
Happy Reading... 😊
Selama beberapa hari Agnia masih tidak ingin berbicara dengan Bayu. Agnia harus bisa melupakan Bayu, meski Agnia sangat mencintai Bayu tapi restu orang tua yang lebih utama. Jika orang tua Bayu tidak menerimanya, bagaimana mereka akan menerima Rehan.
"Mungkin suatu saat nanti kamu akan mengerti nak," gumam batin Agnia.
Sementara Bayu yang sedang sibuk diruang kerjanya tidak bisa bekerja secara baik. Pikirannya begitu rumit memikirkan hubungannya bersama Agnia. Disisi lain Bayu sangat menghormati ibunya, namun di lain sisi Bayu juga sangat mencintai Agnia. Bayu bingung harus berbuat apa. Semakin Bayu melupakan Agnia, semakin Bayu tidak bisa melupakan Agnia. Wajahnya dan kebaikannya selalu terbayang dalam ingatannya.
"Sial! Kerja, kerja woy!" geram Bayu yang memarahi dirinya sendiri serta memukul-mukul pulpen ke kepalanya. Bayu merutuki dirinya sendiri karena sulit untuk berkonsentrasi.
Untuk menghilangkan rasa pusingnya, Bayu menelpon ke bagian dapur untuk dibuatkan segelas kopi. Mungkin dengan meminum kopi akan membuat Bayu lebih baik.
Tidak lama datanglah seorang office boy yang membawakan segelas kopi untuknya.
Tok.. tok...
"Permisi pak, ini kopinya. Dan ini kuenya pak," sapa office boy itu yang membawakan segelas kopi panas dan kue serta meletakannya diatas meja Bayu.
"Terima kasih ya. Kenapa ada kuenya, saya kan tidak minta ini," ujar Bayu saat office boy itu selesai menaruhnya.
"Sama-sama pak, ini spesial buat bapak, saya permisi," jawab office boy itu tersenyum ramah sambil berlalu meninggalkan ruangan Bayu.
"Aku tidak bisa terus begini, aku harus berbicara pada Agnia," gumamnya setelah menyeruput sedikit kopi panasnya.
Setelah menghabiskan kopinya, Bayu akhirnya segera pergi meninggalkan kantornya.
Sudah beberapa hari Agnia tidak masuk kantor. Agnia sengaja tidak masuk karena ingin menghindari Bayu. Agnia berfikir mungkin dengan tidak menemuinya, bisa dengan mudah melupakan Bayu.
Dirumah Agnia sudah disibukan dengan pekerjaan rumahnya. Pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas bagi setiap ibu yang berada dirumah. Mulai menyapu, mengepel, memasak, bahkan Agnia harus mengantar Rehan ke sekolah. Rehan yang sudah siap dan telah selesai menghabiskan sarapannya akhirnya bergegas pergi. Dengan segera Agnia mengantar Rehan terlebih dahulu.Sepulang mengantar Rehan, ternyata Bayu sudah menunggu diteras.
Agnia langsung memarkirkan mobilnya kedalam garasi. Agnia merasa terkejut saat keluar dari mobilnya.
"Bayu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Agnia ketus.
__ADS_1
"Agnia aku mohon, jangan bersikap seperti ini kepadaku," lirih Bayu.
"Sudahlah Bayu, sebaiknya lupakan aku. Masih banyak wanita yang lebih baik diluaran sana," pekik Agnia.
"Tapi aku hanya mencintaimu Agnia," lirih Bayu.
"Tapi orang tuamu tidak merestui hubungan kita," jelas Agnia.
"Aku tahu, mungkin suatu saat nanti mereka akan mengerti," ujar Bayu.
"Aku mohon Agnia, beri aku kesempatan sekali lagi," dengan menyatukan kedua tangannya Bayu berusaha memohon kembali.
Melihat Bayu yang sudah memohon dari tadi membuat Agnia tidak tega. Agnia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Agnia tidak bisa melupakan Bayu begitu saja. Dengan sedikit ragu Agnia berusaha menerima Bayu kembali.
Di tempat lain, Zoya sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya. Kesukaan Zoya pada tanaman membuat halaman rumahnya menjadi lebih asri dan sejuk. Bunga-bunga serta tanaman lain yang ditata rapi membuat pemandangan disekitar rumah terlihat indah. Mulai dari tanaman mawar, anggrek, lidah mertua, serta tanaman yang lainnya membuat halaman terlihat berwarna-warni.
Namun saat Zoya sedang asyik menyiram tanaman, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.
"Mas Rizal?" tanya Zoya yang menautkan kedua halisnya.
Zoya masih tidak percaya dengan kehadiran Rizal yang begitu tiba-tiba. Sudah bertahun-tahun Rizal menghilang, tapi kini dia datang kembali mendatangi Zoya.
"Iya, ini aku Zoya. Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu," lirih Rizal yang bersimpuh dihadapan Zoya dan meminta maaf.
"Mas bangun mas, tidak enak dilihat orang," ujar Zoya yang membangunkan Rizal.
"Tapi tolong maafkan aku Zoya," lirih Rizal yang menyatukan kedua tangannya.
"Aku sudah memaafkanmu mas," ujar Zoya.
"Terima kasih Zoya, apa kita bisa kembali lagi?" tanya Rizal ragu.
"Apa? Maaf aku tidak bisa mas. Kamu sudah pergi sangat lama mas, aku tidak mungkin bisa menerima kamu lagi," lirih Zoya.
__ADS_1
Setelah kepergian Rizal bertahun-tahun tanpa ada kabar sedikit pun, kini dengan seenaknya dia datang kembali dan memohon untuk kembali. Sungguh hal itu bukanlah keputusan yang mudah. Rasa sakit hati, bahkan perih karena ditinggalkan suami yang tanpa kabar membuat Zoya begitu menderita. Beberapa tahun Zoya berusaha bangkit dan berusaha mengubur semuanya dalam-dalam.
Tapi entah angin apa yang membuat Rizal datang kembali menemuinya Bahkan untuk melihat wajahnya saja Zoya tidak sudi. Apalagi jika harus menerima Rizal kembali. Ditambah lagi dengan kehadiran Cahya yang kini menjadi suami Zoya. Membuat Zoya tidak bisa kembali kepada Rizal.
"Tapi kenapa Zoya?" tanya Rizal.
"Maaf jika harus kembali aku tidak bisa mas, karena kini aku sudah menikah lagi," jelas Zoya.
"Apa? Dengan mudahnya kamu menikah lagi!" pekik Rizal yang seolah-olah tidak menerima mendengar hal itu.
"Iya mas, kamu saja pergi sudah bertahun-tahun dan tanpa kabar. Untuk apa lagi kamu kesini lagi mas!" pekik Zoya yang tak kalah marah mendengar ucapan Rizal.
"Aku tidak terima ya kalau kamu menikah lagi! Mana suamimu sekarang hah? Biar aku beri pelajaran!" pekik Rizal yang mencari keberadaan Cahya.
"Suamiku tidak ada dirumah, dia sedang bekerja," jawab Zoya.
"Awas saja aku akan membunuhnya karena dia sudah merebutmu dariku!" pekik Rizal.
Mendengar hal itu, ada rasa takut pada diri Zoya. Ia kira jika Rizal memang sudah benar-benar berubah karena sudah mau meminta maaf. Tapi melihatnya marah tadi, Zoya yakin jika Rizal masih tetap seperti yang dulu. Memiliki sifat yang keras dan tempramental. Dia akan melakukan segala cara demi apapun yang dia inginkan.
"Aku kira kamu sudah berubah mas," ujar Zoya.
"Apa berubah? Berubah untuk apa hah?" pekik Rizal.
"Aku kira kamu memang benar-benar tulus meminta maaf mas, tapi ternyata tidak," jelas Zoya.
"Sudahlah mending kamu cepat pergi dari sini!" tegas Zoya.
"Awas saja kamu Zoya! Aku tidak terima kamu mengusirku seperti ini, tunggu saja pembalasanku!" pekik Rizal.
Rizal bergegas pergi setelah berkata seperti itu. Ancaman itu membuat Zoya takut dan merasa begitu khawatir. Zoya takut terjadi apa-apa pada Cahya. Sudah dari dulu Rizal memang selalu bersikap seperti itu. Seenaknya dan mau menang sendiri.
"Semoga Allah selalu melindung kamu, dimanapun kamu berada Cahya," gumam batin Zoya yang langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1