Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
23. BAB 23 ll Papa Sudah Insyaf


__ADS_3

Sebelum orang - orang berkumpul, Gerry terpaksa mengangkat Chia dan mengabaikan larangan Gema.


"Om, mau dibawa kemana Mamanya Gempi?" tanya anak perempuan itu menyusul dan menarik Gema sebelum tertinggal di belakang.


Gerry tidak menjawab, ia terus berjalan ke arah mobilnya. Setelah meletakkan Chia ke kursi sebelah pengemudi, Gerry pun baru menjawab, "Hai, anak cantik, Ibumu perlu dibawa pergi dari sini," ucap Gerry.


"Mau dibawa kemana?" tanya Gema masih menekuk wajahnya dengan dingin.


"Tentu saja pulang ke rumah kita!" jawab Gerry tersenyum semanis mungkin.


"Rumah kita? Rumah yang mana, Om?" tanya Gempi.


Gerry menghembus nafas, merasa panggilan itu sangat kurang enak di indra pendengarannya. Ia pun berjongkok di depan Gema dan Gempi lalu berkata, "Nama kalian Gema dan Gempi kan?" tanya Gerry walau sudah tahu. Tapi ia ingin mendengarnya langsung dari mulut kecil anak kembarnya.


"Iya, Om! Aku Gempi, ini Kakak Gema." Gempi merangkul Gema dan tersenyum setengah tulus.


"Apa nama lengkap kalian?" tanya Gerry ingin tahu.


"Hmm, apa ya, Kak?" tanya Gempi pada Gema yang tidak banyak bicara itu.


"Tidak punya," ucap Gema lalu sedikit menunduk kemudian mendongak ketika sentuhan lembut mendarat di kepalanya. Gema tertegun melihat tangan besar milik Gerry mengelus - elusnya.


"Kalau begitu, mulai sekarang, nama kalian akan ditambahkan dengan nama —" putus Gerry gara - gara Gempi melarang.


"Jangan, Om! Jangan ditambah pakai namanya Om!" ucap Gempi.


"Hah, kenapa?" tanya Gerry.


"Habisnya, Om itu bukan Papa kita," ucap Gempi mengejutkan Gerry.


"Masa sih?" desis Gerry dan tertawa dalam hati melihat kepolosan Gempi. Anak perempuan chubby yang cocok sekali diajak bercanda dikala dirinya stress.


"Iya, coba deh lihat kita, Om dan kita tidak ada mirip - miripnya! Gempi itu cantik, dan Kak Gema itu ganteng, kalau Om tidak ada imut - imutnya," ucap Gempi menunjuk wajahnya dan juga Gema.


"Tapi kenapa Gempi tidak mirip sama Gema? Hayo... pasti anak pungut kan?" canda Gerry menebak. Meski candaan tapi Gema dan Gempi berhasil dibuat kaget.


"Ihhh, bukan! Gempi dan Gema itu saudara! Kita lahir sama - sama, Om! Jangan bilang gitu dong," ucap Gempi mau menangis.


"Pffftt, sorry, jangan menangis ya, Papa canda kok," ucap Gerry menepuk - nepuk pelan kepala Gempi sebelum air mata putrinya itu menetes dan itu bahaya sekali, sebab Gema bisa saja melayangkan tinjunya ke wajah Gerry langsung.


"Hmm, om!" ucap Gema tiba - tiba mau bicara.


"Kenapa?" tanya Gerry pindah melihat anak kulkas 10 pintunya itu.

__ADS_1


"Om ini, suaminya Mama kita, kan?" tanya Gema masih ingin memastikan.


"Iya dong, Papa itu adalah pemimpin utama di keluarga," ucap Gerry berdiri dan menunjukkan otot lengannya yang luar biasa besar, sehingga membuat Gempi diam terpana.


"Kalau Om memang pemimpin di keluarga, seharusnya dulu tidak meninggalkan Mama kita!" kata Gema marah.


Gerry terbungkam mendengarnya, ia pun cengengesan.


"Iya tuh, Om laki - laki tidak bertanggung jawab! Seperti Papa kita yang jahat!"


Ucapan Gempi sangat menusuk sampai ke hulu hatinya. Merasa cukup sakit dianggap jahat, tapi kalau dipikir-pikir memang jahat dan tidak berperasaan. Gerry jadi cemas gimana reaksi anak - anaknya itu kalau sampai tahu ia pernah menyekap Ibu mereka. 'Hadeh, sepertinya mereka belum sadar kalau aku ini ayah kandung mereka, apa aku buka penyamaran ku ini?' pikir Gerry gemas.


'Tidak deh, aku perlu mengambil perhatian anak - anakku dulu. Setelah itu, aku bakal bongkar siapa identitas Papa mereka.'


"Hahaha... dulu itu Papa khilaf, sekarang Papa sudah insyaf," ucap Gerry nyengir tapi ekspresi datar Gema dan Gempi sedikit menyebalkan.


"Cih, kalau begitu, berhenti bicara seperti itu! Om jangan lagi bicara seolah Om itu Papa kita!" ujar Gema tidak suka Gerry bicara -Papah- terus.


"Hilih, anak satu ini memang cukup ngeselin, aku ini Papa kalian tahu!" gerutu Gerry hanya dalam hati.


"Okeh deh, terserah kalian!" kata Gerry mengalah saja.


"Yeah, kalau begitu, ayo Kak kita masuk ke dalam mobil!" Gempi naik duluan lalu disusul Gema.


"Om, cepat masuk, jalankan mobilnya! Mama Gempi tidak boleh tidur di dalam mobil terus," pinta Gempi.


"Astaga, kalau saja kalian bukan benihku, sudah ku picek - picek mulut kalian itu," gerutu Gerry dalam hati gemas.


"Om, cepat dong! Jangan bengong saja di situ," pinta Gempi teriak lagi, dan Gema cuma duduk manis di kursi tengah.


"Ya yang mulai putri," ucap Gerry tersenyum kecut lalu segera duduk ke kursi pengemudi.


"Hihihi, jangan marah ya, Om. Kalau marah - marah, nanti cepat tua. Kalau tua, Mama Gempi nanti tidak bangun - bangun. Kasihan Mama Gempi, Om." Gempi tertawa kekeh dan sedikit menyukai ekspresi kesal Gerry yang terlihat jelas ada kerutan di pelipis matanya.


"Ya, Nona, tenang saja. Om tidak marah kok," ucap Gerry mengelus dada, berusaha tahan emosinya mendengar celoteh - celoteh putri kecilnya.


Sedangkan Gema yang selalu datar pun, ia diam - diam menahan tawa melihat adiknya yang suka banyak bicara itu mulai berani perintah - perintah.


"Kalau begini, aku bisa kerjasama untuk menghancurkan organisasi Papa itu!" gumam Gema dalam hati lalu ia pun bertanya ke Gerry yang menyetir mobilnya.


"Om!" panggil Gema sambil melirik Ibunya yang masih pingsan.


"Hmm, apa?" tanya Gerry tanpa menoleh, ia lebih fokus menyetir. Khawatir ada mata - mata dari musuh wilayahnya yang mengintainya.

__ADS_1


"Nanti setelah sampai, Gema mau bicara sesuatu sama Om!"


"Tidak usah menunggu kita sampai, katakan saja apa mau mu?" tanya Gerry merasa si sulung dinginnya itu mau mengutarakan permintaan.


"Kalau mau kita panggil Om itu Papa, Om harus turuti syarat kita!" pinta Gema.


"Hmm, syarat apa?" tanya Gerry sudah menduganya.


"Bantu kita hancurkan organisasi Papa Gerry!"


Chitttt!


Mobil mendadak berhenti di tepi jalan. Gerry tentu kaget diberi syarat itu. Begitupun Gempi juga terkejut ambisi kakaknya yang besar.


"Kenapa Kak Gema mau hancurkan Papa?" tanya Gempi.


"Karena orang itu sudah jahat sama Mama!" kata Gema.


'Waduh, apa mereka sudah tahu lebam di tangan Ibunya itu adalah ulahku?' pikir Gerry dan melirik lebam di tangan Chia yang kelihatan masih bengkak. Sedikit merasa kasihan melihat luka itu yang pasti sakit.


"Jahat kenapa?" tanya Gerry ingin tahu alasannya.


"Om itu harus tahu! Laki - laki yang bernama Gerry itu pembawa sial bagi Mama!"


Hati Gerry langsung sakit mendengarnya. 'Pembawa sial? Enak saja! Justru Papa kalian ini pembawa keberuntungan tahu! Kalau saja bukan Papa, dia tidak bisa melahirkan anak kembar ngeselin seperti kalian!' gerutu Gerry lagi - lagi cuma mengeluh di dalam hati.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Gerry sudah merasa tidak berdaya menyetir mobilnya.


"Karena, gara - gara Mama lihat Papa kemarin, Mama jadi dilukai sama anjing! Lihat, tangan dan kaki Mama sampai bengkak, ini gara - gara Papa kita, Om!" jelas Gema mengepal tangannya.


Gerry memegang dadanya, kali ini ia yang hampir terkena serangan jantung. Ini lebih parah daripada mendengar jeritan musuh - musuhnya. Diroshting anak sendiri memang menyakitkan.


"Waduh, Om kenapa?" tanya Gempi melihat Gerry yang pucat dan berkeringat dingin.


"Hahaha, soal itu, kita bicarakan di rumah nanti," tawa Gerry berusaha santai.


"Okeh, Om!" kata Gema sedikit tersenyum paksa dan bersandar menikmati mobil melaju kembali.


"Haiss, tampaknya akan sangat sulit bagiku menaklukkan dua anak ini." Keluh Gerry melirik Gema dan Gempi yang tampak terlelap di belakangnya kemudian memandangi Chia yang juga belum sadar, tapi aslinya wanita cantik itu sudah siuman cuma pura - pura tidur supaya tidak diapa-apakan.


"Aduh, gimana nih? Apa dia benar - benar suamiku?" Batin Chia diam - diam melirik Gerry yang kembali fokus menyetir. Tapi dilihat - lihat dari samping, pria itu mirip seseorang.


"Siapa ya?" gumam Chia lalu kembali terpejam saat Gerry menoleh ke arahnya. Tentu saja pria itu sedikit menyadari istrinya sadar cuma mengira sedang malu - malu kucing.

__ADS_1


.


Sabar ya Gerry, nanti ke depannya, terima keusilan anakmu🤣jadi tetap jaga jantungmu baik - baik🤭


__ADS_2