
"Tante, Papa sama Kakak Gema di mana? Sudah dua jam berlalu, tapi belum kelihatan. Gempi pengen main sama mereka," rengek Gempi sudah capek latihan. Ia turun dari kursi kemudian menarik - narik ujung baju wanita tinggi itu yang sedang sibuk menghubungi Davis tapi panggilannya tidak tersambung.
"Sebentar ya Gempi, Tante lagi telepon," ucap Susi.
"Tante, telepon Mama juga. Gempi sudah rindu Mama. Suruh Mama pulang Tante, jangan lama - lama di luar. Gempi takut Mama hilang."
Kepala Susi sudah berdenyut-denyut mendengar Gempi merengek terus. "Gempi, coba duduk di sana dulu, biarkan Tante telepon mereka, paham?"
"Tante, telepon polisi saja,"
Susi terlonjak mendengarnya.
"Ngapain telepon polisi?" tanya Susi.
"Kata Mama, kalau Mama tidak pulang - pulang, Gempi harus panggil polisi, Tante," jawab Gempi yang saat di London memang sering diberi pesan seperti itu. Bahkan jika Gempi nyasar, pergi cari kantor polisi.
"Haha, tidak perlu, Papa Gempi dan Gema pasti sedang berada di tempat Mamanya Gempi," tawa Susi agak bodoh memberi alasan itu.
"Kalau begitu, Gempi mau ke tempat Mama. Ayo, bawa Gempi ke sana, Tante." Benar, Gempi kembali merengek dan juga memaksa. Susi yang belum pernah menikah maupun melahirkan anak mulai sedikit kewalahan mengurus Gempi. Mungkin Chia terkadang merasa depresi menuruti keinginan Gempi itu.
Tiba - tiba ….
Ting..tong..
Mata bulat Gempi melebar dan senyumnya pun tak kalah lebar. Dengan kedua kaki kecilnya, Gadis cilik itu berlari menuju ke pintu rumah.
"Gempi! Sebentar!" Tahan Susi tatkala pandangannya melihat sepintas dari luar jendela ada orang asing.
"Tante, Gempi mau buka pintunya, itu pasti Mama dan Papa yang pulang," kata Gempi mau meraih knop pintu tapi langsung terkejut mendengar suara yang familiar.
"Tidak salah lagi, ini rumahnya! Cepat, rusak saja pintunya!" kata Aletta yang datang ke rumah Davis. Datang - datang sukanya main dobrak.
__ADS_1
"Siapa mereka?" gumam Susi kemudian mempertajam matanya. Sontak, ia pun mengenali Aletta.
"Woah, Tante! Itu orang jahat! Kata Gema, itu istri lainnya Papa yang mau ambil kita."
Tapi Susi menggeleng. "Bukan, Gempi!" kata Susi.
"Terus, apa hubungannya sama Papa Gempi?" tanya Gempi.
"Dia itu Ibu tirinya Papamu,"
"Ibu tiri? Maksudnya Nenek Gempi?" tanya Gempi terkejut dan menebak-nebak.
"Hmm, Nenek sih, tapi bukan Nenek kandung," kata Susi.
"Tante mau apa?" tanya Gempi melihat Susi hendak membuka pintu rumah.
"Daripada pintu dirusak, biar Tante coba bicara padanya," ucap Susi membuka sebelum bodyguard itu menendang lepas pintunya.
Seketika saja, Aletta mencebikkan bibirnya melihat Susi lagi.
"Maaf, nyonya. Anda salah, saya bukan istri dari orang yang kau maksudkan itu," ucap Susi.
"Hahaha, kau pikir dengan ucapanmu ini kau bisa membuatku percaya? Tidak, aku tahu kau lakukan ini agar anak - anakmu tidak kuambil, kan?" Tatap Aletta maju.
"Oiyy, Nenek!" panggil Gempi membuat Aletta mengalihkan matanya ke Gempi yang berkacak pinggang.
"Kau panggil apa aku tadi? Nenek?" Kesal Aletta.
"Oyy, Nenek! Gempi itu anaknya Mama Chia bukan Tante Susi."
"Hah? Tante Susi?" Kaget Aletta menatap Susi.
__ADS_1
"Benar, nama saya Susi dan hanya asisten anak - anak ini," ucap Susi terus terang.
"Hahaha, sandiwara apa lagi ini?" tawa Aletta nampak tak mau percaya.
"Ihhh, ini bukan sandiwara, Nenek!" celetuk Gempi kesal.
"Sebentar, kalau dia bukan Ibumu, terus di mana Ibumu?" tanya Aletta pada Gempi. Anak kecil itu diam sejenak lalu tersenyum licik.
"Mama lagi berduaan sama Papa,"
" Katanya nanti kalau pulang ke sini, Mama dan Papa bawa adik baru buat Gempi."
Susi, Bik Odah dan Aletta melongo bersama - sama. Tapi kemudian emosi Aletta memuncak melihat Gempi cekikikan.
"Akhhh!" pekik Gempi ditarik paksa tapi Susi segera menampar tangan Aletta.
"Hai! Berani sekali kau!" geram Aletta.
"Huhuhu… tangan Gempi sakit," tangis Gempi pura - pura supaya bisa menjadi pusat perhatian orang - orang yang tak sengaja lewat di area kawasan itu.
"Hei, nyonya! Anda ini sudah keterlaluan! Lihatlah, kau hampir melukai tangannya! Pergilah dari sini!" bentak Susi berani. Mumpung orang - orang mulai terpancing ingin menghampiri rumahnya jadi ia berani meninggikan suaranya.
"Kau!" balas Aletta membentak. Tapi Bik Odah segera menghentikan kedua wanita itu.
"Nyonya, lebih baik kita pergi. Orang - orang sedang memperhatikan Nyonya," bisik Bik Odah agak malu.
"Sial, awas kau! Aku akan balas kalian!" Aletta pergi dengan sombongnya.
"Yeahh, Neneknya sudah pergi, Tante." Gempi melompat riang lalu mengernyit heran melihat Susi yang panik.
"Tante, kenapa pasang muka begitu?" tanya Gempi.
__ADS_1
"Gempi, sepertinya Tante memang harus ke kantor polisi,"
"Buat apa, Tante?" tanya Gempi tambah bingung. Susi menarik Gempi, ia tidak bisa jawab kalau Davis sedang mempertaruhkan nyawanya di gedung milik Robertus. Pengusaha yang terbilang besar di wilayahnya itu dan memiliki sisi gelap yang menyeramkan. Dengan motornya, Susi membawa Gempi pergi dari rumah. Menancap gas secepat mungkin.