
"Ma-mandi? Kalian ngajak Mama mandi sama Pa-papa kalian?" Chia melirik Gerry yang juga sama terkejut sepertinya.
"Iyah, Mama! Gempi dan Gema kan cuma sering mandi sama Mama saja. Jadi Gempi dan Gema mau juga mandi bersama Papa, pasti asik bisa mandi sama orang tua, hihihi," kikik Gempi.
"Dan lagi, teman-teman kita di sekolah selalu cerita tentang kegiatan mereka bersama orang tuanya. Gema dan Gempi juga mau berbagi pengalaman ke teman-teman," ucap Gema cari alasan supaya Chia setuju.
"Ta-tapi…"
"Pa-papa kalian itu baru sadar, Mama khawatir kalau Papa kalian belum diperbolehkan mandi, sayang," kata Chia gelagapan dan melihat Gerry diam tapi seketika pria itu mengendus-endus dua ketiaknya.
"Tapi Mama, kalau dihitung-hitung, Papa sudah seminggu tidak mandi, Iyah 'kan Papa?" tanya Gempi pada Gerry.
'Haduh, semoga dia tidak setuju,' batin Chia berharap suaminya menolak tapi
"Papa, ayolah mandi hari ini sama kita." Gempi terus memohon dengan keimutan super duper menggemaskan yang membuat hati tidak bisa menolak.
"Baiklah, bau badan Pa-papa rasanya sudah tidak enak. Jadi kita mandi saja sekarang," ucap Gerry sedikit terpaksa lalu melihat Chia yang nampak raut wajahnya berusaha tenang tapi kelihatan panik.
'Akhhhh, yang benar saja? Anak-anak mau ayah mereka melihat tubuhku? Walau pernah dilihat sih, ta-tapi ini terlalu mendadak!' pekik Chia hanya dalam hati.
"Mama, mau 'kan?" tanya Gema sedikit senang mendengar kesetujuan ayahnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gerry.
"Ah, Iyah! Aku baik-baik saja kok," ucap Chia cengengesan.
"Jadi… Mama mau atau tidak nih?" tanya Gempi dan Gema.
"Hahaha, apa sih yang tidak boleh untuk anak-anak Mama, haha," ucap Chia disertai tawa bodohnya.
"Horeee! Ayo kita sama-sama ke atas Mama!" Gempi melompat riang lalu menarik-narik tangan Ibu dan ayahnya yang saling canggung satu sama lain.
"Kah kalian bertiga pergi duluan saja, nanti Mama ke kamar kalian," ucap Chia berdiri.
__ADS_1
"Mau kemana, Mama?" tanya Gema.
"A-ada yang mau Ma-mama ambil di kamar," ucap Chia tersenyum lebar.
"Ahhh, Mama jangan ada niat kabur ya!" ujar Gempi menatap serius.
"Nggak kok sayang, Mama cuma mau ambil sampo kok, bukan mau kabur. Kalian berdua duluan ya sama Papa," ucap Chia bergegas pergi.
"Pftt, apa Mama malu ya?" gumam Gema sedikit geli melihat Ibunya. Ia pun bersama Gempi dan Gerry ke kamarnya duluan.
"Papa! Pakai pelampung yuk!" ujar Gempi mengganti jubah mandinya pakai pelampung berbentuk bebek.
"Ayo Papa, ganti dan pakai pelampung ini juga!" pinta Gempi memberi satu pelampung yang lumayan pas untuk Gerry.
Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu Gema untuk melihat tubuh ayahnya yang dibalut oleh baju kaos abu-abunya.
Gerry sedikit ragu dan melirik pintu kamar si kembar yang terbuka.
"Papa, jangan diam, ayo pakai ini," rengek Gempi berdiri di kakinya dan mendongak dengan bibir mungilnya yang manyun.
"Ihh, kenapa harus malu? Gempi dan Gema kan anak-anaknya Papa. Kalau anak orang lain baru deh Papa jangan ganti baju," ucap Gempi cemberut.
"Ba-baiklah," ucap Gerry pasrah menuruti si kecilnya. Pria itu berdiri di depan cermin lalu melepaskan baju kaosnya. Mata bulat Gempi langsung berseri-seri melihat otot lengan dan perut Papanya yang memanjakan kedua matanya dan juga Gema yang tertegun kagum. Namun kedua anak itu sama-sama terkejut melihat bekas luka sayat, cambuk dan luka tembak membekas di tubuh Gerry yang banyak.
Bukan hanya dua anak itu yang terkejut, tapi Gerry juga syok melihat pantulan dirinya. Ia bingung dari mana luka-luka itu berasal?
"Woah, Papa Gempi keren! Tapi Gempi juga kasihan lihat Papa yang banyak lukanya," lirih Gempi sedih melihatnya.
"Papa, dari mana luka-luka Papa ini?" Gempi bertanya sambil menyentuh luka sayat itu. Sedangkan Gema menunduk dan merem4s ujung jubah mandinya. Tidak tahan membayangkan penyiksaan yang diterima ayahnya. Luka sayat dan tembakan itu pasti berasal dari latihan yang berbahaya dan bekas cambukan itu sudah tentu dari ayah Gerry alias kakeknya yang kejam.
"Maaf, Pempi, tidak ada ingatan apapun tentang ini," lirih Gerry juga sedih. 'Sepertinya aku begitu banyak kekurangan. Pasti luka-luka ini aku dapatkan dari masa laluku. Sebenarnya, aku ini siapa?' pikir Gerry memegang kepalanya lalu terkejut ketika Gempi memanjat punggungnya dan memeluknya dari belakang.
"Walau Papa punya luka seperti ini, Papa tetaplah Papa Gempi yang hebat, hehe," ucap Gempi berniat menghibur dengan pujiannya. Gerry tersenyum lega melihat pandangan dua anak itu tidak memperlihatkan ketakutannya, melainkan mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Papa, apakah ini masih sakit?" tanya Gema mendekatinya.
"Tidak sakit, cuman —" kata Gerry berhenti.
"Cuman apa, Papa?" Dua anak kembarnya serempak bertanya.
Gerry dengan tangan kirinya menutup mata kirinya.
"Mata Papa yang sakit ya?" tanya dua anak itu lagi.
"Ini agak aneh, mata sebelah yang ini tidak seperti mata kanan Papa," ucap Gerry lalu mengerjapkan mata kirinya yang sedikit dapat melihat walau tidak jelas, tapi sebenarnya ada sesuatu yang aneh dari Indra mata kirinya.
"Kalau begitu, sepertinya Papa harus periksa ke rumah sakit," kata Gema cemas melihat raut wajah ayahnya.
"Iyah! Nanti setelah mandi, kita ke tempat Dokter mata hihi," tawa Gempi lalu mencubit gemas pipi ayahnya.
"Kalau mata sebelah Papa rusak, Papa tenang saja, Gempi siap siaga jadi mata-mata Papa," ucapnya tersenyum sumringah.
"Terima kasih, kalian anak-anak yang perhatian." Balas Gerry tersenyum.
"Iya dong, Gempi itu seperti Mama yang perhatian hihi," ucap Gempi menepuk dadanya dengan bangga.
"Hmm, ya sudah, ayo masuk mandi!" Gema berjalan ke kamar mandi bersama Gempi dan ayahnya menyusul di belakang. Ketiganya mendekati bathub dan mulai melakukan ritual mandi bersama alias menyediakan sabun dan yang lainnya sambil menunggu Chia datang.
Wanita itu nampak berdiri di depan cermin riasnya dan melihat pantulan dirinya yang memakai sesuatu yang bukan jubah mandi. Sejenak ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu mendesis tidak karuan.
"Tenang Chia, kau harus yakin pria itu pasti tidak bertelanj4ng di sana! Gema dan Gempi tidak akan biarkan itu terjadi. Pasti Rios saat ini pakai boxer dan baju tipis. Tapi kuharap dia pakai baju sepertiku juga," gumam Chia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya lega.
"Okeh, ayo ke sana! Dan jangan panik."
Chia pun keluar dari kamarnya. Berharap tidak panik, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Chia terdiam mematung setelah membuka pintu kamar mandi anaknya dan melihat isi ruangan itu dipenuhi busa. Lantai dan atap semuanya ada busa dan bahkan di seluruh tubuh Gema dan Gempi bagaikan diselimuti buih-buih busa. Tapi lebih parahnya, Chia terperangah melihat Gerry yang cuma memakai boxer menunjukkan sixpack yang memukau mata. Tapi setelah diperhatikan lebih lama lagi, pandangannya teralih ke luka bekas Gerry.
Chia pun mengingat malam pertamanya bersama pria yang juga memiliki bekas luka. Menandakan Gerry memanglah suaminya yang sudah dua kali bermain cinta bersamanya. Kedua pipi Chia mendadak merah merona. Sudah beberapa tahun lalu, tapi ingatan dirinya yang digagahi membuatnya berdebar-debar.
__ADS_1
..
Adegan malam pertama gimana ya🤭hihi