Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
44. Merasa Bersalah


__ADS_3

Happy Reading... 😊


Dengan sigap para perawat yang berada diruangan itu membawa Bu Ester ke kamar yang kosong. Bu Ester dibaringkan diatas ranjang. Beberapa perawat terlihat melakukan penanganan pada Bu Ester yang sedang pingsan. Tak berapa lama akhirnya Bu Ester siuman juga.


"Mih, mamih tidak apa-apa?" tanya Pak Hars yang merasa panik.


"Bayu pih, mana Bayu?" tanya Bu Ester disela-sela tangisannya.


"Bayu sudah tenang mih, jangan seperti ini," jelas Pak Hars.


"Tapi mamih masih tidak percaya pih kalau Bayu akan pergi secepat ini," lirih Bu Ester yang masih saja menangis.


"Iya mih, papih tahu tapi ini sudah menjadi takdir yang kuasa mih," jelas Pak Hars.


Dengan perlahan Bu Ester mulai sadar dan tidak terlalu histeris lagi. Setelah keadaan Bu Ester membaik, Pak Hars mengajaknya untuk segera pulang karena besok mereka harus siap-siap untuk pemakaman Bayu. Dengan kecepatan yang sedang Pak Hars melajukan kendaraannya dan tak berapa lama akhirnya mereka sampai dirumah.


Keesokan paginya, pemakaman pun akan segera dilangsungkan. Jasad Bayu sudah datang sejak pagi tadi. Sekarang Bayu yang sudah dimandikan dan disholatkan sudah siap dikebumikan. Akan tetapi Bu Ester masih saja menangisi kepergian anaknya.


"Bayu, Bayu, jangan tinggalkan ibu nak," lirih Bu Ester disamping makam Bayu.


Perlahan tapi pasti Bayu sudah dimasukan kedalam liang lahat. Tampak beberapa orang membantu mengangkat jenazah Bayu. Orang-orang yang melayad pun cukup banyak yang hadir.


Sementara dari kejauhan Agnia baru saja datang. Agnia mempercepat langkahnya untuk dapat sampai dimakam Bayu. Namun saat Agnia tiba ternyata pemakaman Bayu telah selesai dilaksanakan. Agnia baru mengetahui Bayu mengalami kecelakaan dari teman sekantornya tadi malam. Maka dari itu Agnia baru bisa melayad hari ini.


"Maafkan aku Bay, ini semua pasti gara-gara aku," lirih Agnia yang masih saja terisak dibelakang kerumunan orang-orang yang menyaksikan pemakaman Bayu.


Agnia merasa bersalah atas kejadian ini, karena kecelakaan itu terjadi setelah pertengkaran malam itu. Agnia tidak pernah menyangka jika Bayu akan pergi secepat ini. Walau bagaimanapun Agnia pernah menyukai dan mencintai Bayu. Agnia juga sempat berfikir akan menikah dengan Bayu. Mereka pernah berjanji akan hidup bersama. Disela-sela lamunannya Agnia teringat pada kata-kata Bayu saat malam itu.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau, mulai saat ini aku tidak akan pernah menemuimu lagi dan aku akan pergi dari hidupmu!"


Kata-kata itu seolah pertanda jika Bayu akan pergi jauh. Kata-kata itu selalu ada dalam ingatannya. Agnia merasa sangat sedih atas kepergian Bayu. Kini Bayu benar-benar pergi dan tidak akan pernah menemui Agnia lagi.


Satu jam kemudian akhirnya pemakaman itu selesai. Agnia yang masih menangisi kepergian Bayu berniat untuk menemui Bu Ester yang masih berada didepan makam Bayu.


"Tante," sapa Agnia.


"Untuk apa lagi kamu kesini! Kamu kan yang membuat anak saya jadi seperti ini!" pekik Bu Ester.


"Aku tidak tahu tante, ini semua sebuah kecelakaan," lirih Agnia.

__ADS_1


"Mih, udah jangan saperti ini. Ini semua sudah takdir mih, jangan salahkan Agnia," timpal Pak Hars.


"Tapi bener kan pih, Bayu kecelakaan setelah pulang dari rumah dia!" tunjuk Bu Ester.


Agnia yang menerima tuduhan itu hanya terdiam. Agnia memang merasa bersalah, untuk itu Agnia tidak membela diri.


"Sudah mih, sudah. Kita pulang ya!" ajak Pak Hars.


Bu Ester yang masih saja menyalahkan Agnia menuruti kata-kata Pak Hars untuk cepat pulang. Pak Hars memegang bahu Bu Ester dan mengajaknya untuk segera pulang. Sementara Agnia hanya bisa terdiam dan menangis atas semua kejadian ini.


"Maafkan aku Bayu," lirih Agnia lagi.


Setelah beberapa lama berada dipemakaman itu akhirnya Agnia bergegas pulang karena hari sudah menjelang sore.


Sementara ditempat lain Ihsan sedang berbincang bersama kedua orang tuanya didalam rumah yang cukup besar dan elegan.


"Jadi, kapan kamu akan membawa calon istrimu?" tanya Pak Hasan setelah meneguk secangkir kopi.


"Tapi sekarang belum ada pah," jawab Ihsan.


"Ah masa anak mamah setampan ini belum punya calon istri," goda Bu Dewi sambil memegang dagu anaknya.


"Tapi kami ingin segera menimang cucu nak," pinta Pak Hasan.


"Ah papah, nanti juga kalau sudah waktunya pasti dapet cucu pah," timpal Ihsan lagi.


Keluarga Ihsan merupakan keluarga yang sangat harmonis. Pak Hasan dan Bu Dewi sangat menyanyangi Ihsan, sebab Ihsan merupakan anak mereka satu-satunya. Begitupun dengan Ihsan sangat menyanyangi mereka dan menghormati mereka.


Keluarga Ihsan hampir semuanya menjadi dokter, maka dari itu Ihsan juga sekarang berfrofesi sebagai seorang dokter.


"Sebenarnya aku menyukai seseorang mah, pah. Tapi lain kali saja aku ceritakan," gumam batin Ihsan.


Tiba-tiba Ihsan teringat pada Agnia. Ihsan bergegas menuju kamar.


"Mah, pah aku duluan ke kamar ya!" pamit Ihsan.


"Iya sayang," jawab orang tua Ihsan kompak.


Didalam kamar Ihsan teringat pada Agnia. Ihsan mencoba menelpon Agnia dengan pura-pura menanyakan kabar Rehan. Ihsan memiliki nomor Agnia saat kecelakaan itu terjadi, mereka bertukar nomor whatsapp ketika itu.

__ADS_1


Ihsan mencoba mencari benda pipih itu diatas nakas miliknya.


📱"Halo Agnia?" ucap Ihsan membuka pembicaraan sambil tiduran diatas ranjang king size miliknya.


📱"Iya hallo, ini Ihsan?" tanya Agnia disebrang sana.


📱"Iya aku Ihsan, maaf sebelumnya jika aku mengganggumu. Aku hanya ingin menanyakan kabar Rehan bagaimana?" tanya Ihsan sungkan.


📱"Tidak, sama sekali tidak mengganggu. Ihsan alhamdulillah sudah baikan," jawab Agnia.


📱"Oiya Agnia kenapa dengan suaramu? Sepertinya kamu habis menangis ya?" tanya Ihsan lagi.


📱"Tidak, aku tidak apa-apa hanya sedang bersedih saja," ujar Agnia disebrang sana.


📱"Memangnya sedih kenapa Agnia?" tanya Ihsan.


📱"Bayu meninggal kemarin malam karena kecelakaan," jawab Agnia yang merasa sedih dan menangis.


📱"Apa? Aku turut berduka cita atas kematian suamimu," jelas Ihsan.


📱"Apa suami? Kata siapa? Kita hanya teman saja kok," jelas Agnia lagi.


📱"Bukannya waktu itu, dia bilang.."


📱"Sudahlah, yang jelas Bayu bukan suamiku," jelas Agnia.


Sejak mendengar tentang kebenaran itu, membuat Ihsan menjadi sangat percaya diri. Baginya Ihsan masih memiliki kesempatan untuk tetap bisa dekat dengan Agnia.


📱"Hallo Ihsan?"


📱"Eh iya.."


📱"Kirain sudah ditutup telponnya. Kenapa diam?" tanya Agnia yang menautkan kedua halisnya.


📱"Tidak, tidak aku tidak apa-apa. Kalau begitu selamat beristirahat ya, maaf jika aku sudah mengganggu," pamit Ihsan yang mengakhiri panggilan telponnya.


📱"Iya tidak apa-apa, selamat beristirahat juga," jawab Agnia dan langsung menutup telponnya.


Setelah panggilan itu membuat Ihsan tidak bisa memejamkan matanya, karena teringat Agnia.

__ADS_1


__ADS_2