
Happy Reading... 😊
Setelah selesai memilih mas kawin, Agnia dan Ihsan pun segera bergegas dari tempat itu. Seharian berbelanja membuat perut mereka keroncongan.
"Kita makan dulu ya, aku lapar," ajak Ihsan sambil memegangi perutnya.
"Iya mas ayo!" ujar Agnia yang langsung mengiyakan.
Mereka pun pergi ke lantai paling atas menuju food court yaitu tempat khusus menjual beraneka ragam makanan. Sesampainya dilantai itu Ihsan dibingungkan dengan berbagai macam makanan yang harus ia pilih.
"Makan apa ya aku jadi bingung? Kamu mau makan apa Agnia?" tanya Ihsan.
"Aku kayanya lagi pengen makan soto," jawab Agnia.
"Wah boleh juga tuh, aku juga kayanya makan itu aja," ucap Ihsan.
Mereka pun segera bergegas ke kedai yang menjual soto. Tidak jauh dari mereka berdiri ada penjual soto. Agnia dan Ihsan segera menuju meja yang berada didepan kedai itu.
"Mas, mas," panggil Ihsan yang memanggil seorang waitress yang berdiri didepan kedai itu.
"Iya pak, " jawab waitress itu.
"Saya pesan soto+nasinya 2 ya, sama minumnya es teh," ujar Ihsan.
"Baik pak, silahkan ditunggu sebentar," pamit waitress itu.
Agnia dan Ihsan pun menunggu pesanan mereka. Beberapa menit kemudian akhirnya pesanan mereka tiba. Ihsan dan Agnia makan dengan begitu lahapnya, sebab sedari tadi mereka sudah merasa lapar. Setelah habis memakan makanannya, Ihsan membayar makanannya terlebih dahulu dikasir. Ihsan dan Agnia pun pergi meninggalkan toko itu.
Saat Ihsan dan Agnia keluar dari gedung itu, terlihat seseorang yang sedang duduk dipinggir jalan. Merasa kasihan Ihsan pun merogok saku celananya dan memberikan uang recehnya kepada orang itu.
"Terima kasih pak, bu," ujar orang itu dan membuka topinya.
"Sama-sama," jawab Ihsan yang baru saja akan melangkahkan kakiknya.
"Mas Cahya?" tanya Agnia yang sedang berdiri dibelakang Ihsan.
"Agnia? Iya ini aku, " lirih orang itu yang ternyata adalah Cahya.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa seperti ini mas?" tanya Agnia yang menautkan kedua halisnya karena sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu lagi.
"Kamu kenal sama orang ini Agnia?" tanya Ihsan yang merasa bingung karena Agnia mengenal pengemis itu.
"Iya Ihsan, dia adalah mantan suamiku," jawab Agnia tidak enak.
"Apa? Jadi pria ini ayahnya Rehan? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Ihsan.
Cahya hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Tatapannya seolah kosong namun ia masih tetap bisa mengenali Agnia. Setelah cukup lama tidak bertemu kini Cahya berpakaian seperti itu. Seperti orang yang kekurangan, berpakaian lusuh, bahkan kini Cahya terlihat lebih hitam dan sangat kurus. Agnia sempat merasa jika ini bukanlah Cahya.
"Maafkan aku Agnia, aku seperti ini pasti karena perbuatanku dulu kepadamu," ujar Cahya yang menyesali perbuatannya.
"Sudah lah mas, sejak dulu aku sudah memaafkanmu," jawab Agnia.
"Kenapa bisa sampai seperti ini mas?" tanya Agnia yang merasa prihatin dengan keadaan Cahya yang sekarang. Terakhir bertemu Cahya masih memiliki pekerjaan bahkan ia masih memiliki mobil.
"Begini Agnia, apa kamu masih ingat dengan pertemuan kita yang terakhir saat dicafe itu?" tanya Cahya seolah mengingatkan.
"Iya mas aku masih ingat, saat itu aku pergi meninggalkan kamu," ujar Agnia.
"Iya Agnia saat kamu pergi, aku mulai merenungi semua yang telah terjadi, dan sejal saat itu aku memutuskan untuk pergi dari kota ini," ujar Cahya yang memulai ceritanya.
l
Dikeramaian restoran itu, Cahya duduk seorang diri. Cahya tidak mengejar kepergian Agnia. Cahya hanya duduk termenung dan menyesali semua perbuatan yang pernah ia lakukan. Mungkin jika dulu Cahya tidak bertemu lagi dengan Zoya, semuanya pasti akan baik-baik saja sampai detik ini. Cahya pasti akan memiliki keluarga yang utuh. Namun nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi.
"Maafkan aku Agnia, aku tidak pernah ingin menyakitimu. Aku sangat menyesal dengan semua yang pernah aku lakukan. Kini aku hanya ingin melihatmu bahagia," gumam Cahya dalam hatinya.
Setelah kepergian Agnia, Cahya duduk seorang diri dan merenungi semua yang telah terjadi. Hingga Cahya pun berfikir jika ia akan pergi meninggalkan kota itu untuk selamanya.
"Ya mungkin dengan aku pergi jauh dari kota ini, lambat laun aku akan bisa melupakanmu Agnia," lirih Cahya yang mulai bergegas pulang menyiapkan semuanya.
Tidak berapa lama akhirnya Cahya tiba dirumah, malam itu juga Cahya mulai membereskan semua pakaiannya hingga tidak ada satupun pakaiannya yang tersisa. Cahya segera memesan tiket, dan segera berangkat malam itu juga menuju kota sebelah. Cahya memang tidak terlalu memikirkan akan pergi kemana, yang jelas ia harus pergi sejauh mungkin untuk bisa melupakan Agnia.
Cahya pergi dari kota itu dengan menggunakan kapal terbang. Hanya 2 jam saja Cahya sudah tiba dikota sebrang. Kota yang cukup ramai dan tenang. Saat Cahya baru turun dari kapal, Cahya bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf saya tidak melihat anda," ujar seorang wanita yang menabrak Cahya karena hak sepatunya tiba-tiba patah.
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Cahya yang biasa saja.
"Laki-laki ini tampan juga," gumam wanita itu yang terkesima dengan ketampanan Cahya.
"Maaf anda tidak apa-apa?" tanya Cahya yang menanyakan keadaan wanita itu sambil melambaikan tangannya.
"Aduh, kakiku.." lirih wanita itu yang merasakan kesakitan dikakinya ditengah-tengah lamunannya.
Cahya yang merasa panik mencoba menanyakan keadaan wanita itu.
"Sini biar saya lihat," pinta Cahya yang mencoba memberikan bantuan.
Tanpa banyak kata-kata dari mulut wanita itu, ia segera menyodorkan kakinya dan melihat sekaligus memijit jika kakinya kemungkinan terkilir.
"Aw," ujar wanita itu yang merasakan kesakitan.
"Maaf, anda tidak apa-apa? Sepertinya anda harus dibawa ke rumah sakit," ujar Cahya lagi sesaat setelah melihat keadaan kakinya.
"Aduh rasanya sakit sekali," lirih wanita itu.
"Kalau begitu biar aku yang mengantarmu ke rumah sakit," ujar Cahya yang langsung membopong wanita itu menuju mobil taksi.
"Tolong antar kami ke rumah sakit pak," ujar Cahya setelah memasukan wanita itu.
"Siap pak," jawab supir itu lantang.
"Cepetan ya pak!" ujar Cahya.
Supir itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi. Beruntung jarak dari bandara menuju rumah sakit tidak terlalu jauh. Dengan cepat Cahya membawa wanita itu ke dalam rumah sakit.
"Dokter, dokter tolong periksa wanita ini," ujar Ihsan sambil membopong Agnia.
Beberapa perawat pun dengan cekatan membawa wanita itu ke dalam ruangan instalasi gawat darurat.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya salah seorang suster.
"ceritanya panjang sus, nanti aja saya ceritanya," jawab Agnia.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, biar saha cek dulu penyebannya," ujar Ihsan sesaat sebelum memeriksa keadaan wanita itu sepertinya baik-baik saja.