Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
52. BAB 52 ll Malu - Malu Kucing


__ADS_3

"Itu Papa lagi duduk di depan tv, Mama." Tunjuk Gempi pada Gerry yang duduk sendirian menonton berita tapi matanya menatap kosong seperti orang yang sedang banyak pikiran.


"Kalau begitu, Gempi mau ngapain pakai handuk begitu?" tanya Chia menggandeng tangan Gempi sambil jalan ke arah Gerry.


Gempi berhenti lalu menjawab, "Mama, Gempi sama Gema mau mandi. Tadi di sana kami tidak bisa mandi. Kamar mandinya dipakai banyak orang. Gempi pergi mandi dulu, Mama."


"Muachh!" Gempi mencium punggung tangan Ibunya lalu berlari ke arah kamarnya. Kini Chia kembali tegang cuma berdua saja. Sontak terkejut ketika Gerry menoleh ke arahnya sehingga mata mereka bertatapan cukup lama.


Chia mengira Gerry akan memanggilnya, tapi pria itu memalingkan wajahnya juga dan sedikit tersipu, begitupun Chia mengalihkan pandangannya.


'Aduuh, kenapa aku deg-degan gini sih? Dia itu kan suamiku! Pria yang sangat menyebalkan di dunia ini. Tapi kenapa hari ini aku canggung sekali sih?' batin Chia.


"Anu…" ucap Chia dan Gerry kompak menoleh lagi.


"Ehhh, maaf, kau duluan saja," kata Gerry tambah grogi.


"Kalau ada yang mau kau katakan, lebih baik duduklah di sini biar aku bisa jelas mendengarkan mu," sambung Gerry sedikit bergeser.


Chia meremas jemarinya dan meneguk saliva susah payah. Tapi jika ia diam terus, hubungan ini tidak akan ada kemajuan. Chia pun terpaksa duduk di sofa yang sama dan juga sedikit bergeser.


"Ma-maaf, gara-gara aku kesiangan, kau jadi repot-repot bikin sarapan, padahal itu tugasku," ucap Chia mulai bicara.


'Haiss, harusnya dia yang minta maaf, bukan aku! Dia seharusnya minta maaf atas perbuatannya! Tapi kenapa aku malah yang merasa bersalah di sini sih?' gerutu Chia dalam hati.


"Ka-kau tidak marah, kan?" tanya Chia terbata-bata dan melirik Gerry yang menundukkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak marah, aku malah senang bisa membuat sarapan untuk kalian. Hanya saja—" putus Gerry menggantungkan ucapannya.

__ADS_1


"Ha-hanya saja apa?" tanya Chia.


"Perasaan ini terasa tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Seperti mendapat sesuatu yang baru dan asing."


Chia pun terpaku diam mendengar perkataan Gerry. Terdengar santai tapi terasa berat mengucapkannya. Seperti ada makna sendiri yang sulit dia artikan.


'Pe-perasaan apa?' pikir Chia memandangi wajah Gerry dari samping. Raut wajah yang datar tapi terlihat tampan rupawan. Chia sekali lagi memalingkan wajah ketika Gerry mengangkat pandangannya ke arahnya.


"Anu, sebenarnya dari tadi aku mau menanyakan ini padamu. Tapi melihatmu tadi tidur nyenyak, aku tidak enak membangunkan mu," ucap Gerry.


"A-apa yang mau kau tanyakan?" tanya Chia yang tidak sadar di lantai atas ada Gempi dan Gema yang diam-diam memperhatikannya.


"Hihihi, Mama sepertinya malu-malu kucing." Gempi tertawa geli di samping Gema yang juga geli melihat orang tuanya duduk berduaan.


"Mungkin ini agak kurang sopan, tapi kalau tidak ditanyakan, aku pasti tidak akan tahu siapa nama istriku,"


"Itu, si-siapa na-namamu?"


Chia menganga, pertanyaan yang sangat mengejutkan.


"Ma-maaf, aku tidak bermaksud —" putus Gerry tatkala bibirnya disentuh jari telunjuk Chia. Ia sedikit terkejut dengan tindakan Chia.


"Sudah jangan bicara maaf terus, namaku itu Chia." Chia menjawab lalu duduk membelakangi Gerry.


"Ji-jika masih ada yang mau kau tanyakan, katakan saja. Nanti aku jelaskan padamu," ucap Chia menutup wajahnya yang merah. Tidak kuat melihat wajah polos tidak bersalah suaminya itu. Padahal kalau dipikir-pikir, kesalahannya sangat banyak. Tapi karena amnesia, Gerry terlihat pria polos yang imut.


'Ya Tuhan, aku ingin sekali memarahinya, tapi satu ciptaanmu ini terlalu manis sampai aku seperti terkena diabetes.' Chia mendumel pada dirinya sendiri yang aneh.

__ADS_1


Mendengar itu, Gerry pun sedikit lega sebab ada puluhan pertanyaan yang mau dia lontarkan. Tapi sontak terkendala gara-gara cabe rawitnya datang.


"Mama! Papa!" Gempi menuruni anak tangga sambil menyeret Gema. Lama-lama, satu bocahnya itu seperti koper yang diseret terus.


"Wah, apa yang Mama dan Papa bicarakan sekarang?" tanya Gempi berdiri di depan Gerry dan Chia. Sedangkan Gema memegang kepalanya yang lumayan pusing.


"Cu-cuma bahas hal biasa," ucap Chia cepat.


"Oh ya, kalian sudah mandi?" tanya Gerry.


Gempi menarik nafas banyak-banyak lalu menjawab riang, "Belum, Papa."


"Lho, kenapa belum?" tanya Chia menatap dua anaknya yang sudah pakai jubah mandi.


Gempi pun meraih satu tangan Chia dan Gerry kemudian mengulas selebar mungkin senyum manisnya itu.


"Mama, Papa, ayo kita mandi sama-sama."


Gema yang tadi pusing langsung hilang tapi kedua matanya melotot mendengar permintaan adiknya. Bukan cuma dia, Gerry dan Chia juga membisu diam lalu saling bertatapan.


"Kita mandi sama-sama?" Keduanya saling tunjuk menunjuk. Seketika Gema tersadar, ia pun mendadak merengek dan setuju ingin mandi sama-sama karena ada sesuatu yang ingin Gema lihat dari tubuh ayahnya.


.


🤭 Waduh mau lihat apa itu, Gem?🤣mau adu burung pipit? Pedang? Wkwk Canda yeh✌️


Maaf ya kalau banyak salah penulisannya, author nulis ini waktu malam jadi agak ngantuk, mau nulis di siang hari tapi kerjaan banyak banget🙏😁tinggalkan jejak likenya ya Mama - Mama cantik dan Kakak - Kakak manis 😘

__ADS_1


__ADS_2