
"Oh, tumben cepat banget mereka pulang, apa uangnya tidak cukup? Atau Susi kehilangan uang lagi?"
"Aihhh, Susi. Kau ini suka bikin orang naik darah. Kalau setiap hari hilang uang terus, lama - lama aku bisa makan singkong rebus."
Tidak mau mengotori lantainya, Chia jalan di samping rumah. Sontak saja langkahnya berhenti dan segera bersembunyi di balik tembok kala netra hitamnya melihat dua pria berjas hitam di depan pintu. Dua pria itu bawahan Gerry yang menunggu pemilik rumah.
"Mereka siapa?" Chia memegang dadanya yang berdetak keras. Ia takut dan cemas. "Apa rentenir? Tapi seingatku, aku tidak pernah pinjam uang, atau kah ..."
"Susi?"
"Tidak - tidak, mana mungkin Susi berani pinjam uang, aku tidak boleh menuduh dia. Mungkin saja ini suruhan orang lain yang datang menagih utang tapi salah alamat?"
"Daripada aku terus berasumsi begini, aku cek sendiri!"
Chia pun ingin menghampiri mereka, namun cepat - cepat kembali pada tempatnya. Matanya membola, melihat satu pria tidak asing mendekati dua pria itu.
"Bagaimana? Apa ada orangnya?" tanya Gerry tidak tahan menunggu di mobilnya.
__ADS_1
"Maaf, Bos. Sepertinya rumah ini kosong. Daritadi kita sudah mengetuk baik - baik, tapi tidak ada yang menyahut di dalam sana," jawab mereka.
"Aduh, kenapa pria itu datang ke sini?" desis Chia gelisah.
"Mungkin gara - gara pesta kemarin, dia menyadari sesuatu dari Gema sehingga mencari lokasi anak - anakku?"
"Aduuuhhh, harusnya kemarin aku suruh Gema pakai masker saja! Ini salahku, tidak begitu memikirkan itu! Bodoh banget sih kau, Chia!" gerutu Chia pada dirinya sendiri kemudian memperhatikan Gerry yang mengamati gagang pintu.
"Apa saya perlu dobrak pintunya, Bos?" tanya mereka.
"Jangan!" tahan Gerry.
Deg.
Chia tersentak kaget. "Kabur? Siapa yang kabur? Apa itu adalah aku?" Chia sedikit mundur, merasa dialah yang dicari - cari. Namun langkahnya berhenti saat Gerry bicara.
"Tidak usah repot - repot, kita tunggu dia keluar dan setelah itu tanyakan alasan dia mencuri," ucap Gerry masih mengamati gagang pintu yang tidak ada bekas pegangan. Ia pun merasa pintu di depannya itu barusan ditutup dari dalam.
__ADS_1
"Hmm, walau dia agak sangar, tapi terlihat ideal dan pintar. Dia tinggi, berwatak tegas, dingin, angkuh dan lumayan tampan. Tapi sayangnya, aku tidak suka yang Maco seperti itu." Chia bergidik ngeri membayangkan kedua kalinya, sesuatu yang pernah dia rasakan sebelumnya.
"Dan kenapa dia menuduhku mencuri? Aku kan tidak ada niat mencuri benihnya malam itu! Itu kan sebuah kecelakaan!" decak Chia sedikit kesal, namun langsung membungkam mulutnya ketika Gerry lagi - lagi bicara.
"Kalau dia tidak keluar juga, bakar rumah ini."
"What, bakar? Dia mau membakar tempat ini? Berengsek sekali, mentang - mentang orang berkuasa di kota ini, dia mau menindasku. Tidak semudah itu!" kesal Chia keluar kemudian berteriak lantang supaya suaranya tidak dikenali. Tapi bagi Gerry, dia memang sudah tidak ingat bagaimana suara istrinya.
"Woy, pergi kalian!" bentaknya berkacak pinggang. Menatap tegas pada Gerry walaupun di dalam hatinya sedang menahan ketakutannya.
Gerry pun berpaling ke sumber teriakan itu. Keningnya mengerut, ia merasa heran tiba - tiba ada seseorang muncul di sana.
"Hmm, siapa wanita jelek ini?" gumam Gerry memerhatikan dari bawah sampai atas tubuh Chia yang agak kurang tidak enak dipandang. Memakai celemek dan daster. Tak lupa kepalanya dililit handuk.
"Wanita jelek? Kau bilang aku wanita jelek?" Chia mendengkus. Ia melangkah dengan ekspresi marah tidak terima dipanggil jelek. Dua anak buah Gerry mundur ke belakang melihat Chia maju sambil membawa baskom besar yang siap menghancurkan apa saja. Tidak seperti Gerry yang masih berdiri kokoh di posisinya sambil bertatap sinis dengan Chia yang juga balas menatapnya tidak suka.
"Apa mau kalian?" tanya Chia melototkan kedua bola matanya.
__ADS_1
.