Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
22. BAB 22 ll Jangan Sentuh Mamaku!


__ADS_3

Esok harinya, sebelum berangkat ke perusahaan, Davis masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah membuka pintu, ia heran melihat ruangannya agak berbeda dari kemarin.


"Hmm, seingatku ... kursi dan benda di atas meja tidak seperti ini, siapa yang memperbaiki letaknya?" gumam Davis.


"Kenapa diam di sini, Dav?" tanya Susi yang tidak sengaja lewat di depan ruang kerja Davis.


"Oh ya, kau yang merapihkan ruanganku?" Tunjuk Davis pada mejanya.


"Eh, bukan. Aku tidak pernah masuk ke sini kemarin," ucap Susi menggelengkan kepala


"Kalau bukan kau, siapa yang memakai laptopku?" tanya Davis melihat laptopnya habis dipakai seseorang.


"Mungkin kau sendiri yang merapikannya," ucap Susi sambil memakan sandwich di tangannya.


Davis menggaruk kepala, merasa tidak pernah masuk ke ruangannya kemarin. "Apakah itu sahabatmu, Susi?" gumam Davis melirik Susi yang menggelengkan kepala lagi.


"Tidak deh, kemarin Chia sibuk di kamarnya dan dari tadi dia tidak pernah masuk ke sini, bukan dia yang merapihkan ruangan mu, Dav," jelas Susi.


"Kalau begitu, di mana sahabatmu itu?" Davis bertanya sambil duduk di kursinya. Melihat kembali semua benda yang kemarin berantakan tiba -tiba tersusun rapih pada tempatnya. Itu semua karena ulah Gema, bocah yang membenci kecoa sehingga suka membersihkan ruangan yang kotor.


"Itu, dia tadi keluar bersama dua anaknya," ucap Susi berdiri di dekat pintu.


"Hmm, kemana mereka pergi?" tanya Davis kemudian bergumam dalam hati, "Pantas tadi aku tidak melihatnya, ternyata dia keluar bersama anak - anaknya, apakah pergi menemui suaminya?"


Susi mengangkat dua bahunya, tidak tahu.


"Oh ya, daripada memikirkan hal lain, bagaimana kalau kau rekrut Chia sebagai kepala desainer mu?" usul Susi mendekati Davis.

__ADS_1


"Hmm, desainer? Memangnya dia mau?"


"Ya mau lah, Chia itu butuh pekerjaan dan kau juga pasti butuh pengganti 'kan?" ucap Susi pada Davis yang memang memerlukan pengganti kepala desainernya yang beberapa hari lalu sudah resign.


"Hmm, kalau begitu, katakan padanya untuk datang ke perusahaan ku nanti." Davis berdiri, bersiap pergi ke perusahaannya.


"Tenang saja, aku yakin dia akan datang!" kata Susi menepuk - nepuk pundak Davis lalu keluar dari ruangan itu untuk mengerjakan pekerjaannya juga. Susi sebenarnya ingin bekerja di perusahaan Davis, namun wanita muda itu sudah merasa nyaman jadi asisten si kembar.


Sementara di tempat lain, nampak Chia bersama dua anaknya sedang berada di area wahana. Di bawah pohon rindang, Chia dan si kembar duduk sambil menunggu seseorang.


"Mama, kenapa suami Mama belum datang juga?" tanya Gempi sambil makan snack. Sedangkan Gema memperhatikan anak - anak di sana yang bersenang - senang bersama kedua orang tua mereka. Ada rasa iri dan sedih di kedua mata bocah itu.


"Sabar ya, mungkin lagi macet di jalan," ucap Chia tersenyum. 'Ishhh, kemana sih tuh orang? Niat nggak sih ketemu di sini?' gerutu Chia dalam hati ingin sekali melayangkan tinjunya yang terkepal itu ke wajah suaminya.


'Eh tapi, jangan deh, pasti dia sudah tua banget, kasihan kalau kutonjok, wajahnya yang keriput itu nanti penyok,' batin Chia melemahkan kepalan tangannya.


"Mama, daripada tunggu di sini, kita main dulu, yuk!" rengek Gempi menunjuk wahana kuda - kudaan. Chia menyentuh dagu, menimbang - nimbang keputusannya.


Tidak tahan melihat wajah imut Gempi, akhirnya Chia mengiyakan.


"Yeaahh, ayo Mama!" riang Gempi melihat Ibunya mengangguk. Setelah itu menarik Gema.


"Kakak, buruan kita naik itu. Kalau tidak cepat, nanti kita tidak dapat giliran." Gempi mulai heboh sendiri. Membuat orang - orang di sekitar merasa risih dan juga ada yang tertawa geli.


Namun sontak, bocah perempuan yang banyak gerak itu menambrak seseorang. Gema menepuk jidat melihat adiknya belum bisa menghentikan kelakuannya yang suka lari - lari. Memang perlu ada yang counter pergerakannya itu yang terlalu cepat.


"Aduhh, sakit...." ringis Gempi yang terduduk di tanah dan kemudian terkejut melihat orang yang menabraknya sedikit menyeramkan.

__ADS_1


"Ahhh, Mama!" pekik Gempi berdiri lalu berlari ke Chia yang juga terkejut pada pria itu.


"Hai, Om! Jangan melotot begitu, Om membuat adikku takut!" ujar Gema berdiri di depan Ibu dan adiknya. Dengan sinisnya, ia merentangkan tangan dan menatap pria itu yang menatap tajam padanya juga. Chia pun menarik Gema ke belakang dan meminta maaf.


"Ma-maaf ya, Pak. Anak saya tidak sengaja," ucap Chia tidak mau ada masalah, apalagi model pria itu seperti gangster. Seketika wajah pria yang sangar itu berubah drastis ketika menunjukkan tawanya.


"Hahaha, santai saja, baby."


Chia terperangah, begitupula Gema dan Gempi telonjak kaget. "Baby? Siapa itu baby?" tanya Gema dan Gempi. Pria itu menunjuk Chia dan tersenyum.


"Istriku yang ada di belakang kalian itu," ucapnya enteng.


"Apa? Aku? Istrimu?" Tunjuk Chia pada dirinya sendiri. Pria itu mengangguk-angguk, ya.


"Waahh, jangan - jangan om serem adalah suami Mama kita?" tanya Gempi dengan wajah polosnya.


"Ya, saya suaminya dan juga Papa kalian," ucapnya lalu melirik Gema yang tampak marah. Benar, bocah itu langsung menimpali ucapannya.


"Kau bukan ayah ku!" ujar Gema sinis.


Chia tampak masih syok dan memperhatikan pria di depannya, tampilannya memang gagah perkasa, namun model rambutnya yang gondrong dan memiliki kumis tebal itu membuatnya tidak habis pikir dirinya menikahi pria yang tidak sama dengan ekspetasinya. Awalnya Chia berpikir ia menikahi sugar Daddy yang perfeck, tapi ini malah model tua bangka dengan rambut yang sudah beruban banyak.


"Ahhh, Mama!" pekik Gempi dan Gema terkejut melihat Ibunya jatuh pingsan. Keduanya mengguncang bahu Chia, sedangkan Gerry yang berdiri dan sengaja menyamar itu sedang tertawa puas dalam hatinya. Memang lak - laki yang tidak berperasaan. Harusnya datang memberi suprise indah, ini malah membuat istrinya serangan jantung.


"Berhenti mengguncang Ibu kalian, sini biar om yang membangunkannya," ucap Gerry mau mengangkat Chia namun dengan cepatnya, Gema menggigit tangannya yang kekar itu.


"Jangan sentuh Mamaku!" bentak Gema dengan sorot mata tidak takut padanya. Gerry tersentak kaget, melihat Gema yang berani padanya dan gigitannya yang terlalu kuat dan hampir membuat tangannya berdarah. Tapi sudut bibirnya pun terangkat, merasa senang bibitnya terlahir sesuai keinginannya. Mata tajam, ekspresi marah yang arogan dan kebencian Gema itu yang dia harapkan sebagai pewarisnya.

__ADS_1


.


Laki nggak ada akhlak emang😒


__ADS_2