Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
39. BAB 39 ll Papa Sakit, Mama.


__ADS_3

Sambil menunggu hujan reda dan laporan dari rekan mereka, para gangster Hexion yang tersisa menjaga Davis, Susi, Gempi dan Gema yang sedang berteduh di mobil mereka yang dipasang tenda.


"Tante, Om! Sudah pukul sepuluh, tapi kenapa Papa Gempi belum datang juga? Apakah Mama dan Papa Gempi tertangkap?" tanya Gempi dan juga Gema yang cemas di sebelahnya.


Saat Davis dan Susi mau menjawabnya, tiba - tiba seseorang datang melapor. Davis, Susi dan si kembar turun mendengar hasil pencarian mereka.


"Kami sudah mengintai ke mana perginya Robertus, tapi kami tidak melihat tanda-tanda keberadaan Tuan Bos dan juga istrinya disandera oleh mereka." 


"Kalau begitu, di mana Mama dan Papa kami?" sahut Gema datang mendekati mereka.


"Tuan muda, anda tidak usah khawatir. Mungkin saat ini Tuan Bos kami berada di dalam hutan," ucap mereka pada Gema yang gelisah memikirkan Ibunya.


"Maksudnya, Papa membawa Mama lari ke hutan, Om?" tanya Gempi juga mendekat.


"Jika itu benar, lebih baik kita segera mencarinya," ucap Susi tidak bisa tenang apabila tidak melihat sahabatnya itu.


"Aku setuju, daripada menunggu, kita mencari mereka  sekarang," ujar Davis membawa payung dan memakaikan jas hujan pada Susi.


"Gempi mau ikut!" seru Gempi pada Davis.


"Gema juga mau cari Mama, boleh kan, Tante?" mohon Gema mengedipkan matanya.


Davis dan Susi saling bertatapan. Maunya boleh, tapi gangster Hexion melarang. "Jangan!"


Mendengar itu, Gema dan Gempi menekuk wajah cemberut namun detik kemudian pindah bermanja-manja di depan gangster ayah mereka. Memohon dengan keimutan dan juga mata yang berkaca-kaca membuat mereka pun terpaksa setuju. Tidak mau melihat kedua anak itu menangis malam - malam ini.


"Baiklah, tapi tolong tetap selalu bersama kami," pesan mereka menasehati Gema dan Gempi.


"Siap, Pak Komandan!" hormat Gema dan Gempi membuat Susi merasa geli melihat mereka mudah mengambil perhatian preman-preman itu. 


Tidak mau buang waktu lagi, mereka pun bergerak masuk ke dalam hutan. Jika saja mereka bisa melacak lokasi Gerry, mungkin akan mempermudah pencarian malam ini. Tapi lokasi Gerry tidak bisa terdeteksi dan itu membuat mereka dilanda kekhawatiran.


Di tengah pencarian, tiba-tiba mereka berhenti dan menoleh ke belakang. Mengernyitkan dahi dan merasa heran melihat Gempi terduduk di tanah. Bocah yang selalu jalan cepat mendadak terlihat tidak berdaya!


"Kau kenapa, Gempi?" tanya Susi pada Gempi yang dibantu berdiri oleh Gema.


Arah mata Gempi pun melihat Davis lalu ia mengulurkan kedua tangan kecilnya.


"Apa yang kamu mau, Gempi?" tanya Gema.

__ADS_1


"Om, gendong." Pinta Gempi memohon.


"Kenapa?" tanya Davis mendekat.


"Kaki Gempi kesemutan," lirih Gempi mau menangis.


"Pfttt," tawa Gema dan Susi melihat Gempi pertama kali merasakan hal itu. Ekspresinya sangat lucu sekali. Bukan cuma itu, gangster yang menjaga mereka juga ikut menahan tawa.


"Kirain kau mau pipis lagi," ucap Davis lalu memberikan punggungnya.


"Sini, naiklah."


"Terima kasih, Om! Xixii…." Gempi dengan sangat riang naik ke punggung Davis lalu melihat Gema yang memutar bola mata jengah. Gema merasa ini salah satu alasan saja agar adiknya itu tidak capek-capek berjalan di tengah hutan.


"Tuan muda juga ingin digendong?" tawar salah satu gangster yang bertubuh besar dan penuh tatto di kedua lengannya.


"Tidak, Gema bisa jalan sendiri. Terima kasih, Om." Gema menolak. Menggelengkan kepala cepat lalu berjalan. Tentu gengsi dan malu menerima tawaran itu. Meskipun sebenarnya ia juga ingin digendong. 


Walau ditolak, gangster itu lumayan kagum melihat Gema mirip Gerry yang tidak begitu bergantung pada orang lain, seperti berusaha ingin menyelesaikan atau melakukannya dengan usahanya sendiri. Meski ujung-ujungnya tetap digendong oleh gangster itu. Tetapi …


"Om, berhenti!" ujar Gema lalu turun dari punggung gangster itu.


"Apa yang anda temukan, Tuan muda?" tanya mereka paham dengan pergerakan Gema yang mendapatkan sesuatu dan itu bisa jadi sebuah petunjuk.


"Kakak, lihat hantu ya?" tebak Gempi tiba-tiba dan berhasil membuat suasana berubah menakutkan. Tapi Gema memecahkan suasana itu dengan bantahannya.


"Bukan! Hantu itu tidak ada!"


"Terus, apa yang kau lihat?" tanya Davis yang masih setia menggendong Gempi. 


"Ini! Coba perhatikan, ada bekas jejak sepatu diseret di sini, Om." Gema menunjuk sebuah tanda.


"Akhhh, Gempi takut!" pekik Gempi memeluk leher Davis.


"Astaga, apa yang kau takutkan, Gempi?" Davis bertanya dan sedikit melonggarkan kedua tangan Gempi yang lumayan mencekiknya.


"Itu pasti bekas jejak kucing! Gempi alergi sama kucing, Om." Gempi menjerit takut. Sedangkan Gema geleng-geleng kepala. Ia paham yang dimaksud adiknya adalah harimau hutan. Tapi mana mungkin hewan bisa pakai sepatu, kan?


"Nona muda, tenanglah. Jika dilihat lebih teliti lagi, ini jejak manusia bukan binatang," jelas mereka sudah memastikan jejak milik siapa itu.

__ADS_1


"Sepertinya ini jejak Chia dan yang diseret ini pasti adalah Bos kalian," ucap Susi melihat semua orang.


"Kalau begitu, berarti Mama dan Papa ada di sekitar sini!" kata Gempi lalu turun.


"Tante! Ayo kita cepat cari Mama! Gempi takut Mama kedinginan dan Papa tambah sakit. Gempi tidak mau Mama dan Papa kenapa - napa," mohon bocah cantik itu merengek.


"Benar, ayo kita segera temukan orang tua kalian." 


Mereka pun berpencar. Membagi dua kelompok dan menuju ke arah yang berlawanan. Tapi Gema, Gempi, Susi dan Davis tetap satu kelompok bersama gangster yang lain. Seandainya saja jejak itu tidak terputus oleh hujan, Gerry dan Chia bisa ditemukan lebih cepat. Tapi hujan kali ini tidak bersahabat dan begitu deras mengguyur hutan.


Namun, dengan insting masing-masing, kelompok Gema berhasil menemukan sisa jejak Chia yang masuk ke dalam gua. Terlihat ada cahaya di sana.


Gema dan Gempi pun cepat-cepat berjalan ke sana. Diiringi Davis, Susi dan gangster yang jalan dan tetap waspada di sekitar mereka. 


Setelah melewati bibir gua itu, benar saja cahaya itu adalah api unggun yang belum dipadamkan. Karena Chia tampak tidur di sebelah Gerry.


Dua anak kembar itu terdiam dan tertegun melihat Mama dan Papa mereka bisa akur malam ini. Buktinya, dua insan yang suka bertengkar itu mendadak berpelukan.


"Woah, apa Mama dan Papa habis membicarakan adik baru untuk Gempi?" ucap Gempi membuat Gema terperangah.


"Tidak, satu adik sudah cukup!" kata Gema segera pergi membangunkan Ibunya dan Gerry, tapi entah kenapa laki-laki yang awalnya Gema benci itu tidak bergerak sedikitpun.


"Papa! Bangun!" Gangster yang di sana segera menghentikan Gema yang mengguncang-guncang tubuh Gerry.


"Apa yang terjadi?" tanya Chia perlahan sadar dan terkejut melihat semuanya datang dan lebih terkejut lagi melihat Gerry terbaring lemah di sebelahnya dan sekarang diangkat oleh bawahannya.


"Hai, sebentar, kalian mau membawa dia ke mana?" Tahan Chia.


"Maaf, Nyonya. Bos kami perlu ditangani segera mungkin." Mereka membawa cepat Gerry meninggalkan gua itu.


"Mama, kenapa Mama biarkan Papa di sini? Mama harus tahu, Papa lagi sakit parah, Mama." Isak Gempi menangis di sebelah Chia yang terdiam bisu dan nampak Gempi takut melihat wajah tampan ayahnya yang pucat pasi.


Susi pun menepuk bahu Chia dan berkata, "Chia, aku tahu kau benci suamimu, tapi kau tidak seharusnya membiarkan dia begitu."


Chia seketika mendongak. Semakin terkejut mendengar ucapan Susi itu.


"Suamiku? Kau bilang dia adalah suamiku? Sejak kapan?" tanya Chia sulit mengerti keadaannya saat ini. Sedangkan Davis pun bingung melihat Chia tidak mengenali identitas asli suaminya sendiri. Aneh bukan? Begitulah pernikahan yang diawali penculikan. Tak ada cinta dan kejelasan di dalam hubungannya. Dan yang jelas cuman kehadiran Gema dan Gempi yang terlahir kembar dari pernikahan mereka.


.

__ADS_1


Sejak kau diculik enam tahun lalu Nona Maimunah🥺🤧duuh nasib Gerry gimana ya😅author buat Gerry mati, auto tamat ini cerita wkwk. Canda.


__ADS_2