
"Hai," sapa seorang pria berjas putih, bermata sipit dan juga tampan. Setampan pangeran yang berkuda putih di dalam dongeng.
"Oh, om siapa?" tanya Gema dan Gempi.
"Hm, nama om Davis, kakaknya Susi." Pria tampan itu mengenalkan dirinya. Terlihat berumur 28 thn, lebih muda dari Gerry.
"Apa kalian berdua Gema dan Gempi?" tebak Davis tersenyum. Walau matanya merem kala tersenyum, Davis tambah manis dilihat, terutama Gempi nampak suka di pandangan pertama pada Davis.
"Iya, om! Kami kembar, anaknya Mama Chia." Gempi menjawab ceria. Tidak seperti Gema yang datar, sedatar dinding di dekatnya dan menatapnya dingin, sedingin kulkas 10 pintu.
"Kalau begitu, boleh om masuk?" Tunjuk Davis ke dalam.
Gema merentangkan kedua tangannya. "Tidak boleh!" ujarnya melarang.
"Hmm, kenapa tidak boleh?" tanya Gempi.
"Karena di rumah ini cuma kita berdua, kata Mama, kita tidak boleh menerima tamu orang asing. Kalau om mau masuk, lebih baik tunggu di luar saja sampai Tante dan Mama pulang," jelas Gema tegas.
Davis mengukir senyum miring di sudut bibirnya. Merasa dua anak di depannya itu sangat patuh dan cerdas.
__ADS_1
"Tapi, om ini 'kan bilang kalau dia kakaknya Tante Susi, kita izinkan masuk saja, Kak. Kasihan kalau di luar, nanti om nya terbakar kena matahari, hehehe..." Gempi membujuk Gema.
"Tidak boleh! Om Denis ini tidak bisa dipercaya, siapa tahu kakaknya Tante Susi itu perempuan bukan laki - laki." Tingkat kewaspadaan Gema memang lebih tinggi daripada Gempi yang berhati malaikat.
"Ehem, maaf. Nama om itu Davis, bukan Denis." Davis mendehem dan memperbaiki ucapan Gema.
"Ya, itu maksud Gema." Bocah laki - laki itu membenarkan sambil menatap tajam Davis. Tiba - tiba hape Davis bergetar.
"Halo, kau di mana Susi?" tanya Davis dalam panggilannya.
"Kakak! Tolong cepatlah kemari, aku dalam masalah!"
"Okeh, tunggu aku di situ." Davis memutuskan cepat.
"Tunggu, om!" Cegat Gema dan Gempi.
"Hmm, kenapa?" tanya Davis.
"Om, kita mau ikut, boleh 'kan?" mohon keduanya tidak mau ditinggal berdua di dalam rumah dan mencemaskan Susi juga.
__ADS_1
"Memang kalian sudah percaya sama om?" tanya Davis lagi. Gema dan Gempi mengangguk-angguk.
"Pfft, ya sudah, ikut om naik mobil." Ketiganya pun pergi ke kantor polisi, menyelesaikan Susi yang kena tilang di jalan. Sedangkan Chia, satu wanita ini juga dalam masalah, tepatnya berada di markas Hexion. Ia tampak dikurung sendirian di satu ruangan gelap. Wanita daster berkacamata tebal dan bertompel itu sedikit takut dan geram dibawa paksa oleh Gerry yang menuduhnya sebagai pelaku peretas.
"Hay, lepaskan aku berengsek!" pekik Chia.
"Kalian itu salah tangkap!" bentaknya marah - marah karena diikat seperti sapi kurban. Tidak bisa bergerak dan pergi dari tempat itu. Walau berada di markas Mafia, Chia berusaha tetap tenang. Tapi tetap saja ia memikirkan dua anaknya di rumah.
"Ck, laki - laki memang sama semua! Kejam dan suka mempermainkan wanita!"
Gerry menutup satu kuping, agak gatal mendengar celoteh - celoteh Chia.
"Ternyata, selain jelek, wanita ini juga tahu bagaimana bersikap cerewet. Apa dia tidak takut sama sekali berada di tempat ini?" kesal Gerry tidak tahan mendengar Chia ngomel - ngomel di dalam ruangan itu. Ia pun masuk sendirian dan berhadapan dengan Chia yang akhirnya diam dan meneguk susah payah ludahnya melihat ekspresi suram Gerry. Seolah - olah ia mau diterkam oleh ketua Mafia itu.
'Ya Tuhan, tolong hamba mu dari pria kejam ini.'
.
Itu suami kau, ChiağŸ¤Harusnya jangan takut, sentil aja burungnya.
__ADS_1
Tinggalkan like komen dan favoritkan, terima kasih...