Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
8. Pernikahan Kedua


__ADS_3

Saat mengetahui cerita yang sebenarnya, ada rasa kasihan dan penyesalan yang Cahya rasakan. Ia tidak mengira jika Zoya mengalami masalah seberat itu, akan tetapi Cahya kekasihnya tidak mengetahui permasalahan itu sedikitpun.


Cahya hanya berfikir jika Zoya baik-baik saja dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku Zoya, aku tidak mengetahui yang sebenarnya," lirih Cahya yang merasa sangat sedih mendengar penjelasan Zoya yang sebenarnya.


"Tidak apa-apa, semua ini memang salahku. Andaikan dulu aku bisa menceritakan semua ini, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi," jawab Zoya yang merasa sedih.


"Lalu bagaimana dengan pernikahanmu saat ini? Apa semua tetap seperti dulu? Apa suamimu bertanggungjawab?" tanya Cahya yang mencecar Zoya dengan beberapa pertanyaan. Untuk beberapa menit Zoya hanya terdiam. Tidak ada kata-kata yang bisa dia ungkapkan.


"Aku tidak tahu harus bagaimana? Karena sudah setahun lebih suamiku pergi meninggalkanku tanpa kabar sedikitpun," lirih Zoya.


"Apa? Benar-benar berengsek lelaki itu! Bisa-bisanya dia melakukan hal ini padamu!" geram Cahya yang mengepalkan tangannya karena kesal.


"Sudahlah, aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini," ujar Zoya.


"Lalu bagaimana dengan kehidupanmu? Dari mana biaya hidupmu selama ini?" tanya Cahya lagi.


"Aku masih ada sedikit tabungan," jawab Zoya yang dibarengi bulir bening yang membasahi pipinya. Rasanya Zoya sudah tidak kuat menahan segala kepahitan yang terjadi kepadanya. Selama ini Zoya selalu berusaha untuk kuat menerima segala kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Namun dihadapan Cahya, Zoya tidak bisa menyembunyikan apa-apa lagi darinya. Semua duka didadanya seolah meledak seperti bom waktu.


"Sudah cukup jangan menceritakan itu lagi! Mendengar semua ini membuat hatiku sangat sedih," lirih Cahya yang langsung memegang bibir Zoya dengan jari telunjuknya.


Zoya pun seketika terdiam dengan apa yang dilakukan Cahya. Cahya mulai merengkuh dan memeluknya Zoya dengan begitu eratnya. Begitupun dengan Zoya yang langsung membalas pelukan Cahya. Untuk beberapa saat Zoya menangis didada bidang Cahya.


Mereka seolah sedang melepas rindu.


Seakan pelukan itu ibarat sebuah obat yang bisa mengobati luka hati Zoya. Setelah beberapa saat berpelukan, cahya langsung mengusap pipi Zoya yang sudah penuhi dengan air mata.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Sekarang ada aku yang akan selalu menjagamu," ujar Cahya yang mengapus air mata Zoya.


Mendengar hal itu, membuat hati Zoya semakin lega. Kini tidak ada lagi keluhan dalam hatinya. Kini tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Lukanya seolah mengering setelah bertemu dengan Cahya. Zoya hanya mengangguk dan mulai merapihkan kerudungnya.

__ADS_1


"Karena suamimu pergi begitu saja, aku akan menikahimu," ujar Cahya.


"Benarkah? Bagaimana jika suamiku tiba-tiba datang? Apa yang akan kita lakukan?" tanya Zoya yang menautkan kedua halisnya.


"Sudahlah, laki-laki berengsek seperti dia tidak akan mungkin kembali lagi!" geram Cahya.


"Baiklah kalau begitu, kapan kita akan menikah?" tanya Zoya.


"Secepatnya, aku akan segera menikahimu," jawab Cahya dengan penuh rasa percaya diri.


Mendengar hal itu, membuat Zoya merasa senang. Karena walau bagaimanapun Zoya masih sangat mencintai Cahya. Dan kini Zoya tidak akan menolak untuk menikah dengan Cahya.


Cahya harus memutar otak bagaimana caranya agar Agnia tidak curiga kepadanya. Untuk menutupi pernikahan keduanya, Cahya terpaksa harus berbohong kepada Agnia.


Cahya mengatakan jika ia ada pekerjaan diluar kota untuk beberapa hari. Agnia yang tidak menaruh curiga sedikitpun percaya kepada Cahya. Agnia hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk suaminya.


Akhirnya hari itupun tiba. Untuk pertama kalinya Cahya harus meninggalkan Agnia jauh darinya. Namun sebagai seorang istri yang baik, Agnia mencoba untuk memahami pekerjaan Cahya. Meski sebenarnya Cahya tidak ingin mengkhianati Agnia, namun Cahya juga masih menyimpan perasaan yang begitu dalam pada Zoya.


Keesokan harinya, Cahya berpamitan pada Agnia.


"Iya, mas hati-hati juga ya!" jawab Agnia yang langsung meraih tangan Cahya dan mencium punggung tangan Cahya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Loh, kok matanya berkaca-kaca?" tanya Cahya yang sejak tadi memperhatikan Agnia.


"Tidak apa-apa mas aku hanya sedih saja" lirih Agnia yang tiba-tiba mengalirkan bulir bening dipipinya.


"Sedih kenapa?" tanya Cahya yang langsung menangkup kedua pipi Agnia.


"Aku hanya takut kehilangan mas," ujarnya lagi.


"Aku kan hanya pergi bekerja sayang," timpal Cahya yang merasa tersindir dan langsung memeluk Agnia.

__ADS_1


"Iya mas aku tahu," lirih Agnia lagi.


Mendengar kata-kata Agnia membuat Cahya merasa tersindir. Cahya sebenarnya tidak ingin menyakiti Agnia.


"Maafkan aku Agnia," gumam batin Cahya.


"Kenapa mas?" tanya Agnia yang heran melihat Cahya tiba-tiba terdiam.


"Tidak, tidak apa-apa. Kalau begitu mas harus segera pergi karena mas sudah sangat terlambat," pamit Cahya yang langsung berlalu meninggalkan Agnia.


Beberapa minggu kemudian akhirnya Cahya dan Zoya melangsungkan pernikahan. Pernikahan mereka dilakukan dengan sangat sederhana. Mereka menikah secara siri.


"Selamat, kini kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan yang sakinnah, mawwadah dan warohmah. Sekarang suami mencium kening istri dan istri mencium tangan suami," ujar pak penghulu setelah menikahkan mereka berdua.


Cahya segera mengecup pucuk kepala Zoya, dan Zoya langsung meraih punggung tangan Cahya yang langsung diletakan diatas keningnya. Mereka terlihat begitu serasi. Tidak ada sedikitpun kecurigaan yang Zoya rasakan pada Cahya.


Mereka terlihat begitu sangat berbahagia. Setelah rangkaian acara selesai mereka pergi ke sebuah rumah sederhana yang sebelumnya disiapkan Cahya. Rumah yang terlihat asri dan begitu menyekan.


Malam ini merupakan pertama bagi mereka. Sesampainya di rumah, Cahya membopong Zoya ke dalam kamar.


"Aku malu, tolong turunkan aku," pinta Zoya.


"Kenapa harus malu, kita kan sudah syah menjadi suami istri," timpal Cahya yang terus membopong Zoya sampai ke dalam kamar.


Setibanya dikamar, Cahya langsung membaringkan Zoya diatas kasur. Cahya mulai mendekati Zoya dan mengecup bibir ranum Zoya. Zoya mulai menyeimbangi Cahya. Dan mereka saling membalas kecupan itu.


Cahya mulai menjelajah ke setiap bagian lekuk tubuh Zoya. Zoya mulai terbawa suasana dan telah siap melakukan hal itu. Tanpa aba-aba Cahya langsung menjalankan acara inti dari malam pertama itu.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan. Kini mereka tergulai lemas.


"Kamu memang luar biasa sayang?" ujar Cahya.

__ADS_1


"Ah kamu juga sangat pandai bermain," jawab Zoya yang tidak mau kalah dari Cahya.


Karena malam sudah semakin larut, kini mereka akhirnya tertidur pulas.


__ADS_2