Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
38. Curahan Hati Agnia


__ADS_3

Happy Reading... 😊


Mendengar pernyataan Agnia, membuat Cahya begitu terluka. Cahya begitu menyesali perbuatannya. Memang sedari awal Cahya tidak pernah berniat untuk mengkhianati Agnia, tapi karena keadaanlah yang memaksa Cahya harus melakukan itu semua. Sejujurnya Cahya tidak pernah ingin untuk melakukan itu, tapi Cahya terpaksa harus melakukannya.


Dikeramaian restoran itu, Cahya duduk seorang diri. Cahya tidak mengejar kepergian Agnia. Cahya hanya duduk termenung dan menyesali semua perbuatan yang pernah ia lakukan. Mungkin jika dulu Cahya tidak bertemu lagi dengan Zoya, semuanya pasti akan baik-baik saja sampai detik ini. Cahya pasti akan memiliki keluarga yang utuh. Namun nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi.


"Maafkan aku Agnia, aku tidak pernah ingin menyakitimu. Aku sangat menyesal dengan semua yang pernah aku lakukan. Kini aku hanya ingin melihatmu bahagia," gumam Cahya dalam hatinya.


Sementara Agnia mencoba untuk segera pergi dari tempat itu. Pernyataan Cahya seolah membuat Agnia seolah kembali kemasa lalu saat Cahya mengkhianatinya. Luka hati yang menganga karena rasa sakit hati itu seakan terasa perih. Dengan susah payah Agnia mencoba mengubur semua kenangan dan rasa sakit hati yang pernah ia alami, tapi kini semua terasa terulang kembali.


Agnia segera menaiki taksi online yang sebelumnya ia pesan. Tak butuh waktu lama, akhirnya Agnia tiba dirumah. Saat Agnia menuju kamar Rehan ternyata ia sudah tertidur dengan pulas. Agnia bergegas menuju ke kamarnya. Ia langsung duduk didepan meja kerjanya. Entah kenapa, tiba-tiba Agnia ingin menulis disebuah kertas kosong yang berada dihadapannya.


Terima Kasih Untuk Luka Yang Kau Beri


Aku hanya manusia biasa yang mencoba bertahun-tahun hidup bersamamu.


Bersabar dengan setiap kesendirianku.


Bersabar dengan semua sikapmu.


Dan bersabar hingga hati ini lelah dan aku tak mampu lagi untuk bersabar.


Begitu lama dan seringnya cinta ini kau lukai.


Aku belajar menunggu dan menunggu.


Berharap kau akan berubah.


Tapi sampai kapan aku menunggu yang tak pasti?


Kepastian untuk perubahanmu yang akan menghargai cinta.


Berkali-kali aku bertahan.


Berkali-kali jua kau lukai.


Kita pernah saling mencintai.


Mengapa semua ini harus terjadi?

__ADS_1


Harusnya kau tahu aku mencintaimu.


Aku yang selalu bersabar dalam setiap tangisku.


Tegar dalam setiap kesedihanku.


Saat kau ucapkan kata pisah.


Mungkin tidak ada yang perlu kau sesali.


Meski sejatinya hati ini terasa sakit.


Meski sesungguhnya aku tak rela.


Namun akupun berhak bahagia karena cinta itu.


Cinta itu tak pernah salah.


Terima kasih untuk luka yang kau beri.


-Agnia-


Entah sejak kapan Agnia bisa menulis. Yang jelas jika Agnia merasa sedang galau, pikirannya tiba-tiba menjadi puitis. Mungkin karena sedang merasakan sakit hati, sehingga hal itu bisa dijadikan inspirasi.


Agnia khawatir jika dengan bercerita, saat Agnia memiliki masalah dengan orang itu, dia akan menceritakannya kepada semua orang. Mungkin jika lewat tulisan, tidak akan ada orang tahu.


Agnia lebih memilih bercerita pada sebuah buku untuk mencurahkan segala isi hatinya daripada harus berbagi cerita kepada orang lain. Hal itu bukan tanpa alasan, Agnia pernah dikhianati oleh sahabatnya sendiri.


Dulu ketika Agnia memiliki masalah, sahabatnya lah yang mengumbar cerita tentang Agnia kepada semua orang. Sejak saat itu, Agnia tidak pernah menceritakan tentang masalahnya kepada siapapun.


Malam semakin larut, kini Agnia merasakan kantuk yang luar biasa. Otaknya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Agnia hanya ingin berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah seharian bekerja. Ditambah dengan persoalannya dengan Cahya yang menjadi beban pikirannya.


Hoam...


"Hari ini sangat lelah sekali," ujar Agnia yang menguap entah sudah yang keberapa kali. Yang jelas kini matanya benar-benar sudah lelah. Mungkin karena sejak tadi menangis, akhirnya Agnia tertidur dengan pulasnya.


Keesokan harinya.


Saat Agnia baru selesai bersiap untuk pergi ke kantor, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.

__ADS_1


Tidid.. tidid..


"Siapa sepagi ini ada tamu?" gumam Agnia sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Bayu," Agnia merasa terkejut dengan kedatangan Bayu yang sangat tiba-tiba.


"Ada apa kamu datang sepagi ini?" tanya Agnia yang menautkan kedua halisnya. Tidak lama Bu Ester dan Pak Hars keluar dari dalam mobil.


"Agnia," lirih Bu Ester.


"Untuk apa anda datang kemari? Apa penghinaan anda masih belum puas juga hah?" pekik Agnia yang merasa emosi melihat kedatangan orang tua Bayu yang tiba-tiba.


Agnia merasa sangat sakit hati dengan kata-kata Bu Ester. Kata-kata yang begitu menyakiti hati Agnia. Bahkan bukan hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali Bu Ester selalu menghinanya hanya karena statusnya yang menjadi janda.


Padahal menjadi seorang janda bukanlah keinginan Agnia. Agnia bahkan tidak pernah memikirkan hal itu akan terjadi. Agnia tidak pernah membayangkan sedikitpun jika hidupnya akan seperti ini.


Yang namanya sebuah proses hidup, tidak ada yang tahu. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa berencana, namun Tuhan-lah yang Maha Menentukan Segalanya.


"Agnia, ada sesuatu yang ingin tante bicarakan sama kamu," lirih Bu Ester.


Bu Ester yang sekarang tampak lain. Biasanya Bu Ester akan bersikap kasar dan selalu menghina Agnia. Tapi kini Bu Ester bersikap lebih tenang dan lembut seperti saat pertama kali bertemu yang begitu baik dan ramah.


Entah angin apa yang membuatnya berubah drastis seperti ini. Yang jelas Bu Ester terlihat sangat tulus.


"Hal apa yang perlu dibicarakan lagi tante? Semuanya sudah jelas," jawab Agnia malas.


Sebenarnya Agnia tidak pernah ingin bersikap kasar pada Bu Ester, namun rasa sakit hatinya benar-benar sudah sangat dalam.


"Tolong Agnia, dengarkan momy dulu," timpal Bayu yang ikut berbicara sambil memegang tangan Agnia.


"Sudahlah Bay, apa lagi yang harus aku dengar? Aku harus segera pergi mengantarkan Rehan pergi sekolah," jawab Agnia malas dan berusaha melepaskan tangan Bayu.


"Ayo Rehan kita berangkat sudah siang," ajak Agnia sambil memegang tangan Rehan dan segera masuk ke dalam mobilnya.


Rehan yang hanya anak kecil benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Rehan hanya memperhatikan saja sedari tadi.


"Tunggu Rehan, om ingin bicara," ujar Bayu yang menghalangi Rehan masuk kedalam mobil.


"Iya om ada apa?" tanya Rehan polos. Padahal Bayu hanya ingin mencegah kepergian Agnia dan Rehan saja.

__ADS_1


"Begini sayang, tolong bantuin om yah? Ibumu sedang marah sama om, kamu pasti bisa bantu om," ujar Bayu yang memohon pada Rehan.


"Oh begitu, pantas saja ibu tidak mau berbicara pada kalian," jawab Rehan polos.


__ADS_2