Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
18. BAB 18 II Papa Kalian


__ADS_3

"Oh itu, Mama habis dikejar anjing, haha… jadi tidak sengaja tadi ambil rantai terus ikat anjingnya, eh tangan Mama malah yang terikat, hahaha," jelas Chia berbohong. 


Gema dan Gempi memeluk Ibunya, mereka sadar dari tawa Chia yang dipaksa itu, ada kebohongan dan sesuatu yang menyakitkan.


"Mama, katakan, siapa yang siksa Mama?" tanya Gema dan Gempi mendesak. Chia menatap Gema yang marah dan Gempi yang kecewa melihat Ibunya tidak mau jujur. Tapi melihat Gema, putranya itu memang persis Gerry versi kecil.


Mau tak mau, Chia menjawab ngasal saja. "Papa kalian," ucap Chia tidak bisa mengatakan sedang kecewa pada Susi.


"Papa kita? Mama sudah bertemu Papa?" tanya twinsnya terkejut.


"Ya, tadi Mama ketemu Papa kalian di jalan, tapi waktu Mama mau samperin, ada anjing yang kejar Mama," ucap Chia pandai sekali mengarang.


"Terus apakah Papa kita itu suaminya Mama?" tanya mereka lagi. Chia pun terdiam sejenak. Kemudian ia menggelengkan kepala.


"Bukan, Papa kalian orang yang beda." 


Sekali lagi Gema dan Gempi terkejut.

__ADS_1


"Beda? Berarti, Mama punya dua suami?" tebak mereka kali ini yang membuat Chia melompat kaget.


"Eh, itu salah! Mama cuma menikah sekali," ucap Chia berhasil membuat Gema dan Gempi blank.


"Cuma menikah sekali, tapi ayah kita bukan suami Mama, kalau begitu siapa Papa kita, Mama?" tanya kedua - duanya sulit mencerna perkataan Ibunya.


"Ayah kalian mirip Gema," ucap Chia menunjuk si sulung tampannya itu.


"Jangan - jangan laki - laki yang bernama Gurih itu, Mama?" tebak Gema.


"Itu, laki - laki tua yang mau memberi kita hadiah kemarin! Namanya Gurih Brondong," ucap Gema kemudian terdiam.


"Eh, benar kan, Gempi?" tanya Gema lupa - lupa ingat nama ayahnya sendiri.


"Pftt, ahahaha…. namanya Gerry Salut, eh bukan, namanya Gerry Brandon." Tawa Gempi pecah dan sengaja. Tapi berkat Gema, Chia sedikit tertawa, namun sontak wanita itu menyadari hal aneh. Chia berdiri, berkacak pinggang di depan dua anaknya.


"Gema, Gempi! Jawab Mama, bagaimana kalian bisa tahu nama itu?" tanya Chia mendengkus.

__ADS_1


"Akhh, ampun, Mama. Gema dan Gempi kemarin pakai laptop Mama cari data - data Papa, maafkan kami, Mama. Lain kali tidak akan mengulanginya, suweeer," ucap kedua anak itu memeluk Chia dan bertingkah menggemaskan.


Chia menepuk jidat, tidak habis pikir kelakuan anak - anaknya yang mencari tahu siapa ayah mereka. Ia pun merasa bersalah sudah berburuk sangka pada sahabatnya sendiri.


"Mama, jangan marah ya," mohon Gema dan Gempi. Chia membuang nafas berat kemudian tersenyum. "Tidak kok, tapi ingat, jangan mencari masalah atau menggali lebih dalam data - data pria itu, paham?" Tatap Chia serius, tidak mau hati kedua anaknya sakit mengetahui ayah mereka sudah beristri dan memiliki anak juga, apalagi ayah mereka kejam dan tidak punya hati. Chia sempat mendengar obrolan Gerry dan bawahannya, dan entah kenapa rasanya ada yang sakit di dalam hatinya.


"Paham, Mama!" ujar mereka mengangguk.


"Kita tidak membutuhkan apapun selain Mama!" lanjut mereka melompat ke arah Chia, memeluk Ibunya dengan bahagia sudah mengembalikan senyum matahari mereka.


"Ya udah, kita pulang ke Tante Susi sekarang," ucap Chia bersiap pulang.


"Eh, tidak jadi beli rumah, Mama?" tanya Gempi.


"Oh itu, hehehe… uang Mama belum cukup, sayang. Maaf ya kita harus numpang dulu di rumah Tante Susi, kalau gaji Mama nanti sudah terkumpul, kita beli rumah yang jauh lebih besar dan mewah," ucap Chia masih perlu mengumpulkan uang 500 juta untuk rumah idamannya. Sontak saja, seseorang menyahut di belakangnya.


"Tidak usah. Kalian tinggallah bersamaku." Chia terkejut melihat laki - laki itu datang.

__ADS_1


__ADS_2