
Beberapa bulan kemudian.
Perut Agnia pun semakin membuncit. Kini usia kehamilan Agnia sudah menginjak 9 bulan. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi Agnia akan segera melahirkan. Segala perlengkapan bayi sudah Agnia persiapkan jauh-jauh hari.
Termasuk nama seorang bayi yany sudah ia persiapkan. Cahya semakin cekatan menjadi suami yang siap antar jaga. Cahya mulai khawatir akan keadaan istrinya. Kini setelah bekerja Cahya langsung bergegas pulang. Agnia mulai tidak bisa nyenyak tidur, dan kakinya kini mulai membengkak.
"Kakimu kenapa Agnia? Apa itu sakit?" tanya Cahya yang sejak tadi memperhatikan istrinya.
"Tidak mas, ini tidak sakit. Hal ini biasa bagi ibu hamil," jawab Agnia.
"Aduh mas, kok perut aku tiba-tiba sakit ya.." lirih Agnia yang meringis kesakitan.
"Kamu kenapa Agnia? Ayo kita ke rumah sakit," ajak Cahya yang merasa khawatir melihat Agnia kesakitan.
"Tidak tahu mas, rasanya sakit sekali. Sepertinya aku akan melahirkan," lirih Agnia.
Tanpa aba-aba Cahya langsung mencari kunci mobil dan membopong Agnia ke dalam mobil. Cahya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dan Agnia langsung dilarikan ke ruangan bersalin. Karena panik Cahya ikut ke dalam ruangan bersalin.
"Aduh, sakit dok.." pekik Agnia yang meringis kesakitan.
"Ayo bu keluarkan semua tenaganya, kita berjuang sama-sama ya," titah dokter.
"Ayo sayang kamu pasti bisa," bisik Cahya yang tidak lepas dari genggaman Agnia.
Setelah susah payah mengerahkan segala tenaga, beberapa menit kemudian akhirnya keluarlah seorang bayi laki-laki yang putih, bersih juga tampan.
"Selamat pak, bayi anda laki-laki," ujar dokter yang memperlihatkan bayinya.
"Kamu hebat sayang," ungkap Cahya yang menyunggingkan senyumnya.
Salah seorang perawat membawa bayi itu dan segera dibersihkan. Sedangkan Agnia beristirahat sejenak setelah bekerja keras mengeluarkan sang jabang bayi. Cahya merasa sangat bahagia karena sekarang ia memiliki jagoan kecil.
Rasa cinta yang ia miliki kepada Agnia pun semakin bertambah. Cahya semakin menyanyangi dan mencintai Agnia. Dia tidak ingin kehilangan Agnia. Akan tetapi Cahya teringat pada Zoya.
"Bagaimana jika Agnia tahu tentang Zoya? Aku sangat mencintai mereka berdua," gumam batin Cahya.
Untuk beberapa saat Cahya melupakan hubungannya bersama Zoya. Namun walau bagaimana pun Zoya adalah istri Cahya. Dia harus bisa bersikap adil kepada mereka berdua.
Sementara di tempat lain Zoya sedang memikirkan Cahya.
"Dimana Cahya? Kenapa dia masih belum pulang juga?" gumam batin Zoya yang sedang duduk didepan teras rumahnya.
"Coba aku hubungi ponselnya," ujar Zoya yang langsung mengambil benda pipih itu diatas nakas.
__ADS_1
Zoya mencari nama Cahya dalam ponselnya lalu mengubunginya.
Tutt... tutt...
"Kenapa Cahya tidak mengangkat telfonku?" ujar Zoya.
Di tempat lain Cahya memegangi ponselnya dan melihat nama yang memanggilnya ternyata Zoya.
"Kenapa dia harus menelfonku disaat seperti ini?" gumam batin Cahya.
"Siapa mas? Kenapa tidak diangkat telfonnya?" tanya Agnia yang sejak tadi mendengar suara ponsel Cahya berdering.
"Bukan siapa-siapa. Mungkin ini salah sambung karena namanya tidak ada dalam kontak." Cahya terpaksa berbohong kepada Agnia.
"Ouh begitu.." jawab Agnia datar.
"Aku keluar sebentar ya," pamit Cahya.
Cahya mencoba mencari tempat yang aman agar dapat menghubungi Zoya.
📱"Maafkan aku, tadi aku sedang ada pekerjaan,"
📱........................
📱........................
Selesai menelfon Zoya, Cahya kembali ke dalam ruangan. Ada perasaan khawatir yang ia rasakan.
"Dari mana mas?" tanya Agnia saat Cahya memasuki ruangan.
"Mas tadi hanya mencari angin saja," jawab Cahya yang merasa gugup.
"Kenapa dengan mas Cahya? Sepertinya sedang bingung." gumam batin Agnia yang melihat seperti ada yang aneh pada Cahya.
Ea... ea...
"Bu ini bayinya diberi ASI dulu," ujar salah seorang perawat yang memberikan bayinya kepada Agnia.
"Sayang bunda, haus ya.." sapa Agnia kepada bayinya.
Seketika bayi itu berhenti dari tangisannya. Untuk pertama kalinya Agnia memberikan ASI kepada bayinya. Awalnya terasa ngilu dan
sakit, namun lama-kelamaan terasa biasa hanya sedikit perih saja yang ia rasakan.
__ADS_1
Karena begitu panik Cahya lupa memberitahukan orang tua dan mertuanya tentang kelahiran anaknya. Namun tak berapa lama tibalah mereka.
"Assalamualaikum.." sapa Bu Hana saat membukakan pintu.
"Waalaikumsalam ibu.." jawab Agnia.
"Wah cucu omah tampan sekali," ujar Bu Hana yang langsung mendekati bayinya.
"Cucu opah," timpal Pak Hadi.
"Tunggu dong, mamah juga pengen gendong cucu mamah," jawab Bu Hana yang cepat-cepat menggendong cucunya.
Betapa ramainya suasana di ruangan itu. Semua merasa bahagia atas kehadiran bayi laki-laki itu.
"Oiya siapa nama cucu omah?" tanya Bu Hana.
"Rehan Anugrah mah," jawab Agnia.
"Wah, nama yang bagus," puji Bu Hana.
Tak berapa lama orang tua Cahya pun datang. Diruangan itu semakin ramai. Mereka semua terlihat begitu bahagia atas kehadiran bayi laki-laki ditengah-tengah mereka. Hal itu membuat Cahya semakin merasa bersalah.
"Tidak seharusnya aku membohongi mereka semua, bagaimana jika mereka tahu tentang yang sebenarnya?" gumam batin Cahya.
"Cahya kenapa kamu tidak mengabari kami?" tanya ayah Cahya.
"Maaf yah, Cahya panik makanya Cahya jadi lupa tidak mengabari kalian semua," jawab Cahya yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Cahya, tadi Agnia yang memberi tahu mamah. Dan mamah langsung menelfon Bu Sinta," timpal Bu Hana.
Semua orang terlihat begitu senang dan bahagia. Ada perasaan haru dalam diri Agnia. Dia memperhatikan orang-orang disekelilingnya.
"Mereka terlihat begitu bahagia. Terima kasih Tuhan kau telah memberikan hal yang terindah dalam hidupku," gumam batin Agnia yang tersenyum kecil.
Namun Cahya selalu memikirkan tentang Zoya. Hatinya seolah tidak tenang. Cahya takut jika Zoya kenapa-napa. Tapi Cahya bingung harus berbuat apa.
"Alasan apa yang harus aku buat? Bagaimana caranya agar aku bisa menemui Zoya," gumam batin Cahya.
"Kamu kenapa mas? Dari tadi aku perhatikan diam saja," tanya Agnia yang mengusap pundak Cahya.
"Mmhh, tidak. Aku tidak apa-apa kok," jawab Cahya yang terlihat seperti orang kebingungan.
"Kenapa ya, aku merasa jika akhir-akhir ini mas Cahya selalu melamun. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apa dia sedang ada masalah," gumam batin Agnia yang bertanya-tanya.
__ADS_1
Agnia mulai merasakan ada yang aneh pada Cahya. Entah apa yang Cahya pikirkan. Yang jelas sebagai seorang istri, Agnia merasakan ada yang tidak beres pada Cahya. Namun entah apa terjadi, Agnia berharap semoga semuanya baik-baik saja. Tidak ada hal apapun yang akan mengganggu dalam pernikahan kami.