
Happy Reading... 😊
Agnia berlari sekuat yang ia bisa. Agnia berlari ke arah luar rumah sakit. Ketika itu hujan turun dengan derasnya, namun hujan bukan penghalang bagi Agnia untuk berlari. Hujan seolah mewakili suasana hati Agnia yang sedang bersedih. Dibawah guyuran hujan Agnia terus saja menangis meratapi nasibnya.
Agnia tidak pernah mengira jika hidupnya akan seperti ini. Seandainya ia tahu jika hidupnya akan seperti ini, mungkin ia memilih untuk tidak menerima perjodohan itu. Tapi sungguh, pemikiran itu harus dibuang jauh-jauh. Karena berandai-andai merupakan sebuah dosa bagi orang muslim yang mengetahui hukumnya. Agnia duduk disebuah bangku taman yang sepi karena diguyur hujan. Air matanya tidak henti-hentinya mengalir.
"Apa yang aku fikirkan? Kenapa aku bisa seperti ini?" gumamnya bermonolog.
Karena terlalu lama menangis akhirnya Agnia jatuh pingsan dibawah derasnya hujan. Bu Sinta yang sejak tadi mencari keberadaan Agnia, akhirnya menemukan Agnia yang sudah tidak sadarkan diri dibawah derasnya hujan.
"Bukannya itu Agnia? Agnia sayang, kamu kenapa nak?" tanya Bu Sinta yang khawatir meiihat Agnia tidak sadarkan diri.
"Tolong.. tolong.." pekik Bu Sinta yang mencari sebuah pertolongan.
Tidak lama datanglah seorang perawat yang melewati tempat itu. Melihat ada seseorang yang tergeletak spontan membuat perawat itu membopong Agnia dan membawanya ke ruang IGD untuk segera diperiksa.
Bu Sinta dan salah seorang suster mengganti pakaian Agnia yang kebasahan. Setelah pakaiannya diganti dengan pakaian rumah sakit, akhirnya Agnia diperiksa.
"Gimana dengan menantu saya tidak apa-apa?" tanya Bu Sinta yang terlihat cemas.
"Ibu tidak perlu khawatir karena anak ibu hanya kelelahan saja. Sepertinya dia sedang banyak pikiran sehingga tidak bisa berhenti menangis. Tolong jaga kesehatan badannya juga kesehatan pikirannya," ujar dokter itu setelah memeriksa.
"Syukurlah, terima kasih dok," ucap Bu Sinta.
"Sama-sama bu, kalau begitu saya permisi," pamit sang dokter yang berlalu meninggalkan ruangan.
"Ibu.." lirih Agnia yang mulai siuman.
"Agnia, kamu kenapa nak? Kenapa hujan-hujannan?" tanya Bu Sinta yang cemas melihat keadaan Agnia.
"Agnia tidak apa-apa bu, Agnia hanya kelelahan saja," jawab Agnia dengan senyuman yang dipaksakan.
"Syukurlah, kamu sudah siuman, dari tadi ibu khawatir nak," ujar Bu Sinta yang tampak senang melihat Agnia sudah siuman.
"Kalau begitu, ibu ke kamar Cahya dulu ya nak," pamit Bu Sinta.
"Iya bu," jawab Agnia.
__ADS_1
"Oiya bu, ibu tidak usah bilang mas Cahya ya kalau Agnia pingsan," pinta Agnia.
"Loh kenapa nak? Walau bagaimanapun suamimu harus tahu nak," jelas Bu Sinta.
Agnia memang tipe wanita yang kuat. Dia tidak ingin orang lain mengasihaninya meski ia sedang terluka. Apalagi saat ini, Cahyalah yang menjadi penyebab semuanya. Rasanya Agnia tidak ingin melihat wajah Cahya meski hanya sebentar. Rasanya sudah muak dengan semua yang Cahya lakukan pada Agnia.
Diruangan lain Bu Sinta baru saja memasuki kamar Cahya.
"Ibu dari mana saja? Kok lama?" tanya Cahya.
"Itu ibu, ibu.." jawab Bu Sinta yang terlihat bingung menjawab pertanyaan Cahya.
"Ada apa bu?" tanya Cahya lagi yang mulai curiga.
"Agnia tadi pingsan," lirih Bu Sinta.
"kok bisa?" tanya Cahya lagi.
"Tadi Agnia kehujanan, terus tidak sadarkan diri saat ditaman," jelas Bu Sinta.
"Agnia ada diruangan IGD," jawab Bu Sinta.
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa membohongi Cahya. Walau bagaimanapun Cahya harus tahu keadaanmu," lirih Bu Sinta.
Mendengar kabar jika Agnia pingsan, Cahya bergegas ingin menemui Agnia.
"Kamu mau kemana nak?" tanya Bu Sinta.
"Aku mau liat Agnia bu," jawab Cahya yang langsung melepaskan impusan yang berada ditangannya.
"Tapi kamu masih sakit nak," cegah Bu Sinta menghentikan langkah Cahya.
"Cahya tidak apa-apa bu," teriak Cahya yang berlalu dibalik pintu.
Tanpa permisi Cahya langsung memasuki ruangan IGD tempat Agnia dirawat.
"Agnia, kamu tidak apa-apa?" tanya Cahya yang langsung menghampiri Agnia dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Lepaskan mas, jangan sentuh aku!" pekik Agnia dengan tangan yang diangkat sebagai tanda berhenti.
"Ada apa denganmu Agnia?" tanya Cahya yang menautkan kedua halisnya.
"Sudahlah mas, jangan pura-pura. Jangan so peduli, tinggalkan aku saja!" pekik Agnia yang masih merasa kesal.
Cahya masih tidak mengerti dengan perasaan Agnia. Cahya masih tidak bisa memahami jika sebenarnya Agnia sudah sangat sakit hati. Sebagai seorang laki-laki Cahya memang tidak peka pada perasaan perempuan.
"Maafkan aku Agnia," lirih Cahya.
"Maaf? Maaf untuk apa mas? Aku tidak butuh maafmu! " pekik Agnia.
"Tapi Agnia sungguh, maafkan aku," lirih Cahya yang kebingungan harus berbuat apa.
"Begini mas, aku ingin kamu memilih. Karena aku sudah tidak sanggup lagi madu," lirih Agnia yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi, aku tidak bisa memilih diantar kalian berdua," ujar Cahya.
"Itu terserah kamu mas, kamu pilih dia atau ceraikan aku!" pekik Agnia yang kini mulai geram. Agnia merasa sudah tidak tahan dengan semua penderitaan dan kesakitan ini.
"Beri aku waktu Agnia, aku mohon," lirih Cahya yang memohon dibawah lutut Agnia dengan menyatukan kedua tangannya.
"Oke jika kamu masih berat memilih diantara kami, biar aku yang mundur meski hatiku sakit. Ceraikan aku saja mas," lirih Agnia yang mulai menangisi semua kata-katanya.
"Apa? Tapi aku tidak mau melakukan hal itu. Apa kamu tidak kasihan pada anak kita. Bagaimana jika suatu saat dia menanyakan keberadaan ayahnya? Tidak, aku tidak bisa," jelas Cahya.
"Biarkan itu menjadi urusanku, mas urusi saja kehidupan mas Cahya dengan wanita itu," timpal Agnia.
"Aku masih sangat mencintaimu Agnia, aku mohon jangan seperti ini," bujuk Cahya.
"Cinta apa yang kamu miliki mas? Sungguh aku tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta," teriak Agnia.
Pengkhianatan Cahya membuat Agnia menjadi takut akan yang namanya cinta. Cinta dan kasih sayang yang ia miliki seolah sirna hanya karena sebuah pengkhianatan. Agnia yang baru mengenal sebuah cinta harus menjadi korban sebuah perselingkuhan.
Mendengar kata-kata Agnia membuat Cahya semakin merasa bersalah. Sebenarnya tidak ada niat sedikitpun bagi Cahya untuk menyakiti bahkan mengkhianati Agnia. Kedatangan kembali Zoya dalam hidupnya justru diluar dugannya, karena sebelum Zoya datang kembali dalam hidupnya Cahya memang sangat-sangat mencintai Agnia.
Rasa cinta dan kasih sayang yang ia berikan memang itu benar adanya. Tidak ada keraguan, tidak ada kepura-puraan. Semuanya tulus, semua itu benar-benar sebuah cinta yang hakiki yang Tuhan ciptakan bagi setiap makhluknya. Kita sebagai manusia hanya sekedar menjalani setiap hal-hal yang sudah tertulis dialam sana.
__ADS_1