Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
49. BAB 48 ll Papa Jangan Sedih


__ADS_3

Tiba di markas Hexion, tanaman itu diberikan pada Profesor. Nampak tanaman itupun disimpan ke dalam sebuah wadah kaca untuk diteliti.


"Profesor, apakah ada cara supaya ingatan Gerry pulih kembali?" Edgar bertanya sambil berdiri di sebelah Profesor yang mengamati tanaman itu.


"Sangat disayangkan jika dia melupakan semua yang telah dia lalui selama ini. Terutama ada banyak informasi yang tersimpan dalam ingatannya. Aku sedikit tidak rela ia melupakan kehidupannya di masa lalu." 


Profesor menghembus nafas dengan kasar lalu memindahkan tanaman itu untuk diracik sambil membalas ucapan Edgar.


"Tuan Edgar, memang benar yang anda katakan. Tapi bukan kah ini juga menguntungkannya?"


Perkataan Profesor sedikit mengejutkan Gema yang tadi mau masuk kini berdiri di dekat pintu. Menguntungkan? Apa yang diuntungkan bagi Papa? Gema membatin bingung dan menguping lagi.


"Kalian berdua terlahir di kehidupan yang sama. Tapi yang dilalui Tuan Gerry tidaklah semulus yang Tuan Edgar jalani." Profesor lanjut bicara.


"Apa maksudnya?" gumam Gema kurang paham ucapan Profesor.


"Ia yang tumbuh tanpa Ibu kandungnya, hanya anak manusia yang diperalat oleh ayahnya. Hidup menderita di bawah kaki Tuan besar dan menerima kekerasan yang tidak manusiawi."


Edgar menunduk dan meremas tangannya. Kata-kata Profesor yang menyakitkan itu mengingatkannya pada Gerry yang dilempari berbagai tindak penyiksaan yang diperoleh dari ayahnya yang sakit hati dan menyesal setelah kehilangan istri pertamanya gara-gara usai melahirkan Gerry.


Semua amarah dan kekecewaannya ia jatuhkan pada Gerry.


Bahkan saat Gerry masih berumur 1 atau 2 tahun, ayahnya pernah menjadikannya sebagai tebusan taruhan dan pada usia 5 - 10 tahun, anak itu telah diajari cara untuk membunuh dan sampai beranjak remaja, Gerry terus dilatih dengan beberapa latihan tambahan yang berbahaya. Membuatnya menjadi anak yang selalu diandalkan dan bisa menghindari ancaman di sekitarnya. Mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan juga menguasai 10 bahasa. Meskipun Gerry telah menunjukkan bakatnya yang luar biasa, ayahnya tetap menyiksanya dan tidak peduli Gerry yang tertidur di kamar mandi yang dingin.


Pada masa ketika Gerry berada dipuncak kegilaannya yang berhasil memberantas lawan ayahnya, saat itu juga pria yang jarang dipanggil (Ayah) itu pun meninggal karena suatu penyakit turunan yang menyerangnya. Gerry tidak begitu berduka atas kematian ayahnya, ia lebih bahagia dapat merasakan kebebasan dan warisannya. Namun tetap saja, ia yang memiliki wajah datar itu tidak pernah menunjukkan senyumnya.


Hal itu membuat Aletta yang sudah menjadi Ibu tirinya pun tergerak ingin memberi setengah cintanya pada Gerry, tapi rasa itu tidak pernah diterima. Bukan menghindar, tapi Gerry memang tidak ada niat merasakan dan menerima perasaan itu. Hingga mengabaikan terus menerus perhatian Aletta. Sangat susah menghancurkan benteng keras yang melindungi hati pria itu.


Tapi semenjak kenal dengan Edgar, watak Gerry perlahan sedikit berubah. Terkadang dia menunjukkan sikap konyolnya yang menjengkelkan dan kadang tertawa walau sering dipaksakan. Gerry merasa seperti mendapat kawan baru yang lebih cocok dianggap keluarga. Karena itu, terkadang Gerry tidak mau membebani Edgar jika mendapat masalah. Seperti ia yang dulu terkena racun saat sedang lengah tiga tahun lalu.


"Kakak, kenapa menangis?"


Gema tersentak kaget dan buru-buru mengusap air matanya. 


"Kak Gema mau pulang sekarang ya?" tanya Gempi yang datang dan tidak sengaja melihat Gema sesegukan. Tentu bocah itu merasa sedih mendengar masa lalu ayahnya yang keras dan tidak sepertinya. 


"Cu-cuma kelilipan tadi," jawab Gema mengucek matanya.


"Sini biar Gempi yang tiup." Gempi tersenyum lebar namun Gema menggelengkan kepala.


"Tidak perlu, ini sudah tidak kelilipan kok," ucap Gema yang sudah tenang.


"Kalau begitu, ayo kita pulang. Sudah jam tujuh pagi, Gempi mau lihat Papa dan Mama di rumah," ajak Gempi menunjuk jam tangannya yang lucu.


Dua anak itupun masuk dan mendekati Edgar dan Profesor yang selesai bicara.


"Om Egar! Gempi mau pulang." Gempi menarik ujung jas Edgar.


"Astaga, aku hampir lupa pada kalian." 

__ADS_1


Profesor geleng-geleng kepala melihat dua anak itu yang menginap di markas bersama Edgar.


"Hihihi, Om Egar pasti capek." Gempi tertawa dan melirik Gema yang masih diam. Kalau saja Gempi mendengar obrolan Edgar, mungkin dia akan seperti Gema.


"Profesol, Gempi mau pulang dulu. Kalau Papa sudah bangun, nanti Gempi telepon Profesol. Dadah, Profesol!" Gempi melambai dan segera menyusul Gema dan Edgar yang keluar dari lab.


Profesor sedikit tersenyum lega. "Seandainya kakek kalian masih hidup, mungkin kalian akan seperti ayahmu. Tapi beruntungnya, Tuan Gerry tidak seperti kakek kalian." Profesor pun lanjut meracik penawar.


….


Kini mobil Edgar berhenti di rumah Gerry. Dua anak kembar itu cepat - cepat turun.


"Om Egar! Terima kasih tumpangannya, kapan-kapan mampir ke sini ya!" ujar Gempi tersenyum ceria lalu berlari ke arah pintu.


"Oh, ada apa denganmu?" tanya Edgar pada Gema yang masih diam di tempatnya.


Gema yang menunduk pun mengangkat wajah lalu, "Terima kasih sudah menjaga Papa dan baik sama Papa Gema. Terima kasih, Om." Setelah bicara, Gema menyusul adiknya. Sedikit malu tapi ia senang adanya Edgar menolong kehidupan ayahnya.


"Pftt, dia seperti versi Gerry kecil tapi sayang sifatnya berbeda."


Sebelum meninggalkan tempat itu, Edgar sejenak memandangi sekitar rumah Gerry. Terlihat penjagaan di rumah itu sangat ketat. Pengawal terlihat berdiri di mana-mana dan itu membuat musuh sulit menerobos masuk.


"Meskipun ini yang terbaik, tapi aku akan terus mencari cara mengembalikan ingatanmu." Edgar melaju, pulang ke rumahnya untuk beritahu orang tua Samuel.


Gema dan Gempi yang sudah masuk, sontak terkejut mendengar ada suara dari dapur. 


"Kakak! Itu siapa?" bisik Gempi.


Dua anak itu tidak langsung masuk, mereka perlahan mengintip dan memperhatikan sosok laki-laki yang tinggi berdiri di depan kompor sambil mengaduk sesuatu di atas wajan.


Mulut dan mata Gempi melebar, melihat laki-laki itu adalah


"Papa!" panggil Gempi mengagetkan Gerry dan segera berbalik badan. Sontak mundur ketika anak perempuan itu menerjang lalu melompat ke arahnya.


"PAPAAAAAA!"


Gema menepuk wajah melihat adiknya yang sangat girang itu memeluk ayahnya.


"Horee, Papa Gempi sudah bangun," cium Gempi lalu menatap Gerry.


"Pempi?" ucap Gerry, sedangkan Gema yang menahan tawa mendengar nama itu.


"Ihh, bukan Pempi tapi Gempi," celetuk Gempi cemberut.


"Papa tidak ingat Gempi lagi ya?" tanya Gempi masih memeluk Gerry sambil mengerucutkan bibir kecilnya.


"Ma-maaf, ingatan tentang mu tidak ada di kepala," ucap Gerry sedikit gugup.


"Yaahhh, sedih deh." Gempi memanyunkan mulutnya.

__ADS_1


"Tapi tidak apa-apa, Gempi senang lihat Papa. Tapi sejak kapan Papa bangun? Dan kenapa tidak telepon Gempi?" tanya Gempi mulai lagi dengan segala pertanyaannya.


"Jangan bilang kalau Papa tidak tahu nomor hape Om Egar ya?"


"Atau Papa memang tidak mencari Gempi sama Gema ya?" Matanya yang bulat itu seketika disipitkan.


Gerry menggelengkan kepala lalu, "Siapa Om Egar dan siapa Gema?" tanya Gerry sambil memegang kepalanya yang sedikit sakit mendengar Gempi yang berisik pagi-pagi ini.


Gempi membuang nafas berat dan mengelus dada agar tetap sabar. Sambil menunggu jawaban anak itu, Gerry pun mendudukkan Gempi di atas meja lalu mengaduk nasi goreng campur telor ceploknya yang nyaris terlupakan.


"Papa, Om Egar itu Mafi —" putus Gempi berhenti.


"Mafi apa?" tanya Gerry menoleh. Seketika Gema mendekati keduanya lalu menjawab, "Sahabat Papa dan Gema itu adalah aku," ucap Gema berdiri di dekat kursi.


Gerry terdiam dan memandangi Gema. Ia pun ingat pada Gema tiga hari lalu yang berdiri di sebelah Chia dan kerjaannya selalu diam.


"Kalian berdua kembar dan kalian adalah nak-anakku?" tebak Gerry.


"Benar, Papa, hihihi!" ucap Gempi.


"Ha-ha-ha… begitu ya, ternyata selain punya istri dan Ibu tiri, aku juga punya anak kembar imut seperti kalian." Gerry tertawa canggung.


"Woahh, Papa hebat! Gempi mau juga dong makan itu, Papa." Gempi turun dari meja, merengek sambil menarik ujung celemek Gerry.


"Gema juga mau, tapi Gema mau ke atas dulu lihat Mama. Daritadi tidak turun-turun," ucap Gema tiba-tiba cemas.


"Tunggu!" Tahan Gerry.


"Hmm, kenapa Papa?" tanya Gempi yang mau ambil piring di rak.


"Itu, maaf," lirih Gerry tersenyum kaku.


"Ehhh, maaf? Papa kenapa minta maaf?" tanya Gempi berdiri di sebelah kaki Gerry lalu mendongak.


"Maaf, Pa-pa ti-tidak meng-ingat apapun tentang kalian. Bahkan tidak ingat tentang Ibu kalian. Papa juga bingung kenapa bisa lupa seperti ini." Gerry menunduk. 


Melihatnya tidak berdaya seperti itu, Gempi pun memeluk kaki ayahnya. "Lihat Papa sehat, sudah membuat Gempi senang. Jadi Papa jangan sedih, nanti Gempi dan Mama bisa bantu Papa, hihihi," ucap Gempi tersenyum manis.


"Terima kasih," balas Gerry tersenyum lalu melihat Gema yang berlalu pergi tanpa ucapan kata satupun. Gerry pun mengira satu anak itu tidak terlalu suka bicara, atau memang hubungannya tidak sedekat seperti Gempi?


"Papa, sambil nunggu Mama turun, bagaimana kalau kita bikin hamburger!" Tunjuk Gempi ke kulkas.


"Hamburger?" ulang Gerry garuk-garuk kepala.


"Iya, Papa! Gempi waktu tinggal di London suka bikin hamburger sama Mama. Sekarang Gempi mau bikin sama Papa. Papa bisa kan bikin itu?" tanya Gempi jalan ke kulkas lalu mengeluarkan kotak daging.


"Baiklah," ucap Gerry terima sebab tinggal cari resepnya dari metube.


"Yeahh, akhirnya Gempi bikin hamburger sama Papa." Gempi tertawa kekeh membuat Gerry ikut tertawa melihatnya yang sangat ceria.

__ADS_1


.


Kalau sudah sama Papanya, dapur terasa milik berdua wkwk


__ADS_2