
Happy Reading... 😊
"Ibu, ibu.." lirih Agnia sambil mengguncangkan tubuh sang ibu.
"Ini semua gara-gara kamu ya mas!" pekik Agnia sambil melirik ke arah Cahya.
"Ada apa ini? Kenapa ibumu bisa sepert ini?" ujar Pak Adi saat baru pulang dari kantor.
"Ibu pingsan," lirih Agnia yang sejak tadi menangisi ibunya.
Pak Adi terlihat begitu cemas melihat istrinya yang tergeletak dilantai. Spontan Pak Adi langsung membopong istrinya masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Agnia duduk dibagian belakang sambil menemani Bu Hana, sedangkan Cahya mengikuti mobil Pak adi dari belakang. Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah sakit.
Setibanya dirumah sakit Bu Hana langsung dilarikan ke IGD. Sementara Pak Adi, Cahya dan Agnia menunggu diluar. Didalam ruangan seorang dokter langsung memeriksa denyut nadi Bu Hana, karena tidak stabil akhirnya dokter menggunakan Defribrilator (alat pacu jantung) untuk mengatasi irama jantung Bu Hana agar kembali normal. Alat itu ditempelkan pada dada Bu Hana satu kali, dua kali namun belum membuahkan hasil. Beberapa kali alat itu kembali ditempelkan namun jantungnya masih belum berdetak. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dan sangat berat hati mengatakan jika," maaf kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain. Pasien tidak dapat diselamatkan."
"Apa? Ibu.." Agnia seketika berlari menghampiri ibunya yang telah tiada.
"Ibu maafkan Agi bu, ini semua gara-gara Agi ibu jadi seperti ini," lirih Agnia yang terus terisak menangisi kepergian ibunya.
"Hana bangun Han, jangan tinggakan aku. Kita sudah berjanji akan sehidup semati," lirih Pak Adi yang tak kalah sedihnya karena ditinggalkan istri tercintanya.
Sebagai seorang suami Pak Adi sangat kehilangan Bu Hana karena beliau merupakan seorang istri yang baik juga penurut. Bu Hana tidak pernah marah, bahkan tidak pernah mengeluh selama hidup bersama Pak Adi.
"Maafkan Cahya juga bu, semua ini gara-gara Cahya," timpal Cahya yang terisak karena kehilangan ibu mertuanya.
Bu Hana merupakan sosok mertua yang baik, bahkan Bu Hana sudah menganggap Cahya sebagai putranya sendiri. Maka dari itu Cahya juga merasakan kehilangan yang begitu dalam. Ada perasaan bersalah yang ia rasakan, walau bagaimanapun Bu Hana sering sakit-sakitan semenjak mengetahui Cahya memiliki istri kedua. Sejak itu pikirannya menjadi tidak tenang karena terus memikirkan nasib pernikahan anaknya.
__ADS_1
"Ibu, bangun bu.." teriak Agnia yang masih menangisi ibunya.
Tak lama orang tua Cahya pun datang karena sebelumnya Cahya menelpon mereka.
"Sabar sayang, ibumu sudah tenang di alam sana," ujar Bu Sinta yang datang dari belakang dan mengusap pundak Agnia.
Agnia langsung memeluk ibu mertuanya dan terus menangis di pelukan Bu Sinta. Tidak banyak kata yang keluar dari mulut Agnia, ia hanya terus terisak. Jenazah Bu Hana yang sudah dimandikan kini dibungkus dengan kain kafan. Setelah itu disholatlan lalu dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kini Bu Hana sudah berada di liang lahat dan sudah hidup dengan tenang.
Selama proses pemakaman, air mata Agnia tidak berhenti-berhentinya mengalir. Agnia terus saja menangis, karena baru kali ini Agnia merasa kehilangan seseorang yang sangat amat dalam. Agnia teringat akan kasih sayang ibunya sejak dari kecil hingga ia dewasa. Kini tidak ada lagi seseorang yang memperdulikan dirinya lebih dari siapapun.
"Agnia, aku ingin bicara denganmu," ujar Cahya setelah pemakaman selesai.
"Apa lagi yang akan kamu bicarakan mas? Saat ini aku sedang ingin sendiri, tolong tinggalkan aku," pinta Agnia yang masih terisak didalam kamar sambil memegang foto ibunya.
"Aku mohon tolong batalkan keinginanmu," pinta Cahya.
Bagi Agnia hal ini cukup sulit untuk ia jalani. Sekarang Agnia sangat membutuhkan petuah dari ibunya, namun kini tidak ada lagi tempat bagi Agnia untuk mencurahkan segala isi hatinya.
Beberapa hari, beberapa bulan, bahkan hampir 2 tahun kini telah berlalu, akan tetapi Agnia masih sangat merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Hal-hal kecil selalu mengingatkan kenangan pada ibunya.
"Bu, Agi merindukan ibu..." lirih Agnia yang teringat akan ibunya.
Mungkin jika diharuskan memilih lebih baik kita kehilangan seorang ayah daripada harus kehilangan seorang ibu. Kehilangan seorang ibu memang sangat menyakitkan. Kehilangan seorang ibu, diibaratkan seekor burung yang memiliki sayap sebelah. Dia tidak akan mungkin bisa terbang kembali. Meski masih ada seorang ayah, akan tetapi perhatian seorang ayah dan ibu itu sangatlah jauh berbeda.
Begitupun dengan Agnia, kini ia merasa jika ada yang hilang dalam hidupnya. Pak Adi memang sangatlah baik, namun kebaikan seorang ayah berbeda dengan kebaikan seorang ibu. Meski sudah dewasa akan tetapi Agnia masih tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang ibu. Kepergian ibu dan perpisahannya dengan Cahya seolah menjadi derita yang tiada henti.
__ADS_1
Setelah terjatuh tertimpa tangga pula, mungkin pepatah itu yang dialami Agnia sekarang. Hanya Rehan yang menjadi pelipur laranya kini.
"Ayah kemana bu?" tanya Rehan polos sambil memainkan mainannya.
Mendengar kata-kata Rehan membuat Agnia terdiam seketika. Agnia bingung harus menjawab apa.
"Sayang, ayah kamu harus kerja diluar kota. Jadi tidak bisa pulang setiap hari," dusta Agnia yang terpaksa harus membohongi anaknya sambil mengusap kepala Rehan.
"Maafkan ibu nak, ibu terpaksa harus berbohong," gumam batin Agnia.
Sebenarnya sudah lama Agnia berpisah dengan Cahya. Dulu beberapa hari setelah kepergian ibunya Agnia segera menyelesaikan perpisahannya dengan Cahya.
Flashback on
Beberapa pekan setelah kepergian ibunya, Agnia menghadiri sidang untuk pertama kalinya. Tidak lama setelah melakukan sidang pertamanya Agnia dan Cahya akhirnya resmi berpisah.
"Agnia, apa kamu tidak bisa membatalkan keinginanmu?" tanya Cahya.
"Tidak mas, aku tidak akan membatalkannya. Niatku sudah bulat, untuk apa aku mempertahankan rumah tangga ini jika cintamu harus terbagi, aku tidak sanggup mas," lirih Agnia dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam hati terdalam Agnia, sebenarnya ia tidak mau jika harus sampai berpisah dengan Cahya. Sungguh semua ini diluar dugaannya. Agnia tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan seperti ini. Setelah kepergiaan ibunya, kini ia harus berpisah dengan Cahya.
"Jika bukan untukku, tolong pikirkan anak kita. Bagaimana jika suatu saat Rehan menanyakan aku," Cahya tetap berusha mencegah Agnia untuk membatalkan perpisahannya, karena Cahya memang tidak mau berpisah dengan Agnia. Namun Cahya juga tidak mau jika harus pergi meninggalkan Zoya.
"Entahlah, biar nanti aku pikirkan lagi, mungkin aku bilang saja ayahnya sudah tiada," pekik Agnia yang merasa kesal.
"Tega kamu Agnia," jelas Cahya.
__ADS_1
"Kamu juga tega mas, kamu tega menduakan aku. Sudahlah kamu urusi saja istrimu yang sekarang. Kita sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa sekarang," lirih Agnia sambil berlalu meninggalkan Cahya.
flashback off