Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
7. Merasa Iba


__ADS_3

Zoya hanya bisa pasrah dan menangisi kejadian itu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak keinginan Rizal karena walau bagaimanapun Rizal adalah suami sahnya.


Beberapa hari setelah menikah, sifat asli Rizal semakin terlihat. Semakin lama Rizal semakin arogan dan selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Hal itulah yang membuat Zoya semakin sedih.


Di pagi hari yang begitu cerah, terdengar kicauan burung yang saling bersahutan. Namun suasana pagi itu berbanding terbalik dengan suasana hati Zoya.


"Maaf, makanannya sudah siap," sapa Zoya yang siap menghidangkan makanan.


"Oke," jawab Rizal singkat yang sedang menghisap rokoknya.


Baru satu suapan ia makan, akan tetapi..


"Makanan apa ini? Rasanya tidak enak!" pekik Rizal yang langsung meludahkan makanannya.


"Maaf kenapa? Aku sudah mencobanya," lirih Zoya.


"Apakah kau tidak merasa jika makanan ini pedas hah! Aku tidak suka makanan yang pedas!" hardik Rizal.


"Maaf, tapi ini tidak terlalu pedas," jawab Zoya.


"Sudahlah, aku tidak mau memakan makanan ini!" pekik Rizal sambil berlalu meninggalkan rumah.


Dari situ Zoya kembali menangis, karena selama pernikahannya selama beberapa hari hanya cacian dan makian yang ia dapatkan. Zoya semakin teringat pada Cahya dan ayahnya. Jika ini bukan demi ayahnya, mungkin Zoya tidak akan pernah mengalami hal seperti ini.


Sambil terus mengeluarkan air mata, Zoya tetap membersihkan makanan yang berserakan diatas meja. Sebagai seorang istri, Zoya berusaha untuk menjadi istri yang seutuhnya. Namun ternyata kebaikan Zoya harus dibalas dengan cacian dan makian.


"Ayah, aku ingin pulang.." lirih Zoya yang terisak didalam kamarnya.


Sementara Rizal pergi menemui teman-temannya. Kebiasaan Rizal yang buruk selalu meminum minuman keras. Mungkin karena itulah yang membuat pribadi Rizal menjadi sangat pemarah.

__ADS_1


Hampir seharian berlalu, kini malam kian larut. Zoya yang tertidur karena semenjak tadi menangis akhirnya terbangun.


"Astaga sudah jam 9 malam, aku ketiduran," ujarnya sambil bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah itu Zoya langsung sholat isya dan melaksanakan sholat sunat. Ditengah-tengat sholatnya Zoya masih terisak. Selesai mengerjakan sholat Zoya menangis sejadi-jadinya mengadukan semua keluh kesahnya kepada sang Maha Kholiq. Namun ditengah-tengah doanya terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras.


Tok... tok...


"Sebentar," pekik Zoya yang langsung melepas mukenanya dan bergegas membukakan pintu.


"Rizal? Kamu kenapa?" tanya Zoya yang melihat suaminya sempoyongan. Karena pengaruh alkohol, Rizal berjalan sempoyongan tak tentu arah.


"Sini biar aku bantu," ujar Zoya yang langsung mengandeng tangan Rizal.


Zoya langsung membawa Rizal ke dalam kamar. Meski Rizal bersikap tidak baik, namun Zoya selalu memberikan perhatiannya. Zoya membukakan sepatu Rizal dan membaringkannya diatas ranjang. Namun saat Zoya akan keluar, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Rizal.


"Temani aku Zoya," suara Rizal terdengar parau.


Didalam hatinya ada ketakutan, "apa sebaiknya aku ke kamar lagi atau tidur diluar saja," gumam batinnya.


"Tapi apa yang aku lakukan, walau bagaimanapun dia adalah suamiku. Seburuk apapun dia, aku tetap wajib merawatnya.saat dia sakit," gumamnya lagi.


Perang batin dalam hatinya selalu dikalahkan dengan kebaikan hatinya. Meski Rizal begitu arogan, namun Zoya tetap melakukan yang terbaik untuk suaminya. Perlahan tapi pasti, Zoya tetap menghampiri Rizal ke dalam kamarnya.


Zoya membawakan segelas air untuk Rizal. Saat Zoya masuk kedalam kamarnya, ternyata Rizal sudah tertidur pulas. Melihat hal itu membuat hati Zoya tenang. Zoya pun segera bergegas tidur disamping suaminya.


Beberapa bulan pun berlalu, kini Zoya telah berbadan dua dan usia kandungannya menginjak satu bulan. Bagi ibu hamil memasuki trimester pertama adalah masa-masa sulit, karena dimasa ini merupakan masa dimana seorang wanita selalu mengalami morning sickness. Begitupun dengan Zoya yang selalu mengalami pusing-pusing, mual, bahkan muntah. Akan tetapi sikap Rizal masih saja belum berubah.


Hampir setiap hari Zoya selalu mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Namun Zoya tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan pasrah menerima semua cobaan dalam hidupnya.

__ADS_1


"Zoya.. mana makananku?" pekik Rizal memanggil istrinya.


"Maaf mas, aku belum masak karena tidak enak badan," lirih Zoya yang cepat-cepat menghampiri Rizal karena sejak tadi merasa pusing.


"Apa kerjaanmu hanya tidur saja hah!" pekik Rizal.


"Maaf mas, sejak kemarin aku merasa pusing dan mual mas," lirih Zoya yang memegangi kepalanya.


Tak berapa lama saat Zoya akan menghampiri Rizal ke dapur tiba-tiba Zoya terjatuh dan tidak sadarkan diri serta Zoya tiba-tiba bersimbah darah.


"Zoya.. zoya.. ada apa denganmu? Lalu darah apa ini?" Rizal yang panik langsung menghampiri Zoya dan berusaha mengguncangkan tubuh Zoya.


Rizal yang kebingungan harus berbuat apa, ia bergegas mencari kunci mobil. Rizal membopong Zoya ke dalam mobil dan pergi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya disana Zoya langsung dibawa ke ruangan Instalasi Gawat Darurat.


Rizal terlihat cemas karena ia tidak pernah melihat Zoya sampai seperti ini. Ada rasa sesal dalam dirinya karena selama ini ia selalu bersikap kasar pada Zoya.


"Aku harap kamu baik-baik saja," gumam batin Rizal.


Ditengah lamunan Rizal dokter keluar dari ruangan Zoya.


"Maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda?" tegas dokter itu.


"Apa? Jadi istri saya sedang hamil?" tanya Rizal yang memang tidak mengetahui jika Zoya sedang berbadan dua.


"Iya pak, karena kelelahan kandungannya menjadi lemah," jawab dokter itu.


Seketika Rizal semakin merasa bersalah. Namun kenyataannya tidak ada perubahan yang signifikan. Rizal selalu saja bertindak sesuka hatinya. Bahkan kata-kata kasarnya selalu saja terucap dari mulutnya.


Beberapa hari kemudian, akhirnya Zoya bisa pulang ke rumah. Namun dalam hatinya masih tersimpan kesedihan yang begitu mendalam. Kesedihan karena kehilangan seorang anak. Meski begitu ia harus tetap menjalani hidupnya.

__ADS_1


Flash back off.


__ADS_2