain kau di sini?" tanya Gerry melihat Bik Odah juga. Aletta berdiri, menjawab panik.


"Gerry! Aku datang ingin membawa anak-anakmu, mereka kan juga cucu-cucuku, tapi yang kudapatkan di rumah ini kosong! Istrimu sudah membawa kabur anak-anakmu dan sudah tidak kembali ke sini!" kata Aletta ngasal saja.


"Apa?" Kaget Gerry pun segera berlari ke arah ruang khususnya. Ia pun tambah terkejut melihat benda-bendanya seperti habis dipakai orang lain. Mata Gerry membulat, menyadari penyamarannya sudah terbongkar dan beranggapan Chia melarikan diri padanya.


"Gerry! Kau baik - baik saja, kan?" tanya Aletta kaget melihat keseimbangan Gerry goyah. Bukan karena terkejut, tapi rasa paniknya membuat kondisi tubuhnya lagi-lagi diserang. Tapi itu tidak penting dulu, Gerry dengan kemampuan pencariannya segera melacak lokasi Chia. Setelah menemukan di mana hape istrinya berada, Gerry mengarahkan semua bawahannya mencari petunjuk di area itu.


"Gerry! Kau mau kemana?" Tahan Aletta yang melihat Gerry mau pergi lagi.


"Jangan ganggu aku dulu!" bentak Gerry segera meninggalkan rumahnya setelah menghapus semua akses di ruangan khususnya itu. 


Tujuan Gerry langsung ke tempat anak-anaknya berada. Lewat dari firasat batinnya, ia merasa dua anaknya bisa saja ada di sana dan itu benar, Gema dan Gempi cepat - cepat masuk ke dalam rumah ketika melihat mobil ayahnya terparkir.


"Gema, Gempi, siapa yang datang? Apa itu Ibu kalian?" tanya Susi yang mau ke rumah Chia membawa piano si kembar tapi mendadak anak-anak itu sudah ada di depan pintu tadi.


"Tante, jangan buka pintunya! Orang itu Papa kita! Dia jahat!" kata Gempi dan Gema.


"Jahat? Siapa yang kalian maksud?" tanya Davis datang dari dapur dan memang tidak sengaja berpapasan dengan si kembar di jalan tadi sehingga pulang bersama - sama.


"Om, jangan buka pintunya!" larang Gema dan Gempi, tapi rasa penasaran Davis sangat tinggi. Ia membuka pintu yang diketuk-ketuk terus itu. Seketika saja, sebuah tangan mencengkram kerahnya dan tatapan intimidasi yang tajam.


"Serahkan anak-anakku dan istriku," kata Gerry dengan nada tinggi dan tegas.


"Tidak! Gema dan Gempi tidak mau ikut!" ujar si kembar muncul di samping pintu dan marah pada Gerry yang sudah tidak memakai penyamaran. Sedangkan Susi terperangah melihat ayah si kembar adalah Mafia.

__ADS_1


'Eh buset, katanya suami Chia tua keladi, ini mah ganteng banget!' batin Susi agak senang dapat melihat langsung ayah si kembar dari dekat. Beda lagi sama Davis yang menepis Gerry.


"Istrimu tidak ada padaku, dan kau sudah dengar, kan? Anak-anakmu tidak membutuhkanmu, jadi pergilah dari sini!" usir Davis berusaha tenang walau dalam hatinya panik dan juga takut berurusan sama Gerry yang orangnya suka main brutal. Terkenal tidak segan-segan pada orang lain.


Dengan nafas terengah-engah, Gerry sekali lagi meminta. "Mereka tidak membutuhkan aku, tapi aku adalah ayah —"


BRUK!


Gema dan Gempi terkejut melihat Gerry jatuh pingsan.


"Papa!" pekik Gempi panik melihat darah menetes dari hidung pria itu. Gema yang panik hanya terdiam, syok sampai tidak bisa menggerakkan tubuhnya melihat ayahnya sungguh mimisan.


"Davis! Jangan diam saja, cepat bawa dia ke dalam!" pinta Susi sambil menelpon Dokter. Mau tidak mau, Davis membawa Gerry masuk, merebahkannya ke atas sofa. Tapi itu semua percuma, racun dari musuhnya yang tiga tahun sudah menggerogoti Gerry tidak bisa diketahui Dokter biasa.


"Om, Papa kita kenapa?" tanya Gempi tidak habis pikir ayahnya mendadak sakit. Padahal kemarin baik-baik saja. Davis membelai kepala Gempi, gadis kecil yang nampak mau menangis, sedangkan Gema malah lari ke kamarnya. Ia benci dengan perasaannya yang khawatir pada ayahnya juga. Sementara Chia disekap lagi di sebuah ruangan yang beda. Matanya merah membara. Ia diikat dan duduk berhadapan dengan pria berandalan yang mengaku penyebab ayahnya bunuh diri.


"Siapa kau sebenarnya, sialan?!" tanya Chia membentak.


Pria itu menyinggung senyum licik di bibirnya dan berbisik. "Rionald Robertus, calon suamimu, nona sayang."


Ciuh!


Chia meludah, ingin muntah mendengarnya dan itu membuat pria itu cukup kesal bajunya diludahi. Akhirnya, tanpa ampun, Chia menerima cengkeraman menyakitkan lagi pada rahangnya dari tangan pria itu.


"Sepertinya aku perlu menjinakkan lidahmu ini, oh atau aku potong saja?" Tatap Rion menyeringai. Tuan muda gila berkepribadian psikopat dan sudah lama mencari-carinya.


"Aku tidak takut padamu!" ujar Chia kesal juga dibelai-belai kepalanya oleh tangan pria itu. Merasa lebih menjijikan dari perlakuan bos Hexion padanya.


.


Ayo Gema, kerjasama lah dengan Papamu😼 dan berantas musuh Ibumu, wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2