
Tak terasa sehari berlalu, kini sore mulai menjelang. Setelah pekerjaannya selesai, Agnia sedang bersiap untuk pulang. Namun ketika keluar gedung, nampak mobil Bayu yang sudah menunggu kedatangan Agnia.
"Agi, ayo aku antar pulang," teriak Bayu dari dalam mobil sedan putih miliknya.
"Tidak usah pak, saya bisa pulang sendiri," jawab Agnia ragu.
"Ayolah Agi tidak usah bersikap formal seperti itu, sekarang kan diluar kantor. Bukankah kita teman? Ayo cepet naik," titah Bayu.
"Tapi aku bawa mobil sendiri," jawab Agnia
"Itu mah soal gampang, nanti biar aku suruh orang buat bawain mobil kamu," jelas Bayu.
"Ya sudah kalau begitu," meski sedikit canggung akhirnya Agnia masuk ke dalam mobil Bayu.
"Agnia, kamu kenapa kok diem aja?" tanya Bayu saat mengendarai mobilnya.
"Ti, tidak. Tidak apa-apa," jawab Agnia yang merasa malu. Agnia tidak pernah membayangkan jika sore ini Bayu akan mengantarnya pulang. Dalam hatinya ada perasaan senang, tapi juga malu. Agnia merasa tidak enak karena teman-teman dikantornya banyak yang iri melihat kedekatan Agnia dengan Bayu.
"Agnia, apa kamu sedang buru-buru? Aku lapar sekali, kamu temenin aku makan dulu ya," pinta Bayu.
"Tapi pak, aku tidak enak," lirih Agnia.
"Memangnya tidak enak kenapa? Tuh kan mulai lagi manggil pak," protes Bayu.
"Eh iya maaf, aku lupa. Aku tidak enak aja, apa aku pantas makan bersama kamu?"jawab Agnia.
Agnia merasa tidak enak saat diajak makan bersama oleh Bayu. Walau bagaimanapun Agnia menyadari jika ia hanya pegawainya saja. Tanpa persetujuan Agnia, Bayu tetap mengajak Agnia untuk menemaninya makan sebab ia sudah sangat lapar. Dalam perjalanan Bayu mencari sebuah tempat makan yang menurutnya nyaman dan enak. Beberapa lama berkeliling akhirnya Bayu menemukan tempat yang cocok untuknya. Bayu berhenti disalah satu restoran yang cukup ramai. Bayu segera memesan makanan berat dan sebuah jus segar.
"Agnia kamu mau pesan apa?" tanya Bayu setelah selesai memesan makanan untuknya.
"Aku tidak lapar, kamu aja yang makan," dusta Agnia yang harus berbohong meski sebenarnya perutnya keroncongan. Agnia merasa malu jika ia harus memesan makanan.
"Kamu ini, masa cuma aku aja yang pesan makan. Emangnya kamu mau liatin aku makan?" gerutu Bayu.
__ADS_1
"Tapi aku," belum lagi Agnia melanjutkan kata-katanya Bayu sudah menjawabnya terlebih dahulu.
"Ya sudah kalau begitu makanannya samakan saja sepertiku ya," jelas Bayu.
Agnia pun menganggukan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Mba tolong pesanan yang tadi dibuat double ya," pinta Bayu pada waitress yang sejak tadi menunggunya.
"Siap tuan, silahkan ditunggu," pamit waitress yang berlalu meninggalkan mereka.
Akhirnya tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Dua piring nasi goreng spesial beserta minumannya jus mangga dua sudah siap disajikan diatas meja. Bayu yang sudah lapar sejak tadi langsung menyantap makanannya dengan lahap. Begitupun dengan Agnia, meski ia sedikit canggung akhirnya Agnia menyantap makanannya juga.
"Oiya Agnia apa kamu sudah kenyang?" tanya Bayu yang sudah habis terlebih dulu makanannya.
"Sudah, aku sudah kenyang, terima kasih," jawab Agnia.
"Sama-sama, Mba billnya," teriak Bayu yang melambaikan tangannya.
"Ini tuan," ujar waitress itu.
Sesampainya dirumah, Rehan sudah menunggu kedatangan Agnia di teras rumah.
"Ibu.." teriak Rehan yang langsung menghampiri Agnia dan langsung memeluknya.
"Sayang, kamu belum tidur," tanya Agnia karena tidak biasanya Rehan menunggu Agnia diteras rumah.
"Ini kenalkan, temen ibu," ujar Agnia yang memperkenalkan Bayu pada Rehan.
"Hai ganteng, nama kamu siapa?" tanya Bayu yang mensejajarkan dirinya dengan Rehan.
"Aku Rehan om. Om sendiri siapa namanya," jawab Rehan yang langsung meraih tangan Bayu dan meletakannya diatas kening Rehan.
"Panggil saja om Bayu," ucapnya.
__ADS_1
Semenjak perkenalan itu, Rehan dan Bayu semakin sering bertemu. Bahkan Bayu selalu mengajak Rehan untuk bermain bersama. Karena kedekatan itu, membuat Rehan seperti memiliki seorang ayah. Meski Rehan sudah bertemu dengan ayah kandungnya, entah kenapa saat bertemu dengan Bayu terasa begitu dekat. Mungkin karena Bayu yang sangat menyukai anak kecil yang membuat Rehan nyaman berada disampingnya.
"Om pamit pulang ya," pamit Bayu pada Rehan yang sedari tadi melihat jam ditangannya menunjukan pukul 10 malam. Bayu merasa jika malam sudah semakin larut.
"Tapi om, ini mainnya masih seru," protes Rehan yang tiba-tiba berhenti bermain playstation karena Bayu akan pulang.
"Om tahu, tapi ini sudah malam sayang. Besok kita main lagi ya," ucap Bayu memberikan pengertian.
"Tapi om," protes Rehan lagi.
"Sayang, ini kan sudah malam. Besok kamu harus sekolah, om Bayu juga kan harus kerja," timpal Agnia yang tiba-tiba datang.
"Ya sudah, besok kita main lagi ya," pamit Bayu.
"Iya om, dadah om," jawab Rehan yang melambaikan tangannya.
"Perasaan ada yang aneh. Padahal mereka baru aja ketemu, kenapa bisa langsung akrab gitu ya," gumam batin Agnia.
Melihat kedekatan Bayu dan Rehan membuat Agnia merasa aneh sebab Rehan merupakan tipe orang yang sulit dekat dengan orang lain. Tapi setelah melihat kedekatan Bayu dan Rehan ada perasaan senang yang Agnia rasakan. Setelah pertemuan itu, Bayu semakin sering menemui Rehan. Begitupun dengan Rehan, ia merasa sangat senang karena kini ia memiliki teman yang baru.
Kini hampir setiap minggu Bayu selalu menemui Rehan. Entah itu hanya sekedar makan bersama, bahkan bermain bersama. Yang jelas kedekatan Bayu dan Rehan sudah tidak bisa dipisahkan lagi.
Pak Adi yang mulai mengetahui kedekatan Rehan dan Bayu pun merasa senang. Karena semenjak Rehan bertemu dengan Bayu, Rehan terlihat begitu senang dan ceria. Menurut penilaian Pak Adi pun Bayu merupakan sosok pria yang baik bahkan bertanggungjawab.
Pak Adi akan merasa senang jika Agnia sampai menikah dengan Bayu.
"Agi, apa kamu menyukai Bayu?" tanya Pak Adi saat berada diruang tamu bersama Agnia dan Rehan.
"Ayah, kenapa tiba-tiba ayah bertanya seperti itu?" Agnia merasa terkejut dengan pertanyaan ayahnya yang tiba-tiba seperti itu.
"Bayu adalah pria yang baik nak, lagipula sepertinya Bayu juga sangat menyanyangi Rehan," ujar Pak Adi.
"Ayah, Bayu kan hanya atasan Agi yah, tidak lebih," ucap Agnia.
__ADS_1
Setelah percakapannya bersama Pak Adi, membuat Agnia tidak bisa memejamkan matanya. Semua posisi tidur sudah ia lakukan namun Agnia masih saja belum bisa memejamkan matanya. Pertanyaan Pak Adi benar-benar mengganggu pikirannya.
"Ayah, apa benar yang ayah katakan jika Bayu adalah pria yang baik. Agi ingin mencoba membuka hati Agi lagi, tapi Agi masih takut yah. Perpisahan Agi dan Mas Cahya, Agi takut jika hal itu terulang kembali," lirih Agnia.