Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
12. Semua Hanya Demi Ibu


__ADS_3

Halo semua, semoga kalian suka dengan karyaku yang satu ini ya!


Haapy Reading... 😊


Di sudut lain ada seseorang yang mendegarkan keributan Cahya dan Agnia. Meski malam kian larut akan tetapi Bu Hana masih belum bisa memejamkan matanya. Sedari tadi Bu Hana trus menggulingkan badannya ke kiri dan ke kanan namun matanya masih sulit untuk terpejam. Lain hal dengan Pak Adi yang sudah terlelap sejak tadi. Didalam kamar Bu Hana masih saja memikirkan Agnia. Sepulang dari restoran tadi ada yang aneh pada Agnia. Bahkan setelah dari sana Agnia tidak keluar dari kamarnya lagi.


"Entah apa yang terjadi nak, perasaan ibu tidak enak. Ibu harap semuanya baik-baik saja," gumam batin Bu Hana.


Sudah beberapa kali Bu Hana mencoba memejamkan matanya, namun ia masih belum bisa tertidur. Bu Hana mengambil air wudhu untuk melakukan sholat sunat agar hatinya menjadi semakin tenang. Tak lupa di penghujung sholatnya Bu Hana memanjatkan sebuah doa untuk anaknya Agnia.


"Ya robb, sesungguhnya Engkau Maha Tahu atas segala sesuatu yang tidak ku ketahui. Sehatkan anakku Agnia, menantuku Cahya dan Rehan cucuku, panjangkan umur mereka. Jadikanlah keluarga mereka keluarga yang sakinnah, mawwadah dan warrohmah. Lindungilah keluarganya dari segala marabahaya ya robb, aamiin," lirih Bu Hana yang mengamini doanya disertai kedua telapak tangan yang diusapkan pada wajahnya.


Selepas melaksanakan sholat sunat itu, Bu Hana merasa lebih baik dan lebih tenang. Kini ia bisa tidur dengan pulas, namun tenggorokannya terasa kering. Bu Hana bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Namun saat keluar kamar, Bu Hana mendengar seperti ada orang yang sedang bertengkar.


Dari kejauhan Bu Hana memperhatikan kamar Agnia dan Cahya, dan benar saja mereka sedang beradu mulut. Tanpa bermaksud menguping Bu Hana mendengar segalanya. Betapa terkejutnya Bu Hana saat ia tahu jika menantunya telah mengkhianati anaknya.


Mendengar hal itu membuat Bu Hana sakit, dan alhasil penyakit jantungnya kembali kambuh. Bu Hana paling tidak bisa mendengar kabar yang tidak baik karena Bu Hana memiliki riwayat penyakit jantung. Penyakit yang bisa kapan saja menyerangnya. Mendengar hal itu membuat dada Bu Hana terasa sesak, dadanya merasa sakit. Seketika Bu Hana ambruk saat memegangi dadanya.


Dan brug, Bu Hana terjatuh.


"Ibu," ujar Cahya yang mendengar ada suara gelas yang terjatuh.


"Ibu, bangun bu. Agnia ibumu," teriak Cahya yang membangunkan ibu mertuanya.


Mendengar teriakan Cahya spontan Agnia keluar dari kamarnya.


"Ibu, ibu kenapa bu?" lirih Agnia yang mengguncangkan ibunya.


"Aku sudah menelpon ambulan, sebentar lagi pasti segera datang," ujar Cahya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan ibumu?" tanya Pak Adi yang datang berlari dari arah kamar.


"Ibu pingsan pak, sebentar lagi ambulan datang," jawab Cahya.


"Bu bangun bu," ucap Pak Adi yang mencoba membangunkan dengan mengelus pipi sang istri.


Beberapa menit kemudian terdengar suara sirine yang menandakan ambulan datang. Beberapa perawat bergegas turun dari mobil dan membawa Bu Hana ke dalam ambulan. Agnia dan ayahnya ikut ke dalam ambulan. Sedangkan Cahya mengikuti dari belakang dan membawa mobil sendiri. Sebelum pergi Cahya menitipkan bayinya kepada baby sytter.


Tak lama Cahya segera menyusul ke rumah sakit.


Tak butuh waktu yang lama agar dapat sampai di rumah sakit. Karena hanya dengan membunyikan sirine ambulan mobil yang menghalangi seketika menepi. Bu Hana langsung dilarikan ke IGD (Instalasi Gawat Darurat). Untuk beberapa saat Bu Hana menjalani pemeriksaan. Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan itu dan menyebutkan jika Bu Hana terkena serangan jantung.


Jika Bu Hana mendengar kabar tidak baik lagi maka akibatnya akan sangat fatal. Mendengar hal itu membuat Agnia semakin bersedih. Seorang dokter langsung masuk dan mulai memeriksanya.


"Agi.. putriku.." terdengar suara Bu Hana yang memanggil anaknya. Salah seorang perawat pun memanggil dan menanyakan nama Agi.


"Saya sus," jawab Agi yang mengangkat tangannya sebelah kanan.


"Silahkan anda boleh masuk, tapi mohon jangan terlalu diajak banyak bicara. Biarkan pasien merasa tenang," ujar perawat itu dan meninggalkan mereka berdua.


"Ibu.." Agnia menghampiri ibunya dan menangis dipelukan ibunya.


"Ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya kelelahan," ucap Bu Hana sambil mengusap kepala Agnia.


"Agi, ibu sudah tahu tentang semuanya," lirih Bu Hana.


Deg..


Kata-kata ibu seolah membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Kenapa ibu bisa tahu? Ibu tahu dari mana?" gumam batin Agnia.


"Nak.."panggil ibu yang melihat Agnia terdiam.


"I, iya bu.." seketika panggilan ibunya mengagetkan Agnia.


Meski tidak banyak bicara, tapi Bu Hana tahu apa yang menimpa anaknya.


"Maafkan Agi bu, Agi tahu ibu seperti ini pasti karena Agi," ucap Agnia yang mulai terisak.


"Tidak nak, ibu hanya kelelahan saja," ujar Bu Hana.


Dalam hati Agnia, dadanya terasa sesak. Namun tidak mungkin jika Agi harus mengatakan segalanya. Agniai tidak mau ibunya terlalu banyak pikiran. Agnia tidak mau jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada ibu. Tapi pikiran itu cepat-cepat ia buang, yang namanya hidup tidak ada yang tahu. Kita akan diberikan umur yang panjang atau pendek itu hanyalah hak perogatif sang pencipta. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, kita hanya ditugaskan untuk beribadah.


"Ibu, ibu istirahat ya. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan," ujar Agnia sambil mengusap lembut kening sang ibu.


"Iya Agi, ibu akan istirahat. Tapi ibu mohon apapun yang terjadi diantara kalian berdua tolong selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Jangan sampai kita mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Apapun yang terjadi jangan sampai rumah tangga kalian berakhir, karena Tuhan kita sangat membenci perpisahan nak," ucap Bu Hana dengan suaranya yang lembut dan matanya yang terlihat pucat.


Mendengar kata-kata ibu membuat Agnia semakin sedih. Kata-kata ibu seolah menginsyaratkan akan hal yang akan Agnia lakukan. Akan tetapi setelah mendengarkan nasihat beliau Agnia merasa lebih baik. Saat pembicaraan tadi bersama Cahya memang Agnia begitu emosi. Entah Agnia sadar atau tidak yang jelas saat itu Agnia tidak bisa mengontrol perkataannya.


Usai berbicara pada Agnia, Bu Hana pun tertidur dengan pulasnya. Melihat wajah sang ibu membuat Agnia semakin sedih.


"Maafkan Agi bu, karena belum bisa menjadi anak yang berbakti pada ibu. Agi sangat takut kehilangan ibu. Semoga ibu lekas sembuh," gumam batin Agnia yang langsung mengecup kening ibunya.


Air mata Agnia seolah tak berhenti mengalir. Pikiran Agnia masih melayang kesana kemari. Sebagai seorang wanita, Agnia menolak untuk dimadu. Namun kenyataannya kini Bu Hana harus terbaring tak berdaya hanya karena permasalahan Agnia dengan Cahya.


Mungkin hanya demi ibu, Agnia akan menerima pernikahan mas Cahya dengan istri barunya meski sebenarnya hati Agnia menolak. Akan tetapi kata-kata ibu membuat Agnia tidak bisa lupa, jika Tuhan kita sangat membenci perpisahan. Apapun yang terjadi, Agnia akan mempertahankan rumah tangganya meskipun itu sangat menyakitkan.


Setelah ibunya tertidur pulas, Agnia pun duduk disamping Bu Hana dan menundukan wajahnya diatas kasur hingga ia tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2