Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
37. BAB 37 ll Istri Cerewet


__ADS_3

Davis dan Susi terus bergerak menuju ke tempat yang dikatakan Gerry. Jalan yang dapat membawa mereka ke arah tempat yang aman. Ketika mereka benar-benar sudah jauh dari markas Robertus, sontak terkejut dihadang oleh kelompok preman. Davis segera mengeluarkan pistol Gerry dan menodongkannya pada mereka.


"Ka-kalian jangan berani mendekat!" ujar Davis dan melirik Susi yang menjaga Gema dan Gempi.


Gangster-gangster itu terkejut melihat senjata milik Bos mereka. Davis pun bergetar hebat saat semua gangster serempak maju. Tapi bukan untuk melawan Davis tapi berusaha menenangkan pria itu. Mereka sepertinya paham dari pistol Gerry kalau Bosnya itu mempercayai Davis dan mereka yakin dua anak kembar yang dijaga itu adalah anak Bos mereka. Bisa dikatakan mereka paham kode darurat dari ketua mereka yang tidak pernah memberikan pistol kesayangannya pada siapapun.


"Tenanglah, kami tidak jahat!" kata mereka.


"Kalau tidak jahat, kenapa datang beramai-ramai?" tanya Gempi bisa-bisanya menyahut.


"Awas ya! Kalau Papa Gempi datang, kalian semua pasti jadi rendang!" lanjutnya lumayan menantang.


"Astaga, Gempi! Kau lihat situasi dulu lah," celetuk Gema melihat adiknya yang seharusnya bertingkah imut tapi sekarang mau jadi sok jagoan.


Mereka saling pandang dan tertawa lucu melihat dua anak kembar Bos mereka yang menggemaskan.


"A-apa mau kalian?" tanya Susi bergetar takut.


Mereka pun segera menjelaskan kedatangan mereka untuk membantu Gerry. Namun seketika perhatian mereka teralih ke gerbang utama yang memperlihatkan mobil-mobil milik tamu Rion bersiap pulang. Sebagai dari anak buah Gerry pun bergerak untuk memata-matai mereka dan sebagian lagi ingin menyelinap masuk ke area wilayah Robertus tetapi Gempi dan Gema melarang.


"Jangan ke sana, Om!"


"Hm, kenapa?" tanya mereka.


"Papa sedang menyusul ke sini," ucap Gema.


"Benar! Daripada masuk ke sana, lebih baik tunggu saja di sini dan bantu Gempi saja, Om!" Sahut Gempi.

__ADS_1


"Kau mau apa, Gempi?" tanya Susi dan Davis melihatnya heran.


Dengan malu-malu, Gempi menjawab, "Om, Tante, Gempi mau pipis," ucapnya sedikit berbisik tapi semua yang ada di dekatnya bisa mendengarnya dengan jelas keinginan bocah cilik itu yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil.


"Astaga, kenapa tadi tidak bilang-bilang? Sini ikut sama Tante," ucap Susi meraih tangan mungil Gempi.


"Mau ke mana, Tante?" tanya Gema.


"Mau ke sana, adikmu tidak boleh menahan itu. Bahaya," ucap Susi menunjuk ke semak-semak.


"Ihhhh, Gempi tidak mau pipis di situ," ujar Gempi mundur.


"Kenapa? Satu-satunya tempat yang bisa dibuat pipis cuma di situ, Gempi," kata Gema menarik tangan adiknya.


"Ta-tapi di situ tidak nyaman! Nanti ada semut gigit pantat Gempi," ucap Gempi apa adanya.


"Gempi takut nanti pantatnya hilang," lanjut Gempi merinding ketakutan.


Seketika tawa mereka lepas. Terbahak-bahak mendengar Gempi yang lucu. Sekecil-kecilnya semut, mana mungkin sekali gigit bisa menghilangkan pantat anak itu. Kalau buaya darat, kemungkinan bisa jadi hilang.


Gema yang gemas pun mencubit pipi gembul adiknya. "Jangan banyak mengeluh. Pergi saja ke sana!" kata Gema berkacak pinggang.


"Kalau begitu, Kak Gema harus ikut juga!" balas Gempi.


"Tidak mau! Di sana banyak kecoa!" tolak Gema bersembunyi di belakang Davis.


"Ihhh, dasar penakut! Wleek!" ejek Gempi lalu dibawa pergi oleh Susi. Tapi Gema juga balas menjulurkan lidahnya, mengejek adiknya yang sok jagoan itu. Mentang - mentang bapaknya Mafia, tingkahnya tambah menjengkelkan tapi tidakĀ  di mata gangster Hexion yang melihat Gempi yang menggemaskan.

__ADS_1


Kini di dalam gedung Robertus, tampak semua gangsternya berpencar mencari keberadaan Chia dan penyusup mereka.


"Apa? Kau yakin dia muncul di sini?" Kaget Rion melihat satu anak buahnya yang datang melaporkan situasi yang sedang kacau.


"Bagaimana bisa kalian membiarkan orang seperti itu masuk ke tempat kita, ha!" Dipukulnya anak buah itu tanpa perasaan. Datang - datang menghadap, malah berakhir ditonjok habis-habisan.


"Maaf, Bos Rion. Anda tahu sendiri, Bos Hexion selalu banyak taktik dan trik masuk ke tempat-tempat seperti kita. Anda juga tahu, kemampuan bela dirinya tidak bisa diremehkan," tutur anak buah itu memegang wajahnya yang lebam.


"Sial, apa tujuan dia datang kemari? Mana mungkin wanita itu adalah alasannya! Atau jangan - jangan suami yang dimaksudnya itu memanglah Hexion? Sial, harusnya aku tadi selidiki lebih jauh wanitaku itu," decak Rion mengepal tangan lalu meninggalkan kursinya.


"Anda mau kemana, Bos?" tanya mereka.


"Siapkan mobil, aku harus meninggalkan tempat ini." Rion mengambil racun-racun buatannya dan menyimpan obat penawarnya juga. Bisnisnya yang menguntungkan itu tidak boleh diketahui oleh siapapun, apalagi jatuh ke tangan musuh. Rion tidak mau, usaha yang dia bangun susah payah berakhir di tangan Gerry. Sekejam dan sekejinya Rion, ia tahu jika Gerry bisa melakukan sesuatu yang lebih dari dirinya. Tidak segan-segan melenyapkannya langsung.


"Woah, itu apa, Kak Gema!" Tunjuk Gempi melihat sebagian mobil Gangster Robertus bergerak ingin meninggalkan gedung mereka itu. Lebih tepatnya ingin segera mengosongkannya dan pindah ke tempat mereka yang jauh lebih aman dan ketat.


"Celaka! Jangan biarkan mereka lolos semudah itu! Cepat, ikut mereka." Gangster Hexion pun berpecah dua, sebagian menyusul diam-diam dari belakang. Anak buah Gerry khawatir, di antara mobil itu bisa saja ada Bosnya. Tapi jika dipikirkan lagi, Bosnya itu tidak mudah ditangkap oleh siapapun.


Benar, saat ini jalan satu-satunya selamat dari pengejaran musuh, Gerry membawa Chia masuk ke dalam hutan.


"Hai, kenapa kita lari ke sini? Kau mau macam-macam ya sama aku?" tepis Chia lalu mundur dan memeluk dirinya.


"Dengar ya! Di dunia ini masih banyak wanita yang jauh lebih cantik dariku, jadi kau harusnya pergi cari wanita lain! Tidak usah repot-repot menyelamatkan aku. Aku bisa selamat tanpa kau!" kata Chia tapi Gerry tidak mendengarnya karena sedang fokus melihat sekitar apakah anak buah Robertus masih mengejar atau tidak. Kalau saja ada pistolnya, sudah pasti Gerry maju melawan puluhan musuhnya itu. Tapi sayang hanya pisau belati dan situasi yang bahaya ini tidak tepat untuk menunjukkan kemampuannya. Terlebih lagi, ada istrinya yang cerewet.


"Hai, kau mendengarkan aku nggak sih?" gerutu Chia yang diabaikan.


...

__ADS_1


Istri cerewet bikin ngangenin tau, Chia🤭


__ADS_2