Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
50. BAB 50 ll Gempi Bukan Pempi


__ADS_3

Beda lagi sama Gema yang tetap bermuka datar sambil membangunkan Ibunya yang nampak masih tidur di kasurnya.


"Mama…." bisik Gema berdiri di sisi ranjang dan mendekati telinga Ibunya. Hanya satu kali dipanggil, Chia perlahan bangun. Ia mengerjabkan matanya lalu menoleh ke samping.


"Selamat pagi, Mama," ucap Gema disertai senyumnya.


"Ge-gema…" lirih Chia lalu mengusap singkat.


"Mama tidurnya pasti nyenyak sampai tidak sadar Papa sedang ada di dapur,"ucap Gema sambil menunjuk jam dinding yang menandakan Ibunya juga telat masuk kerja.


"ASTAGA!" Chia membeliak dan langsung bangkit dari kasur. Segera berdiri di depan cermin lalu memperbaiki rambutnya yang berantakan kemudian melihat Gema. Sontak, Chia memeluknya dengan erat.


"Syukurlah, kalian berdua pulang dengan selamat. Mama kemarin khawatir banget, sayang. Sampai Mama ketiduran menunggu kalian."


"Terima kasih, Mama." Gema balas memeluk Ibunya.


"Oh ya, tadi Gema bicara apa? Dan di mana Gempi?" tanya Chia.


"Di dapur, Gempi dan Papa lagi bikin sarapan, Mama." Gema menjawab sejujurnya.


"A-apa? Gempi dan Papa ada di dapur?" Kaget Chia terbata-bata.


"Ehh, memangnya Mama tidak tahu ya Papa sudah bangun?" tanya Gema heran.


"Tidak, sayang. Papa kalian sudah bangun kemarin, cuma —" putus Chia terlihat panik.


"Cuma kenapa, Mama?" tanya Gema tambah heran melihat Ibunya memeluk dirinya sendiri. Chia nampak memikirkan apakah kemarin itu Gerry tidur sekamar dengannya atau di luar kamar? Tapi melihat bajunya yang masih utuh, tampaknya Gerry tidak pernah masuk ke kamar dan menyentuhnya.


'Tampaknya dia memang amnesia dan pergi masak karena lapar,' batin Chia lega.


"Mama! Mama! Mama, lagi mikir apa sampai tidak menjawab Gema?" tanya Gema memanggil Ibunya yang melamun.

__ADS_1


"Ehh, maaf, sayang. Mama tadi mikir bagaimana misi kalian?" 


"Oh itu, misi kami berhasil Mama." Gema menjawab bangga lalu pikirannya pun teralih pada Agnes. Ia ingin katakan pada Ibunya ada wanita jahat yang nyaris membunuh mereka, tapi Gema lebih memilih diam daripada nanti Ibunya khawatir.


'Sebaiknya, aku cari sendiri saja identitas wanita itu.' Batin Gema menyeringai kecil lalu meraih tangan Ibunya.


"Mama, ayo turun sarapan." Ajak Gema.


"Okeh, sayang. Tunggu Mama cuci muka dulu ya."


"Baik, Mama." Gema mengangguk dan duduk kembali menunggu Ibunya keluar dari kamar mandi.


"Papa! Papa! Gendong!" pinta Gempi yang sedang merengek lagi.


"Gendong? Pempi mau apa?" tanya Gerry yang memegang sendok wajang.


"Hmp, Gempi mau lihat hamburgernya, Papa." Gempi menunjuk kompor dan sudah tidak peduli panggilan Gerry yang salah.


Daripada anak itu berisik terus, terpaksa Gerry menggendongnya.


"Woahh, dagingnya sudah matang dan bumbunya wangi. Papa memang hebat," ujar Gempi tersenyum lalu mengernyit melihat Gerry diam.


"Gempi berat ya, Papa?" tanya Gempi.


"Ti-dak, Pa-pa sedang mikir sesuatu," ucap Gerry sambil memandangi daging hamburgernya.


"Mikir apa, Papa?" tanya Gempi yang juga memandangi wajah tampan ayahnya sambil menyentuh dagu Gerry.


"Itu, Pa-pa dulu bekerja sebagai apa ya?" tanya Gerry juga menyentuh dagunya yang ditoel-toel Gempi.


"Hihihi, Papa itu suka tembak-tembak dan Papa adalah seorang Mafi —"

__ADS_1


"GEMPI!" ujar Chia datang sebelum kalimat anaknya itu selesai. Tapi teriakannya membuat Gempi dan Gerry terkejut dan segera menoleh. Chia tidak mau, Gerry memikirkan hal yang berat dulu.


"Woah, selamat pagi, Mama." Gempi menyambut Ibunya dengan senyuman manisnya dan Gerry berdiri canggung di hadapan Chia yang grogi juga. Sementara Gema sudah duduk di kursi dan menguyah nasi gerong di piringnya.


"Mama, Papa, jangan diam begitu, lihat hamburgernya mau hangus," ucap Gema menunjuk kompor.


"Ahhh, Papa! Hamburgernya! Selamatkan hamburgernya, Papa." Gempi panik dan begitupula Gerry.


"Mama, sini duduk." Gema menepuk kursi di sebelahnya. Chia pun duduk sambil melihat Gerry sudah terbiasa mengulas senyumnya pada Gempi sehingga ia pun tidak sadar sedang tersenyum juga dan hanya Gema yang menyadari Ibunya sibuk memperhatikan sang ayah. Orang tua yang memiliki kehidupan pahit yang sama-sama tumbuh tanpa sosok Ibu di sampingnya dan melalui nasib yang kejam.


"Kasihan Papa dan Mama, pasti selama ini kurang merasakan kasih sayang." Gema bergumam dalam hati dan menyeka air matanya yang mau turun lagi. "Mulai sekarang, Papa dan Mama tidak boleh berpisah lagi. Gema janji, tidak akan biarkan orang lain jahat sama Mama dan Papa."


.


Sementara di rumah lain, terlihat Aletta menuruni anak tangga sambil menyeret kopernya.


"Selamat pagi, Nyonya. Anda mau kemana tiba-tiba membawa koper?" tanya Bik Odah heran.


"Ke rumah mereka. Diam di sini membuatku tidak tenang jika aku tidak melihat Gerry."


"Mak-maksudnya, Nyonya mau ke rumah Tuan Gerry?" tanya Bik Odah lagi.


"Benar, aku merasa ini tidak adil bagiku! Aku juga punya tanggung jawab merawat Gerry! Bukan cuma wanita rendahan sepertinya." Aletta mendecak. Kesal mendapat laporan jika Gerry dibawa pulang dan dirawat oleh Chia. Padahal Aletta sudah menyiapkan beberapa perangkap di rumahnya untuk memberi pelajaran pada Chia, tapi rencananya gagal.


"Ck, sekarang kau bantu aku bawa koper ini. Kalau wanita itu sampai mengusirku, awas saja, aku akan bakar rumah itu dan membawa paksa Gerry pulang bersamaku. Hanya aku lah tempat Gerry pulang dan cuman aku yang tahu segala masa lalunya."


.


Cabe ijo gigih juga😁tapi apakah itu akan berhasil? wkwk


Gempi blike: Tidak semua itu, Nenek😎🤭

__ADS_1


__ADS_2