
Sudah beberapa jam berlalu,Gerry belum sampai ke rumahnya, dan itu membuat Aletta yang menunggunya tidak bisa tenang. Melihatnya mondar-mandir tidak jelas di depan televisi membuat Bik Odah terheran - heran, apalagi Aletta kadang menggerutu sendiri tanpa alasan yang jelas.
Bik Odah cuma lewat saja dan masuk ke arah ruang dapur, membiarkan majikannya itu di sana.
"Duhh, sudah jam enam lewat, tapi kenapa Gerry belum pulang juga?"
"Katanya dia mau membawa anak - anak dan istrinya, tapi kenapa sampai sekarang belum menampakkan batang hidung mereka?"
"Atau jangan - jangan dia berbohong supaya aku Pulang dan tidak lama - lama di markasnya?"
"Ck, bikin mood aku tambah rusak!" kesal Aletta terpaksa berhenti menunggu Gerry lalu ia naik ke atas menuju ke arah kamarnya. Yang ditunggu - tunggu memang sedang di dalam perjalanan pulang, namun tujuan mobilnya menuju ke rumah lain milik Gerry.
"Ehem, sampai kapan kau terus pingsan?" tanya Gerry mendehem kecil supaya tidak membangunkan si kembar mungilnya yang masih terlelap di kursi belakang.
Ia melirik Chia yang sedikit bergerak tadi. Terpaksa, Chia pun membuka mata dan memperbaiki duduknya. Tapi pura - pura baru bangun dan tidak tahu apa - apa.
"Uhhh, aku di mana?" tanya Chia.
"Kau sedang ada di dalam mobilku," ucap Gerry.
"Akhh, siapa kau?" tanya Chia pura - pura terkejut. Tapi ekspresi buatannya itu terlihat lucu di mata Gerry yang sadar istrinya sedang bersandiwara.
"Bukankah tadi aku sudah memperkenalkan diri, apa kau tidak mendengarnya itu?" tanya Gerry balik dengan tatapan meremehkan.
Chia sedikit bergeser ke pintu mobil lalu bicara, "Jadi kau benar - benar suamiku?" tanya Chia.
"Lihatlah sendiri, aku punya cincin pernikahan yang mirip denganmu itu dan aku punya banyak foto - foto dirimu yang jadi pengantin." Jelas Gerry yang memang memiliki album pernikahannya.
__ADS_1
"Jadi… kau bukan penjahat, kan?" tanya Chia lalu dijawab dengan tawa Gerry yang pecah, namun segera berhenti sebelum anak - anaknya terbangun dan merusak moment berduaan dengan istrinya itu yang terlihat menggemaskan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Chia lagi.
"Hahaha… memang wajahku ini model penjahat?" Tunjuk Gerry ke wajahnya.
"Iya, mirip penjahat buronan," kata Chia langsung membuat Gerry menekuk wajahnya. Ia baru sadar wajahnya sedang dipoles oleh penyamarannya dan dilihat dari kaca spion, memang seperti penjahat yang menyeramkan. Tetapi melihatnya lesu seperti itu, Chia sedikit menahan tawanya.
"Maaf, aku bercanda kok, Mas Rios," ucap Chia sontak lagi membuat Gerry terkejut. Wajahnya tidak ditekuk, tapi ia berpaling, menyembunyikan sedikit rona cabai merah di pipinya.
"Mas Rios, kenapa?" tanya Chia melihat Gerry menepikan mobilnya dan kini menatapnya serius.
"Begini, aku senang kau selama ini masih hidup dengan baik dan mampu merawat dan membesarkan anak - anak sendirian, jadi untuk menebus kesalahanku enam tahun yang lalu, malam ini aku mau membawamu ke rumah, kuharap kau tidak menolak dan mau tinggal bersamaku mulai sekarang," ucap Gerry ingin mengambil perhatian istrinya itu.
Chia terdiam, masih memikirkan keputusan yang tepat. Sebab di sisi lain, anak - anaknya memerlukan Susi, dan di lain sisi lagi, ia membutuhkan suaminya untuk balas dendam.
"Baiklah." Gerry sedikit tersenyum melihat Chia mengangguk setuju, namun senyum liciknya itu sirna ketika Chia menambahkan sebuah syarat.
"Syarat, apa?" tanya Gerry agak was - was. Benar saja, Chia memintanya balas dendam dan itu teruntuk dirinya sendiri. Memang gokil! Minta bantuan ke orangnya langsung.
"Aku mau kau bantu aku balas dendam pada ketua Hexion!"
"Ke-ketua Hexion? Ada urusan dan masalahan apa sampai kau mau balas dendam padanya?" tanya Gerry ingin tahu lebih pasti alasan kebencian Chia padanya.
Chia pun memperlihatkan dua tangannya dan menjawab, "Kemarin aku diculik, padahal aku tidak tahu apa - apa, tapi dia masih saja melukaiku. Padahal kan aku kemarin baru pulang ke kota ini, tapi akibat orang itu, aku jadi takut keluar bersama anak - anak, hikss," tangis Chia mengusap air matanya. Berpura - pura lemah di depan suaminya supaya cepat luluh dan mau mengabulkan permintaannya.
Gerry sedikit tertegun melihat Chia yang nampak bersungguh - sungguh tersiksa akibat ulahnya itu. Ia pun mengambil dua tangan istrinya, cemas juga melihat wanita itu mengalami trauma. Itu akan sulit baginya di suatu saat nanti.
__ADS_1
Tidak mau rasa benci itu menumpuk, Gerry pun mengusap pelan-pelan kedua pergelangan tangan Chia, membuat hati wanita itu lumayan tersentuh diperlakukan selembut itu.
"Apa ini masih sakit?" tanya Gerry.
"Tentu saja, ini sakit! Dan gara - gara ini, aku tidak bisa lagi mengajari anak - anak," ucap Chia terisak-isak bohongan demi menyempurnakan aktingnya.
"Apa yang kau ajarkan pada anak - anak?" tanya Gerry lalu mengambil kotak P3K. Ia mengolesi obat merah dan juga sedikit membalutnya dengan perban. Sebagai Mafia yang selalu bergul4t dengan kejahatan, tentu saja Gerry tidak mengenal yang namanya cinta, tapi ia masih tahu bagaimana caranya memberi perhatian itu.
"Aku mengajari mereka bermain piano," ucap Chia lalu melirik Gema dan Gempi yang masih tidur di sana. Di hatinya, Chia sedikit merasa bersalah, karena dia mengira sudah melahirkan anak orang lain bukan anak suaminya.
"Ohh, kenapa kau tersenyum?" tanya Chia heran melihat Gerry tiba - tiba tersenyum.
Gerry mengelus kepala Chia dan menjawab, "Aku kagum, istriku sangat berbakat di bidang ini sampai bisa menghasilkan pertunjukkan menakjubkan dari anak - anak pianis kita di malam ulang tahun itu," ucap Gerry yang tidak sadar sedang keceplosan.
Chia terkejut, bukan karena dipuji, tapi ada yang aneh dari ucapan suaminya.
"Sebentar, kenapa kau bisa tahu hal itu?" tanya Chia mulai curiga.
'Astaga! Kenapa aku katakan itu!' Panik Gerry dalam hati lalu meneguk saliva dengan kasar ketika istrinya itu perlahan mendekati wajahnya. Tampak mata Chia terpaku pada bibir Gerry yang agak familiar, mirip dengan seseorang yang sudah kejam menyekap dirinya di ruangan gelap.
"Hai, kau harus tahu! Anak - anak sangat terkenal dan karena itulah aku tahu mereka menghadiri ulang tahun malam itu, Baby," ucap Gerry berkeringat dingin, merasa seluruh tubuhnya di banjiri keringat basah. Ia berharap Chia duduk manis kembali tapi wanita itu lebih mendekatinya. Apalagi satu tangan Chia itu tiba - tiba meraih dasinya dengan gerakan agresif.
"Kau benar, tapi apa aku boleh menciummu?" tanya Chia mendadak meminta hal aneh, membuat kedua netra Gerry membola sempurna.
"Cium? Ciuman sungguhan? Kau mau berciuman dengan pria tua dan jelek yang kumisan ini?" tanya Gerry sangat panik, takut Chia mengenalinya dengan cepat.
"Iya, aku mau cium suamiku, apa kau tidak suka?" Tatap Chia dengan intens. Menatap dalam - dalam mata Gerry yang juga mirip dengan seseorang yang sangat ingin dia hancurkan. Mumpung anak - anaknya tidur, tidak ada salahnya menggoda suaminya itu. Wibawa mafia itu entah kenapa luntur malam ini, merasa tidak sanggup menghadapi permohonan istrinya sendiri. Rasanya, Gerry sudah tidak tahan dalam penyamarannya itu, alias ingin segera menerkam istrinya.
__ADS_1
.
Itu hal yang sangat disukai suamimu Chi🤣cuman dia lagi di mode penyamaran supaya kau tidak ngamuk-ngamuk dulu🤭 adu-aduh, mau dicium aja harus keringetan basah gitu ya 🤭