Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
38. BAB 38 ll Lubang Pipis


__ADS_3

"Kalau kita masuk lebih dalam, kita bisa tersesat tahu! Aku tidak mau mati konyol di hutan ini! Anak - anak dan suamiku pasti sedang cemas padaku, jadi bawa aku keluar dari sini." Mulutnya memang tidak punya rem. Selalu berkicau di sebelah Gerry. Tapi itu cukup menyenangkan dapat mendengar kicauan sang istri.


"Tau ah! Nyebelin banget sih!" cetus Chia mau pergi tapi ditahan tangannya.


"Mau ke mana kau?" tanya Gerry akhirnya melirik istrinya itu.


"Mau pipis!" jawab Chia tunjuk semak-semak.


"Ha? Pipis? Kau serius? Di situasi ini kau masih ingin pipis?"


"Ya, pipis itu juga kebutuhan manusia. Kalau tidak pipis, bahaya untukku! Jadi kau hadap sana dan jangan berani mengintip!" ucap Chia mendorong Gerry jauh darinya.


"Awas! Kalau kau berani mengintip, aku bakal teriak," katanya sedikit mengancam.


"Oh tidak kok, tapi yakin tidak mau ditemani?" tanya Gerry sedikit menggodanya.


"Kalau kau perempuan sih boleh-boleh saja, tapi kau itu buaya darat!" kata Chia menolak.


"Hai, Nona, berhati-hatilah, di sana bisa saja ada ular yang dapat mematuk lubang pipismu." Ledek Gerry pun berhasil menghentikan Chia yang mau masuk ke semak-semak.

__ADS_1


Ia menoleh dengan wajah ditekuk. "Jangan begitu dong," ucap Chia takut sungguhan.


"Pfft, mau ditemani nggak nih?" tawar Gerry iseng-iseng merayu. 


"Nggak! Terima kasih!" Walau tidak diterima pun, Gerry tetap santai mengawasi sekitar dan memperhatikan istrinya yang khawatir kabur sendirian. Tapi detik kemudian …


"Akhhhh!" pekik Chia tiba-tiba.


"Hai, kau kenapa?" tanya Gerry lalu berhenti tatkala penglihatannya mendadak hilang. Gerry terhuyung jatuh.


"Akhhh!" pekik Chia terkejut lagi melihat pria itu pingsan. Barusan ada kodok yang membuatnya kaget tapi kali ini kondisi Gerry yang membuatnya ketakutan.


"Hai, Tuan! Tolong sadarlah! Ini tidak lucu tahu! Kita di tengah hutan dan kau malah pingsan? Kau sengaja ingin kita mati bersama di sini kan?" omel Chia lalu terdiam saat melihat darah segar mengalir dari hidung mancung Gerry. Hidung yang kalau diperhatikan lumayan mirip suaminya.


"Ya ampun, mungkin kah orang ini sudah melihat lubang pipisku tadi sampai mimisan? Akhha, gawat! Kalau suamiku tahu aku berduaan dengan pria ini, dia bisa memiliki Gema dan Gempi dengan mudah!" Chia panik dan takut difitnah selingkuh sama Mafia.


Jedaarrr!


Situasi semakin parah kala hujan mengguyur hutan lebat itu. Chia buru-buru memapah Gerry dan masuk ke sebuah gua yang kosong. Ia rebahkan tubuh Gerry ke tanah lalu mencari di dalam saku penjentik api. Chia mengambil ranting-ranting kering kemudian membuat api unggun. Berharap bisa menghangatkan tubuh Gerry agar cepat bangun. Tidak lupa, Chia mencari hape Gerry untuk menghubungi siapa saja. Sontak ia terkejut melihat foto wallpaper pernikahannya.

__ADS_1


"Loh, ini kan aku! Tapi kenapa aku berdiri di samping laki-laki ini?" Chia menggaruk kepalanya. Ia pun mendekati Gerry dan mengamati wajah pria itu lebih lama.


"Dia memang tampan sih, tapi sebenarnya, sejak kapan aku dan dia menikah?"


"Atau ini hanyalah editan? Dia terobsesi padaku setelah melalui malam panas enam tahun lalu yang itu?"


"Ta-tapi kenapa harus aku? Aku ini kan sudah bersuami! Dasar mafia aneh, ternyata kau suka punya orang rupanya!" celetuk Chia jauh - jauh dan menjaga jarak. Tapi melihat Gerry tidak bangun-bangun membuatnya khawatir. Ia pun melepaskan sweater gaunnya dan menyelimuti Gerry.


"Hai, Tuan Om! Setelah keluar di sini, kau berhutang budi padaku! Aku tidak minta imbalan materi sih, cuman aku mau kau berhenti mengejar ku!" kata Chia bicara sendiri agar bisa tetap tenang.


"Ta-tapi, kalau kau mau belikan rumah besar sih juga tidak apa-apa kok," ucap Chia sontak kaget melihat Gerry mendadak sadar.


"Akhhh, bisa nggak sih kalau bangun bilang dulu?" ujar Chia memegang dadanya yang nyaris serangan jantung melihat Gerry seperti mayat yang tiba-tiba bangun. Gerry memang terlihat pucat tapi ia sedikit senang mendengar keinginan istrinya. Sebuah alasan yang bisa memudahkan tujuannya merebut kedua anak-anaknya dari istrinya itu.


Jangankan rumah, pulau pun bisa dibeli Gerry karena uangnya selama hidupnya ini tidak pernah habis dan selalu bertambah seiring waktu berjalan. Bahkan Gerry bisa saja memberi ½ hartanya pada istrinya itu. Lagian juga, hidupnya sudah tidak lama lagi akan segera berakhir.


"Hai, kau jangan macam-macam ya!" kata Chia mundur saat Gerry mengulas senyum anehnya. Antara takut dan senang pria itu siuman. Tapi detik berikutnya, Gerry sengaja pingsan. Ingin lebih lama berdua dengan Chia di bawah malam yang dingin.


"Astaga, apa kau tidak bisa pingsan di lain waktu?" kesal Chia menyadari pria itu berpura-pura tidak berdaya.

__ADS_1


.


🤭Minta dipeluk itu Chia. Ayo peluk suaminya, dia itu sedang kedinginan wkwk


__ADS_2