
Beberapa hari berada dirumah sakit membuat Bu Hana merasa bosan. Karena sudah dinyatakan sehat oleh dokter, akhirnya Bu Hana bisa pulang juga. Kali ini Bu Hana pulang ke rumahnya bukan pulang ke rumah Agnia. Meski sebenarnya Agnia melarang, akan tetapi Bu Hana bersikukuh untuk pulang ke rumah karena sudah lama rumahnya ditinggal semenjak kelahiran cucunya Rehan.
Antara senang dan sedih yang Agnia rasakan. Agnia merasa senang karena akhirnya Bu Hana telah pulih seperti sedia kala. Namun Agnia merasa sedih karena sudah beberapa hari Bu Hana tinggal bersamanya, dan kini Bu Hana harus pergi meninggalkannya.
"Terima kasih ya nak, karena kamu sudah merawat ibu," lirih Bu Hana sambil memeluk anaknya Agnia.
"Justru aku yang seharusnya berterima kasih sama ibu, karena sudah merawatku dan juga bayiku. Agi minta maaf karena Agi ibu jadi sakit," lirih Agnia yang mengalirkan bulir bening dipipinya.
"Sudahlah nak, soal sehat dan sakit itu rahasia Sang Pencipta, kita hanya menjalaninya saja," ujar Bu Hana yang mengusap buliran bening di wajah putrinya.
"Ibu jaga kesehatan ya," pinta Agnia.
"Iya sayang, kamu ingat pesan ibu ya," ujar Bu Hana yang segera bergegas pergi bersama suaminya.
"Ayah pulang dulu nak, kamu baik-baik yah putri kesayangan ayah," timpal Pak Adi yang langsung memeluk anaknya dan mencium kening putrinya.
"Iya yah, ayah juga jaga kesehatan yah. Titip ibu yah, jangan sampai ibu kelelahan," pintanya.
Kepergian orang tua Agnia membuat Agnia merasa sedih. Namun walau bagaimana pun Agnia tidak boleh larut dalam kesedihan. Kini ia harus fokus merawat bayinya. Walaupun terkadang luka yang menganga itu terasa perih.
"Agnia, dimana dasi favoritku," teriak Cahya dari dalam kamar.
"Di tempat biasa mas," jawab Agnia setelah memberikan ASI pada bayinya.
"Tapi aku tidak menemukannya," jelas Cahya lagi.
Sebenarnya Agnia masih enggan berbicara pada Cahya, namun jika ia tidak segera menghampirinya suaranya akan terdengar berisik lagi. Tanpa banyak kata yang keluar dari mulutnya Agnia segera mengeluarkan dasi berwarna biru dongker favorit Cahya. Tanpa perintah dari Cahya Agnia tetap menjalankan kewajibannya memakaikan dasi.
Dengan wajah yang malas dan diam seribu bahasa Agnia segera menghampiri Cahya dan langsung memakaikan dasi dikerah baju Cahya.
"Agnia, kamu kenapa? Kamu masih marah?" tanya Cahya yang sejak tadi memperhatikan Agnia terdiam.
"Enggak," jawab Agnia singkat.
"Aku tahu," Cahya mendekat dan merengkuh tubuh Agnia.
__ADS_1
"Sudah selesai mas, aku mau menyusui Putra lagi" pamit Agnia yang langsung melepaskan pelukan Cahya.
"Tunggu Agnia, maafkan aku," lirih Cahya yang memegang erat tangan Agnia.
"Sudahlah mas, aku sedang tidak ingin membahas tentang itu," jawab Agnia yang berlalu meninggalkan Cahya di kamar.
Sedangkan Cahya masih bingung dengan perbuatannya sendiri. Jika di haruskan memilih, Cahya tidak mungkin memilih diantara mereka. Bagi Cahya, mereka berdua adalah hidupnya dan cintanya.
Meski dalam keadaan marah pun Agnia masih menghidangkan makanan seperti biasanya.
"Sarapan dulu mas," tawar Agnia saat Cahya keluar dari kamar.
"Wah, sepertinya enak," puji Cahya yang tergiur melihat makanan diatas meja makan.
Agnia segera menyendokan nasi goreng ke dalam piring ditambah telor ceplok kesukaan Cahya.
"Silahkan mas," ucap Agnia.
"Makasih Agnia, meski kamu sedang marah tapi perhatian dan kasih sayangmu masih ku rasakan," gumam batin Cahya saat memakan makannannya.
"Aku pergi dulu Agnia," pamit Cahya yang langsung mengecup pucuk kepala Agnia.
"Iya mas," jawab Agnia yang langsung meraih tangan kanan Cahya dan menciumnya.
Tidak ada senyuman yang terlihat dari wajah Agnia, semua terasa hambar dan pahit. Setelah mengetahui perselingkuhan Cahya, rasa cinta yang dimilikinya seakan berkurang. Entah mengapa kini seakan ada jarak yang terbentang antara Agnia dan Cahya. Meski Cahya masih bersikap manis, akan tetapi lain halnya dengan Agnia.
Seolah semua tidak bisa kembali seperti dulu. Ada rasa cemburu, sedih, bahkan sangat sakit saat Agnia menatap wajah Cahya. Agnia masih tidak percaya jika seseorang yang sangat ia cintai tega mengkhianatinya. Padahal Agnia sudah mau menerima Cahya apa adanya.
Sementara dikantor, meski disibukan dengan beberapa pekerjaan akan tetapi Cahya sangat sulit berkonsentrasi. Cahya teringat pada Agnia dan Zoya.
"Apa aku harus melepaskan Zoya?" gumamnya bermonolog.
"Mungkin nanti sepulang dari kantor aku akan menemui Zoya, aku ingin membicarakan hal penting dengannya," gumamnya lagi.
Tak terasa hampir seharian penuh Cahya bekerja, kini saatnya ia untuk pulang. Cahya berniat untuk menemui Zoya terlebih dahulu.
__ADS_1
Dengan kecepatan tinggi Cahya segera melajukan kendaraannya. Tak butuh waktu lama akhirnya Cahya tiba di rumah Zoya. Setibanya dihalaman rumah, Cahya segera membuka pintu.
Ceklek..
"Zoya, kenapa pintunya tidak dikunci," gumam batin Cahya saat membuka pintu.
"Zoya," teriak Cahya ke seluruh ruangan yang mencari keberadaan Zoya.
Tak berapa lama Cahya menemukan Zoya yang sudah tergeletak di lantai di depan kamar mandi. Cahya sangat panik karena melihat Zoya tidak sadarkan diri. Akhirnya Cahya bergegas membawa Zoya ke rumah sakit.
Dengan kecepatan tinggi Cahya membawa mobilnya karena panik takut terjadi sesuatu pada Zoya.
Setibanya dirumah sakit, Cahya langsung membopong Zoya ke dalam rumah sakit.
"Dokter, dokter tolong periksa istriku," teriak Cahya.
"Silahkan dibawa kesini pak," ujar salah seorang perawat yang menyuruh Cahya membawa Zoya ke dalam ruangan.
"Cepat periksa dia, aku menemukan dia sudah tergeletak dan tidak sadarkan diri," lirih Cahya.
"Silahkan bapak tunggu diluar," ujar perawat itu.
"Tapi aku mau disini!" pekik Cahya.
"Saya mohon tolong anda tunggu diluar. Jika anda terus disini saya tidak bisa memeriksa istri anda," timpal dokter yang ikut berbicara.
Dengan rasa sedih dihatinya, Cahya terpaksa keluar menuruti perintah sang dokter. Beberapa menit Zoya masih dalam pemeriksaan.
Tak berapa lama dokter itu keluar dan mengatakan jika Zoya sakit kanker. Mendengar hal itu membuat Cahya menjadi sedih. Sudah beberapa hari Cahya meninggalkan Zoya, padahal Zoya sedang sakit keras.
Akan tetapi Zoya tidak mengatakan apa-apa. Zoya memang wanita yang kuat, semenjak ibunya meninggal membuat hidup Zoya terasa hampa. Setiap kesakitan yang ia rasakan tidak pernah ia menceritakannya kepada siapapun.
Bahkan ketika Zoya mengalami penyakit yang serius Zoya tidak memberitahukan kepada ayahnya. Padahal Zoya mengalami sakit kanker ini sudah cukup lama. Akan tetapi Zoya tidak terlalu menghiraukannya.
"Maafkan aku Zoya, aku tidak tahu jika selama ini kamu sakit keras," ujar Cahya saat memasuki ruangan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawabnya yang lemas dan matanya yang terlihat pucat.