Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
47. Kedatangan Ayah


__ADS_3

Happy Reading... 😊


Setelah mengetahui semuanya, entah mengapa ada rasa nyaman saat Agnia berbicara dengan Ihsan. Padahal mereka baru beberapa kali bertemu, tapi entah mengapa seperti sudah mengenal lama. Begitupun dengan Ihsan yang merasakan hal yang sama. Berbicara dengan Agnia membuat Ihsan sangat senang dan merasa nyaman. Ada rasa yang tak biasa yang ia rasakan.


"Kirain kamu udah nikah," ucap Agnia.


"Belum lah, mana ada orang yang mau nikah sama aku," ujar Ihsan merendah.


"Bukannya tidak ada, tapi belum ada," celetuk Agnia.


"Iya semoga secepatnya ya," timpal Ihsan yang mengamini doanya sendiri.


Setelah cukup lama berbincang, akhirnya mereka pun pulang.


"Biar aku antar pulang ya?" tawar Ihsan.


"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri," jawab Agnia.


"Tapi kalau lain kali kita seperti ini lagi bisa kan?" tanya Ihsan yang sebenarnya ingin lebih lama bisa berbincang dengan Agnia.


"Boleh, boleh! Kalau begitu aku duluan ya!" pamit Agnia.


"Kita bareng aja keluar," ujar Ihsan.


Mereka pun beriringan menuju parkiran. Dalam hati Ihsan ada perasaan senang karena tanpa diduga Ihsan bisa bertemu dengan Agnia. Begitupun dengan Agnia yang merasa lebih baik setelah bertemu dengan Ihsan. Mereka pun menuju mobil mereka masing-masing.


"Aku duluan ya," pamit Agnia.


"Iya Agnia, hati-hati ya," ujar Ihsan.


Agnia pun menganggukan kepala dan segera bergegas pergi dari tempat itu. Tidak berselang lama, Ihsan juga mulai pergi dari tempat itu. Dengan kecepatan yang tinggi Agnia melajukan kendaraannya. Satu jam kemudian akhirnya Agnia tiba dirumah.


"Assalamaualaikum," ujar Agnia saat masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Rehan dari dalam rumah yang sedang menonton tv.


"Gimana tadi sekolahnya sayang?" tanya Agnia yang langsung duduk disamping Rehan.


"Tadi baik, terus tadi dikasih PR sama bu guru bu. Tapi udah aku kerjain," timpal Rehan.


"Baguslah kalau begitu, biar nanti ibu periksa ya! Sekarang ibu mau mandi dulu. Kamu tidur ya, ini sudah malam," ujar Agnia.


"Iya bu, sekarang aku mau tidur. Tadi aku cuma nunggu ibu aja karena khawatir ibu masih belum pulang juga," jelas Rehan.


"Iya sayang, selamat beristirahat ya!" ujar Agnia yang mengecup pucuk kepala Rehan.


Mendengar kata-kata Rehan membuat Agnia tersentuh. Anak sekecil itu bisa memiliki perasaan seperti itu. Agnia bersyukur karena memiliki seorang anak yang sangat baik. Agnia tidak pernah mengira jika Rehan akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Meski Agnia membesarkan Rehan seorang diri, akan tetapi Agnia bisa melewati semuanya dengan baik.


Selepas mandi, Agnia memeriksa tugas Rehan terlebih dahulu. Ada perasaan bangga yang ia rasakan, karena Rehan bisa begitu disiplin. Selain itu, Rehan juga berusaha mengerjakan tugasnya tanpa bantuan orang lain. Setelah memeriksa tugas Rehan, Agnia berniat untuk membuat beberapa lamaran pekerjaan. Besok Agnia akan mencari pekerjaan.


Sangat tidak mungkin bagi Agnia untuk berpangku tangan. Sebagai single parent, sudah kewajiban Agnia untuk membiayai Rehan. Satu jam berlalu, Agnia telah selesai membuat lamaran pekerjaan hingga beberapa buah. Setelah mengantuk akhirnya Agnia pun segera beristirahat, melepas penat.


"Selamat siang pak, apa disini sedang membutuhkan karyawan?" tanya Agnia pada seorang satpam yang sedang berjaga didepan perusahaan tekstil.


"Maaf bu, belum ada lowongan," jawab satpam itu.


"Ouh iya terima kasih," pamit Agnia setelah mengetahui jika di situ belum ada lowongan pekerjaan.


Sudah beberapa tempat yang ia datangi, namun hanya ada satu yang membuka lowongan pekerjaan. Agnia mencoba menitipkan lamaran pekerjaan itu, siapa tahu ada rezeki Agnia. Hari masih siang, tapi Agnia masih membawa beberapa amlop coklat ditangannya. Merasa lelah, Agnia berhenti disalah satu taman yang cukup luas. Ditaman itu terdapat air mancur yang cukup indah. Agnia duduk ditepi kolam itu.


"Harus kemana lagi aku mencari pekerjaan," gumam batin Agnia.


Untuk beberapa saat Agnia terdiam merenungi setiap yang terjadi dalam hidupnya. Andai begini, andai begitu, namun Agnia mencoba menepikan itu semua. Agnia tahu benar jika yang terjadi dalam hidupnya merupakan takdir dari sang pencipta. Setelah cukup beristirahat Agnia berniat pulang sambil melihat-lihat barang kali ada lowongan pekerjaan saat dalam perjalanan pulang.


Sambil menyetir mobilnya, Agnia mengedarkan pandangannya ke sisi sebelah kiri dan ke sisi sebelah kanan. Hingga mobil itu hampir tiba dirumah Agnia, ia tak kunjung menemukan lowongan pekerjaan dalam perjalanan pulang. Sesampainya dirumah Agnia melihat mobil yang sedang terparkir didepan rumahnya.


"Itu mobil siapa ya? Sepertinya aku baru melihatnya," gumam batin Agnia yang segera memasukan mobilnya kedalam garasi.

__ADS_1


Agnia segera turun dari mobil dan segera bergegas masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum," sapa Agnia saat masuk ke dalam rumahnya.


"Ayah ada disini?" tanya Agnia yang langsung menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangan ayahnya.


"Waalaikumsalam. Iya sayang, ayah baru saja sampai, kamu apa kabar? " tanya Pak Arga.


"Baik yah, ayah sendiri gimana?" tanya Agnia lagi.


"Ayah juga baik," jawab Pak Arga.


"Dimana cucu ayah?" tanya Pak Arga.


"Kakek.." pekik Rehan yang baru saja keluar dari kamarnya dan segera menghampiri kakeknya.


"Cucu kakek, apa kabar?" tanya Pak Arga yang langsung memeluk dan langsung menggendong cucunya. Meski terasa berat namun Pak Arga merasa sangat senang karena sudah lama tidak bertemu dengan Rehan.


"Aku baik kek," jawab Rehan.


"Oiya Agi, kedatangan ayah kesini ayah ingin mengenalkanmu pada seseorang," ujar Pak Arga yang langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


"Siapa yah?" tanya Agnia yang menautkan kedua halisnya.


"Anak teman ayah, dia itu laki-laki yang baik dan sudah mapan," ujar Pak Arga.


"Maksud ayah mengenalkan aku sama dia apa?" tanya Agnia yang masih belum mengerti dengan maksud Pak Arga.


"Ayah ingin kamu menikah lagi nak. Ayah tidak tega melihat kamu terus-terusan seperti ini," jelas Pak Arga. Sebagai orang tua, Pak Arga sangat mengkhawatirkan Agnia. Pak Arga benar-benar tidak tenang melihat Agnia hidup sendiri.


"Tapi yah, untuk saat ini Agi masih belum siap untuk menjalin hubungan lagi. Agi masih takut jika kejadian waktu itu terulang kembali yah, bahkan hati Agnia masih sakit hingga saat ini. Agi benar-benar belum bisa melupakan semua itu yah," lirih Agnia dengan mata yang berkaca-kaca.


Meski kejadian itu sudah terjadi bertahun-tahun, akan tetapi Agnia masih belum bisa melupakan kejadian itu. Pernikahannya yang pertama benar-benar membuat Agnia merasa trauma akan sebuah pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2