
"Maaf, Nyonya. Tuan masih butuh perawatan tambahan di sini." Profesor menolaknya.
"Cih, ya sudah. Kalau dia sadar lagi, katakan padaku!"
"Baik, Nyonya." Profesor mengiyakan saja dan membiarkan Aletta pergi.
"Mama." Gema memegang tangan Ibunya dan mendongak sedikit.
"Hmm, kenapa? Gema mau pulang?"
"Tidak Mama, Gema masih mau main di tempat ini dan Mama jagain Papa dulu di sini." Gema menunjuk Gerry yang kini diperiksa Profesor.
"Tapi, Mama tidak bisa membiarkan kalian main sayang, tempat ini luas dan ada banyak orang yang bisa saja punya niat jahat pada kalian nanti," ucap Chia gelisah.
"Mama, tenang saja! Gema dan Gempi itu anak pintar. Tidak gampang ditangkap orang, hehehe," kata Gempi merangkul bahu Gema.
"Baiklah, tapi kalau ada yang mencurigakan, laporkan itu sama Mama, mengerti?"
"Mengerti, Mama!" Gema dan Gempi pun keluar, meninggalkan Chia yang duduk di kursi sambil menunggu Gerry siuman. Sedangkan Profesor meracik obat yang sama untuk adiknya Samuel, memberikan obat yang memperlambat racunnya menyebar.
"Apa semua ini ada kaitannya sama pertemuan waktu itu dengan Rion? Apa kejahatan ini adalah perbuatan Rion?"
"Ck, kalau saja ada kamera, aku bisa merekam pembicaraan mereka dan mengirimnya ke pihak berwajib. Tapi Rion itu licik dan banyak trik cara menghindari kecurigaan polisi." Chia mengepal tangan lalu terkejut.
"Sebentar, aku baru sadar, siapa yang membocorkan informasi Tuan Edgar yang berhasil menemukan sang peracik racun?" gumam Chia lalu melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Celaka!" Chia berdiri, mengejutkan Profesor.
"Ada apa, Nona?" tanya Profesor mendekat.
"Profesor, saya merasa di tempat ini ada mata-mata musuh," jawab Chia membuat Profesor panik.
"Mata-mata? Mengapa Nona mengatakan itu?" tanya Profesor lebih mendekat dan berbisik lalu melirik cctv ruangan.
"Jika tidak ada kebocoran info, seharusnya sang peracik tidak bisa dibunuh. Saya yakin orang yang membunuhnya memiliki mata-mata di tempat ini. Profesor, saya merasa tempat ini sudah tidak aman lagi untuk melanjutkan perawatannya, saya harap anda setuju ayah anak-anak dirawat di rumah kami saja," jelas Chia.
Profesor diam dan menyentuh dagu.
"Anda benar, Nona. Saya pun baru sadar hal itu. Sekarang tetaplah di sini, saya mau melaporkan ini pada ketua tim keamanan untuk menyiapkan pemeriksaan darurat pada setiap anggotanya." Profesor keluar dari ruangannya. Chia kembali duduk di kursi, berusaha tidak panik tapi sulit membuatnya tenang. Sebab kedua anaknya tidak bersamanya sekarang.
"Aku tidak bisa diam saja, Gema dan Gempi ada di luar." Chia berdiri, mau keluar mencari dua anaknya tetapi tangannya tiba-tiba ditahan. Chia menoleh dan terkejut melihat tangan Gerry menggenggamnya. Ia pikir pria itu sudah sadar lagi tapi rupanya tindakan itu reflek tanpa adanya kesadaran pria itu.
"Kakak! Lihat, orang itu punya tato mirip gangster jahat." Gempi menunjuk preman bertato naga milik Robertus.
"Benar, Tuan Rion. Wanita itu memiliki hubungan spesial dengannya, dan juga mereka punya dua anak kembar. Salah satunya memiliki rupa yang persis dengan Bos Hexion." Gangster itu melaporkan apa yang selama ini ia dapatkan.
"Dan hari ini juga, pria itu sudah siuman tetapi —"
"AKHHHHHHHHHHH!" Gangster itu berteriak lantang. Hapenya terjatuh begitu jauh darinya setelah menerima sengatan listrik dari alat penyetrum yang dibawa Gema.
Panggilan itu seketika putus di tangan Gempi dan gangster itu terkejut melihat dua anak kembar Chia berhasil membongkar penyamarannya.
__ADS_1
"Hai, Om jahat. Apa kau sudah puas bermain di sini? Jika belum, bagaimana kalau bermain dengan kita berdua?" Gema dan Gempi menyeringai tipis sambil menunjukkan pistol di tangannya.
Apa gangster itu takut? Tidak!
Gangster itu bangkit walau sebelah kakinya mati rasa. Ia ingin kabur sebelum ditembak mati namun langkahnya itu tidak ada apanya di mata Gempi yang bisa cepat mengejarnya.
"Hai, Paman. Mau Gempi bantu keluar dari tempat ini?" tanya Gempi yang berlari kecil di sebelahnya. Gangster itu menggertak rahangnya, ingin menangkap Gempi dan mau mematahkan tulang gadis itu tapi Gema dengan perhitungannya langsung menembak tepat ke titik lemah gangster itu.
Doaaaar!
Peluru Gema berhasil menumbangkannya. Tidak sia-sia ia dilatih oleh pelatih tempur Hexion.
"Kakak! Gangsternya berdarah! Cepat panggil ambulans, nanti bisa meninggal!" Panik Gempi.
"Tenanglah, ini cuma peluru karet. Tidak menimbulkan luka parah. Dia hanya pingsan setelah titik lemahnya dilumpuhkan."
"Titik lemah? Yang mana kakak tembak?" tanya Gempi mengamati darah itu mengalir dari seragam celananya.
"Kamu akan tahu jika ikut latihan bersamaku," ucap Gema menyimpan pistolnya. Terlihat mainan, tapi amunisinya benar-benar asli peluru yang bisa melukai orang.
"Ihhh, Gempi mau ikut, tapi Tante Susi mau Gempi latihan main piano." Gempi cemberut tidak bisa seperti Gema yang dilatih melawan musuh.
"Ayo, kita bawa orang ini ke tim keamanan Papa!" Gema dan Gempi menyeret gangster itu untuk diintrogasi.
.
__ADS_1
Good Job Gema😁