
Happy Reading... 😊
Beberapa minggu berlalu, Ihsan dan kedua orang tuanya telah bersiap untuk mendatangi rumah Agnia. Ihsan sebelumnya sudah menceritakan tentang kehidupan Agnia kepada orang tuanya. Meski awalnya menolak, akan tetapi karena penjelasan Ihsan akhirnya orang tua Ihsan mengerti tentang keadaan Agnia. Ditambah lagi Agnia adalah anak teman ayahnya sendiri, mereka merasa yakin jika Agnia adalah anak yang baik.
"Terima kasih pah, mah,karena sudah mau menerima Agnia," ujar Ihsan sebelum berangkat menuju rumah Agnia.
"Sama-sama sayang, mamah yakin Agnia adalah wanita yang baik. Mamah juga tahu kalau Agnia hanyalah korban. Sebagai seorang wanita mamah sangat tahu perasaan Agnia bagaimana," ujar Bu Dewi yang memang mengerti akan perasaan Agnia.
"Syukurlah, alhamdulillah," timpal Ihsan yang mengucap syukur karena orang tuanya memberikan restu pada hubungan Agnia dan Ihsan.
"Ya sudah kalau begitu, mari kita berangkat! Dari tadi ngobrol terus kapan sampainya!" ajak Pak Hasan.
"Eh iya pah ayo!" timpal Ihsan.
Mereka pun segera bergegas menuju rumah Agnia. Ihsan merasa senang karena orang tuanya merestui hubungan mereka. Ihsan sudah tidak sabar ingin segera sampai dirumah Agnia. Dengan kecepatan yang tinggi Ihsan melajukan kendaraannya.
"Hati-hati nak," ujar Pak Hasan yang duduk disebelah Ihsan.
"Iya nak hati-hati, ga usah ngebut," timpal Bu Dewi dari kursi belakang.
"Baik mah, pah," jawan Ihsan yang segera mengurangi kecepatan kendaraannya.
Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah Agnia.
Didalam rumah Agnia sudah bersiap sejak tadi. Agnia dan Pak Arga tampak sibuk menyiapkan suguhan untuk keluarga Ihsan. Sejak kemarin Agnia sibuk memasak hidangan yang lezat.
Ting... tong...
"Sepertinya itu mereka," ujar Agnja yang sedang menata makanan diatas meja makan.
"Cepat buka dulu," titah Pak Arga.
"Baik yah," jawab Agnia yang segera bergegas membuka pintu rumahnya.
"Assalamualaikum," sapa Ihsan saat Agnia membukakan pintu.
"Waalaikumsalam, om, tante," sapa Agnia yang langsung menyalami Bu Dewi dan Pak Hasan.
"Jadi ini yang namanya Agnia? Pantes Ihsan sampai jatuh hati, orangnya cantik," ujar Pak Hasan yang tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah om bisa aja, silahkan masuk," jawab Agnia yang tersenyum karena malu dan mempersilahkan mereka masuk. Ihsan dan kedua orang tuanya pun bergegas masuk.
"Hai Arga apa kabar?" tanya Pak Hasan yang langsung menghampiri Pak Arga didalam rumah.
"Hai Ga, kabarku baik. Kamu sendiri gimana?" jawab Pak Arga yang langsung membalas pelukan Pak Hasan.
"Entah sudah berapa tahun kita tidak bertemu," ujar Pak Hasan lagi.
"Yang jelas sudah sangat lama sekali, silahkan duduk. Hai wi apa kabar?" Pak Arga mempersilahkan.
"Aku baik Ga, Hana kemana?" tanya Bu Dewi lagi.
"Hana sudah lama meninggal Wi," lirih Pak Arga yang tiba-tiba teringat akan mendiang istrinya.
"Maaf aku tidak tahu, jadi tidak enak," lirih Bu Dewi yang memang sama sekali tidak mengetahui akan kematian Hana.
"Aku turut berduka cita Ga, maaf kami tidak tahu. Jika tahu pasti kami akan datang kesini," timpal Pak Arga yang sama-sama tidak mengetahui atas meninggalnya Bu Hana.
"Tidak apa-apa Hasan, terima kasih," jawab Pak Arga yang menyeka sudut matanya.
Karena pembicaraan itu, Pak Arga teringat kembali pada istrinya Bu Hana. Kenangan-kenangan indah bersama istrinya seolah terlintas kembali dalam benaknya. Cinta yang sedari dulu sudah tumbuh. Cinta yang mereka jalin sejak masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga akhirnya menikah. Mereka pernah berjanji untuk sehidup semati, namun maut jua yang akhirnya memisahkan mereka berdua.
"Dari tadi kek, aku kan sudah lapar," celetuk Ihsan yang membuat mereka tertawa.
"Kamu ini, malu-maluin mamah aja," ujar Bu Dewi.
"Ga apa-apa tante," timpal Agnia.
Agnia memang sengaja mempersiapkan segalanya dari kemarin. Agnia ingin memasak masakan yang spesial untuk mereka. Mulai dari rendang, opor ayam, dan masih banyak lagi yang lainnya.
"Wah sepertinya enak-enak semua masakannya, pasti Agnia yang masak," ujar Bu Dewi yang tergiur melihat makanan yang tersaji diatas meja.
"Iya dong, ini semua Agi yang masak. Kalian pasti ketagihan dengan masakan Agi," timpal Pak Arga yang langsung memuji putrinya sendiri.
Agnia pun mulai menyendokan nasi diatas piring untuk ayahnya.
"Ayah mau sama apa?" tanya Agnia.
"Ayah sama rendang saja," jawab Pak Arga.
__ADS_1
Setelah mengambilkan nasi untuk ayahnya, Agnia pun segera menyendokan nasi untuk Ihsan.
"Kamu mau sama apa Ihsan?" tanya Agnia.
"Aku sama deh kaya ayah mertua," ujarnya sambil terkekeh.
"Kamu ini, belum apa-apa udah manggil mertua aja," timpal Pak Arga.
"Ga apa-apa San, biarin aja," ujar Pak Arga.
"Tuh kan," timpal Ihsan lagi.
Agnia hanya tersenyum melihat kehangat diatas meja makan. Agnia merasa bahagia walaupun pernikahan itu belum terjadi. Semua orang juga terlihat sangat senang dan bahagia. Bu Dewi mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Mmh, ini enak sekali," ujar Bu Dewi yang baru menyendokan nasi kedalam mulutnya.
"Iya mah ini enak," timpal Pak Hasan.
"Makanya aku mau tambah," ujar Ihsan yang sudah habis satu piring dan masih ingin menambah.
Agnia dengan sigap langsung menyendokan nasi ke dalam piring Ihsan. Setelah semua selesai makan, akhirnya acara inti pun dimulai. Semua orang kini duduk diruang tamu.
"Jadi maksud keluarga kami datang kesini untuk melamar Agnia," ujar Pak Hasan yang langsung membuka pembicaraan.
"Tapi maaf sebelumnya apa om sama tante sudah tahu tentang masa lalu Agi?" tanya Agnia sebelum menerima lamaran itu.
"Memangnya kenapa nak? Kami sudah tahu semuanya," ujar Pak Hasan.
"Tapi, apa kalian tidak malu?" tanya Agnia yang merasa khawatir dengan statusnya. Agnia ingin jujur dan tidak ingin ada yang ditutup-tutupi sebelum hari pernikahannya.
"Tidak nak, kenapa kami harus malu. Kami sudah merestui hubungan kalian. Yang terjadi kepadamu itu bukanlah kesalahanmu," ujar Bu Dewi yang memang sudah mengerti dengan keadaan Agnia yang sesungguhnya.
"Terima kasih banyak om, tante," ujar Agnia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jadi gimana Agnia, apa kamu menerima lamaran Ihsan?" tanya Pak Arga.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Agnia. Agnia hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju. Mendengar kata-kata orang tua Ihsan membuat Agnia tenang dan merasa lega, awalnya Agnia takut jika mereka tidak akan menerima Agnia karena statusnya. Tapi ternyata orang tua Ihsan begitu baik dan sangat pengertian.
"Yes," sorak Ihsan yang langsung sumringah setelah Agnia menerima lamarannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ujar semua orang yang berada diruangan itu.