Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
14. BAB 14 II Harum Banget


__ADS_3

"Gempi dan Gema masuk ke kamar, biar Tante coba cari di luar, siapa tahu Mama kalian pergi keluar." Susi menyuruh kedua anak menggemaskan itu memasuki kamar dan terpaksa bicara seperti itu agar mereka tidak tambah cemas.


"Tapi, kalian jangan keluar ya, paham?"


"Kami paham, Tante." Angguk Gema dan Gempi menurut. Tidak mau menunggu, Susi keluar dari rumah. Sedangkan Gema dan Gempi pindah masuk ke dalam kamar Chia.


"Kakak, cari apa?" tanya Gempi melihat Gema yang menatap ke kolom bawah ranjang, meja, atas lemari, sudut kamar, dan bahkan di dalam lemari. Menggeledah isi lemari baju dan mencari sesuatu yang nampak penting baginya.


"Gempi, bantu aku cari laptop Mama."


"Memang Kakak taruh di mana benda itu?" tanya Gempi pun ikut mencari.


"Harusnya di bawah tempat tidur, Gempi. Tapi kenapa tidak ada?" gumam Gema heran.

__ADS_1


"Apa mungkin Mama keluar menjual itu, Kak?" tebak Gempi.


"Tidak boleh! Di dalam sana ada data - data om itu. Jangan sampai Mama menjualnya, Gempi."


"Ehhh.... terus, apa yang harus kita lakukan?" tanya Gempi bingung bagaimana membantu Gema yang lesu.


"Gempi, mau kemana?" Gema menahan adiknya yang hendak keluar. "Gempi sudah lapar, mau ke dapur makan dulu, Kak." Gempi mengelus perutnya.


"Kita makan dulu yuk," rengek Gempi.


Suara keroncongan mulai bersahutan, Gema dan Gempi sudah tidak tahan. "Kakak, apa mungkin Mama keluar beli makanan?" Gempi menopang dagu, duduk di kursi dan bertanya pada Gema yang sedang di depan kompor.


Walau tubuh mereka masih kecil dan sulit menggapai kompor, Gema dengan kecerdasannya mengambil satu kursi lalu berdiri di atasnya. Ia menyalakan kompor, kemudian memasak mie instan yang ada di dalam rak kecil. Gema tidak pernah takut pada apapun, dan apa yang menarik baginya, akan selalu dicoba sampai dia terbiasa. Beda lagi dengan Gempi, takut dekat - dekat sama kompor.

__ADS_1


"Hmm, mungkin saja, tapi kalau beli makanan, tidak seharusnya Mama lama di luar, Gempi," ucap Gema sambil mengaduk mienya.


"Duh, Gempi lapar nih," desis Gempi memegang perutnya dan sedikit menyesal tadi menolak Susi yang mau singgah beli hidangan saji di luar.


"Sabar, ini sedikit lagi masak, kamu tunggu dulu." Gema melirik Gempi yang tidak berdaya di sana. Dengan gesitnya, Gema pun menuangkan masakan simpelnya itu dengan hati - hati di dalam mangkok.


"Woahh, harum banget. Kakak pintar masak!" seru Gempi riang mencium aroma bawang goreng yang diambil dari dalam toples. "Hmm, iya dong. Gema gitu loh, hehe." Gema menepuk dada bangga bisa memenuhi keinginan sang adik.


Keduanya pun makan bersama. Beberapa menit saja, mereka sudah selesai makan. Gempi turun dari kursi, membawa piring kotornya.


"Kakak, biarkan Gempi yang cuci piring. Kakak cari saja laptop Mama," kata Gempi menghidupkan keran dan berdiri di atas kursi juga supaya bisa melebihi tinggi wastafel.


"Hmm, baiklah. Aku serahkan itu padamu, Gempi." Gema pun meletakkan piring kotornya di dekat Gempi. Ketika melewati meja, tiba - tiba pintu diketuk dari luar.

__ADS_1


"Mama?" ucap Gema dan Gempi saling pandang. Keduanya pun meninggalkan dapur, berlari ke pintu dan membuka cepat, namun yang datang bukanlah Chia.


__ADS_2