Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
7. BAB 7 II Anak Orang


__ADS_3

"Ger, bagaimana kalau beli ini? Sepertinya ini lebih cocok dipakai oleh kita. Terlihat serasi," ucap Aletta menunjuk satu gaun yang berpasangan dengan setelan laki - laki dewasa. Tapi Gerry menepisnya, menolak tanpa bersuara.


Seketika mata Gempi melebar. Tatapannya menangkap wajah pria itu yang mirip dengan Gema. "Wow, om tampan ini siapa? Kenapa wajahnya lumayan mirip sama Gema? Apakah dia dari masa depan yang datang dengan bantuan alat Doraemon? Dan Tante itu pacarnya Gema?" Gempi tertawa sendiri membayangkan kartun favoritnya nyata. Tapi jika dipikir - pikir, mungkin saja bisa membantunya ke masa lalu dan menemukan identitas ayah kandungnya.


Tiba - tiba, daun telinganya dijewer. "Akhhh, sakit." Gempi menoleh dan mendesah kesakitan.


"Kenapa kamu ada di sini, Gempi? Siapa yang kamu hindari? tanya Gema yang berhasil menemukannya. Gempi keluar kemudian menunjuk. "Tadi aku melihat Kakak ada di sana, lho!" ujar Gempi. Gema mengarahkan pandangannya, keningnya pun mengernyit heran. "Aku di sana? Mana? Tidak ada orang tuh!" sebel Gema. 


"Ehh, kemana om itu?" gumam Gempi.


"Ayok, kita ke Mama. Jangan buat mereka cemas." Gema memegang tangan adiknya namun Gempi menghempaskannya.


"Gempi!" pekik Gema melihat adiknya kabur. Tampak sedang mengejar sesuatu. "Aihh, tunggu Gempi!" Terpaksa Gema mengajar sang adik yang begitu aktif berkeliaran, tidak sepertinya ingin cepat - cepat pulang kemudian tidur cantik dan minum susu coklat. 


"Lho, Susi! Mana Gema?" tanya Chia melihat sahabatnya itu tidak bersama Gema.


"Astaga, kemana dia?" Kaget Susi baru sadar jalan sendirian.


"Alamak, kau ini memang dari dulu tidak berubah, selalu kehilangan sesuatu yang membuatku cemas. Sekarang kita sama - sama mencari mereka." Chia dan Susi kembali mencari, tak lupa meminta bantuan ke karyawan toko.


Duakkk!


"Akkhh, Mama!" jerit Gempi. Saking cepatnya berlari dan tidak fokus melihat ke depan, ia tersungkur ke belakang setelah menabrak seseorang. Seketika terdiam kala seseorang mengulurkan satu tangannya.


"Hei, Nak. Kau baik - baik saja?"

__ADS_1


Gempi menatap ke atas, kedua mata bulatnya itu bertatapan dengan pria yang dia cari. Tatapan yang datar namun terlihat lembut.


"Ger, ayo kita pulang. Tidak usah memperdulikan anak ini." Aletta merengek manja di depan Gempi. Gerry berlutut di depan Gempi, membuat Aletta syok melihatnya bertindak serendah itu di depan seorang anak.


"Gerry! Berdiri!" ujar Aletta tidak suka melihat Gerry membantu Gempi berdiri. Terlihat cemburu pada anak lima tahun itu.


"Maaf, tadi om tidak melihatmu, apa ada yang sakit?" tanya Gerry. Gempi segera menggeleng dan tersenyum kecil.


"Ayo, Gerry! Kita pulang, nanti kita terlambat hadiri pestanya dan jangan mengurusi anak orang." Aletta menarik paksa Gerry keluar dari toko itu.


"Ck, kau ini memang wanita yang merepotkan." Gerry melepaskan Aletta, berjalan acuh dan mengabaikan Aletta yang menghentak - hentakan kedua kakinya.


"Pftt, kasihan." Gempi menahan tawa.


"Apa kau bilang?" Aletta melotot marah.


"Gerry! Tunggu aku!" Aletta pun juga mengejar Gerry. Kalau saja masih ada waktu bebas, sudah pasti ia akan menculik anak perempuan itu kemudian mengurungnya ke dalam gudang tua. Membiarkannya mati membusuk sudah mencuri perhatian anak tirinya.


"Gempi! Mau kemana lagi kau?" Gema berhasil mendapati adiknya. Dipegangnya erat - erat supaya tidak berkeliaran lagi.


"Kakak, aku dapat sesuatu!" ucap Gempi berhasil memastikan pria yang dicurigainya bukan Gema.


"Sesuatu apa?" tanya Chia dan Susi datang.


"Heheh… Mama." Gempi dan Gema mundur ke belakang melihat dua wanita dewasa itu sudah siap menerkamnya.

__ADS_1


"Ahhh, Mama. Tadi Gempi lihat baju di sana, harganya murah dan kainnya lembut. Beli yang itu, Mama." Gempi menunjuk sepasang baju di atas lemari. Gema pun mengangkat sebelah alisnya. Merasa adiknya sedang menyembunyikan sesuatu yang ingin dikatakan untuknya nanti.


"Oke, Mama beli yang itu, tapi mulai sekarang kalian berdua jangan kemana - mana lagi. Kalau sampai kalian berdua menjauh dari Mama atau Tante Susi, besok kita kembali ke London."


Dua anak kembar itu terkejut dan langsung memeluk Ibunya. "Jangan dong, Mama. Gema dan Gempi mulai sekarang jadi anak yang patuh."


Susi menahan tawa melihat kedua anak itu. "Pfft, aku penasaran siapa ayah dari anak - anakmu ini, Chia." 


Deg.


Chia menatap Susi kemudian menghembuskan nafas kasar. "Tidak perlu kau tahu, pria itu sudah lama meninggal. Sekarang kita pulang dan bersiap ke pesta malam nanti." Chia menggandeng tangan Gema, sedangkan Susi menggendong si kecil Gempi di pundaknya.


Mendengar ucapan Ibunya, Gema mengepal tangan. Ia marah, masih memendam amarah yang besar. Sedangkan Gempi tersenyum aneh.


Sampai di rumah, Susi dan Chia sudah selesai mendandani kedua anak itu, tinggal memesan taksi. Setelah tiba di lokasi pesta yang meriah dan megah itu, kedua anak kembar Chia pun dituntun ke atas aula. Semua yang hadir terlihat memperhatikan Gema dan Gempi, sepasang anak kembar pianis yang spektakuler malam ini. Mereka juga sangat penasaran siapa orang tua yang melahirkan dua anak menggemaskan dan berbakat dapat menciptakan alunan piano yang menakjubkan.


Sedangkan Chia dan Susi duduk di belakang aula. Mereka terlihat mengkhawatirkan penampilan kedua anak itu. Tapi Chia berharap anak kembarnya dapat tampil maksimal di depan banyaknya tamu pesta. Apalagi anaknya hadir di pesta anak kembar dari pria yang sangat berpengaruh di kota. 


Benar saja, Gema dan Gempi sedang gugup, kedua tangannya basah. Keringat seakan-akan perlahan membanjiri seluruh tubuhnya. Sebelum jari - jari mungilnya memainkan piano di depan mereka, tiba - tiba, pandangan Gempi menatap ke arah keluarga besar yang memasuki aula perayaan. Diantara mereka ada dua orang yang dikenal Gempi.


"Gempi, siapa yang kamu lihat?" Gema yang duduk di sebelah adiknya, ia berbisik. Gempi pun diam - diam menunjuk. "Coba lihat, di antara mereka, ada yang mirip denganmu, Kakak."


Gema terkejut, segera mengalihkan matanya ke arah telunjuk Gempi. Gema menyipitkan mata, memperhatikan cukup lama satu demi satu orang di sana. Sontak saja, ia hampir terjatuh dari kursinya, untung Gempi secepatnya menahan tangan Gema. "Itu …." Mulut Gema kaku dan memalingkan wajahnya ke arah Gempi yang kini memiringkan senyumnya.


"Kakak, itu orang yang Gempi lihat di toko. Sepertinya dia adalah ayah kita, namanya Gerry, bukan Gema." Walau Gempi hanyalah anak perempuan biasa yang suka berkeliaran, tapi dia juga memiliki insting yang tajam.

__ADS_1


"Kakak, setelah kita pulang dari sini, coba kamu cari siapa laki - laki itu." Gema tersenyum smirk, tentu saja dengan kemampuan IT nya, dia pasti menuruti kemauan sang adik.


__ADS_2