Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
25. Merasa Sepi


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Rehan beberapa waktu lalu, membuat Cahya ingin terus menemui Rehan. Ada perasaan rindu yang Cahya rasakan. Apalagi jika sedang libur bekerja, ada perasaan sepi yang ia rasakan.


Meski sudah beberapa tahun berumah tangga dengan Zoya, tapi Zoya masih belum juga dikaruniai seorang anak.


"Zoya, tolong buatkan kopi," teriak Cahya yang sedang duduk diteras rumahnya.


"Iya sebentar," jawab Zoya yang sedang membereskan rumah.


Tak lama Zoya pun segera bergegas membuatkan kopi untuk Cahya.


"Ini kopinya," tawar Zoya yang menyimpan kopinya diatas meja.


"Terima kasih," ujar Cahya.


"Sama-sama," jawab Zoya sambil berlalu meninggalkan Cahya.


"Tunggu," teriak Cahya.


"Kenapa Cahya?" tanya Zoya.


"Apa sudah ada tanda-tanda jika kamu hamil?" tanya Cahya yang masih menunggu kabar baik.


"Belum Cahya, aku masih belum hamil. Apa kamu puas?" pekik Zoya.


Ditengah-tengah rasa lelah karena pekerjaannya rumahnya, pertanyaan Cahya justru membuat Zoya sangat tersinggung. Entah untuk ke berapa kalinya Cahya menanyakan hal itu. Sebagai manusia biasa Zoya tidak pernah tahu kapan kabar baik itu akan datang. Zoya hanya bisa berdoa, meminta pada yang Kuasa agar keinginannya segera di kabul. Namun entah sampai kapan, yang jelas Zoya masih harus bersabar.


Berbeda dengan Cahya yang masih menunggu-nunggu, bahkan menantikan jika Zoya hamil. Cahya ingin segera memiliki buah hati agar dirumahnya terasa ramai, tidak sepi lagi. Cahya bahkan sempat berfikir jika Cahya akan merebut Rehan dari Agnia. Entah sudah beberapa kali Cahya memikirkan hal itu.


Keesokan harinya Cahya mulai menemui Rehan kembali. Sejak pagi Cahya sudah bersiap untuk pergi ke rumah Agnia. Cahya sengaja datang karena hari ini merupakan hari libur, jadi Rehan pasti ada dirumah. Dengan kecepatan yang tinggi Cahya bergegas menuju rumah Agnia. Beberapa menit kemudian akhirnya Cahya tiba dirumah.


Ting.. tong...


Terdengar suara bel berbunyi.


"Siapa ya? Pagi-pagi gini udah ada tamu," gumam Agnia yang sedang membereskan tempat tidur dikamarnya.


Agnia pun segera bergegas keluar kamar untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Cahya?" tanya Agnia yang sangat terkejut dengan kedatangan Cahya yang mendadak saat membukakan pintu.


"Iya ini aku, boleh aku masuk? Aku ingin menemui Rehan," jelas Cahya yang langsung mengatakan maksud kedatangannya.


Tanpa pikir panjang Agnia segera memanggilkan Rehan.


"Sayang, didepan ada ayah yang ingin menemuimu," ujar Agnia.


"Iya bu," jawab Rehan yang langsung bergegas menemui ayahnya.


"Anak ayah," ucap Cahya yang langsung merangkul anaknya.


"Ayah," jawab Rehan yang langsung membalas pelukan ayahnya.


Meski baru beberapa kali bertemu dengan ayah kandungnya, akan tetapi Rehan sangat menghormati ayahnya. Walaupun Rehan masih belum bisa menerima Cahya sepenuh hati, namun Rehan berusaha untuk tidak menunjukan sikap tidak sukanya pada Cahya. Jika harus memilih, Rehan lebih senang dekat dengan Bayu daripada dengan Cahya ayah kandungnya sendiri.


Dihari yang sama, Bayu datang membawa beberapa mainan untuk Rehan.


"Selamat pagi," sapa Bayu yang sudah berdiri didepan pintu.


"Selamat pagi, Pak Bayu?" tanya Agnia yang terkejut dengan kedatangan Bayu sepagi ini.


"Hai sayang, apa kabar jagoan om," tanya Bayu yang langsung mensejajarkan posisinya dan membalas pelukan Rehan.


"Aku baik om," jawab Rehan.


"Ini semua untuk kamu," ujar Bayu sambil menyodorkan semua jingjingan yang dibawanya.


"Wah, apa ini om," Rehan langsung mengambil dan melihat barang-barang yang dibawakan Bayu untuknya.


Cahya yang sedari tadi memperhatikan kedekatan Bayu dan Rehan merasa tidak suka dengan kehadiran Bayu. Cahya merasa jika Rehan tidak sesenang ini saat bertemu dengan Cahya. Ada aura kebahagiaan yang terlihat dari wajah Rehan. Seketika Rehan pun melupakan percakapannya dengan Cahya. Rehan lebih memilih melihat-lihat mainan yang dibawa Bayu.


"Maaf, ternyata sedang ada tamu," ucap Bayu yang sama-sama merasa tidak enak karena kehadirannya membuat obrolan Cahya dan Rehan terganggu.


"Tidak, tidak apa-apa," jawab Cahya yang pura-pura baik-baik saja.


"Perkenalkan pak, ini ayahnya Rehan," timpal Agnia yang langsung berdiri dengan kedatangan Bayu.

__ADS_1


"Oiya, senang bisa bertemu dengan anda," sapa Bayu dengan keramahannya dan langsung menyodorkan tangan kanannya.


"Mas kenalin ini, bos aku," ucap Agnia.


"Senang juga bisa bertemu dengan anda," jawab Cahya yang langsung menjabat tangan Bayu.


Agnia dan Bayu seketika berbincang tanpa menghiraukan keberadaan Cahya.


"Sepertinya aku menganggu jika ada disini terus," gumam batin Cahya.


Tak berapa lama Cahya pun bergegas pamit meninggalkan mereka bertiga.


"Kalau begitu aku permisi, aku lupa jika hari ini ada pekerjaan," pamit Cahya.


"Loh kok buru-buru? Maaf karena kedatangan saya membuat anda terganggu," tanya Bayu yang merasa tidak enak karena kehadirannya membuat Cahya pergi.


"Bukan, saya benar-benar lupa jika hari ini saya ada pekerjaan," jawab Cahya mencari alasan.


Dengan penuh rasa kesal, Cahya pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Cahya merasa jika kehadirannya tidak dibutuhkan. Rehan terlihat tidak menghiraukannya lagi semenjak kedatangan Bayu. Ada perasaan kesal yang Cahya rasakan. Mengapa Rehan bisa bersikap demikian? Padahal Cahya jelas-jelas ayah kandungnya sendiri. Tapi Cahya tidak mengerti dengan semua yang terjadi.


Mungkin saja semua ini terjadi karena sejak dulu Cahya pergi meninggalkan Agnia. Sehingga Rehan merasa jika Cahya tidak memperdulikannya. Rehan merasa jika Cahya tidak menyanyanginya. Namun sejak kehadiran Bayu, ada perasaan senang yang Rehan rasakan. Rehan merasa seperti memiliki seorang Ayah. Apalagi dengan sikap Bayu yang sangat memperhatikan dan menyanyangi Rehan, semua itu menjadi nilai lebih untuk Rehan.


l


"Gimana Rehan kamu suka sama mainan yang om bawa?" tanya Bayu disela-sela obrolannya bersama Agnia.


"Iya om aku suka banget, makasih banyak ya om," ucap Rehan yang sangat antusiaa memainkan beberapa mainannya.


"Sama-sama sayang. Om seneng kalau lihat kamu seneng," jawab Bayu yang terlihat senang melihat Rehan senang.


"Makasih banyak pak, kenapa harus repot-repot bawa mainan segala?" timpal Agnia sembari membawakan minuman dan camilan untuk Bayu.


"Tuh kan mulai lagi manggil pak, ini kan bukan dikantor," protes Bayu.


"Eh iya maaf lupa," jawab Agnia yang menggaruka kepalanya yang tidak gatal.


Mereka terlihat harmonis seperti keluarga yang sesungguhnya. Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia.

__ADS_1


Sementara ditempat lain Cahya masih saja merasa kesal atas kejadian yang sebelumnya. Cahya masih tidak bisa terima jika Bayu berada ditempat itu. Cahya merasa cemburu dengan kedekatan Bayu dan Agnia, selain itu Cahya pun tidak suka melihat kedekatan putranya Rehan dengan Bayu.


"Jika seperti ini terus bisa-bisa aku kehilangan Rehan," gumam batin Cahya.


__ADS_2