
Happy Reading... 😊
"Tolong antar kami ke rumah sakit ya pak," ujar Cahya setelah memasukan wanita itu ke dalam mobil.
"Siap pak," jawab supir itu yang langsung bergegas meninggalkan bandara.
"Cepetan ya pak!" ujar Cahya lagi yang merasa panik.
Supir itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi. Beruntung jarak dari bandara menuju rumah sakit tidak terlalu jauh. Dengan cepat Cahya membawa wanita itu ke dalam rumah sakit.
"Tolong, wanita ini sepertinya kakinya terkilir," jelas Cahya.
"Baik mohon tunggu sebentar, pasien biar kami yang periksa," ujar salah seorang perawat yang membawa wanita itu menggunakan kursi roda.
"Aduh, sakit.." ucap wanita itu sambil memegangi kakinya.
"Mohon bersabar bu," ujar perawat itu sambil mempercepat langkahnya.
Tidak berapa lama wanita itu segera dibawa ke ruangan untuk diperiksa. Ternyata kakinya memang sedikit terkilir. Dengan mengoleskan salep dan dengan penanganan dokter selama beberapa menit akhirnya kaki wanita itu mulai baikan dan tidak terlalu sakit.
"Jadi gimana bu, masih merasa sakit?" tanya dokter itu.
"Sekarang tidak terlalu sakit dok terima kasih," ujar wanita itu.
"Sama-sama," jawab dokter itu.
Wanita itu segera keluar dengan perlahan.
"Terima kasih karena sudah membawa saya kesini," ujar wanita itu yang mulai membuka pembicaraan disebelah Cahya.
"Sama-sama," jawab Cahya.
"Maaf karena saya sudah merepotkan anda," ujar wanita itu lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kalau begitu karena anda sudah baikan saya permisi," pamit Cahya yang tidak ingin berlama-lama berada ditempat itu.
"Tunggu, apa bisa kita berkenalan?" tawar wanita itu.
"Tentu, namaku Cahya," ucap Cahya memperkenalkan diri dan menyodorkan tangan kanannya.
"Saya Nadia," jawab wanita itu dan dengan segera menyalami Cahya.
"Kalau begitu salam kenal. Sudah baikan kan? Saya permisi," pamit Cahya yang bergegas melangkahkan kakinya
"Tunggu, memangnya anda mau kemana?" tanya Nadia.
"Saya mau menemui orang tua saya dikota ini," jawab Cahya yang mulai mempercepat langkah kakinya.
"Ouh iya terima kasih sekali lagi," ujar Nadia lagi.
Cahya mulai meninggalkan wanita itu dan segera bergegas menuju rumah orang tuanya. Setelah Cahya menikah orang tua Cahya pindah ke kota ini. Orang tua Cahya mencoba membuka bisnisnya dikota ini. Entah sudah beberapa kali mereka jatuh bangun untuk merintis bisnisnya yang diberi nama PT. Purnama Group yang bergerak dalam bidang perhotelan itu.
Dulu memang Pak Adi pernah menjalankan bisnisnya yang bekerja sama dengan ayahnya Agnia Pak Arga Wijaya. Namun setelah perceraian anaknya, bisnis mereka pun ikut terhenti. Pak Arga mengundurkan diri dan berhenti bekerja sama dengan Pak Adi. Pak Arga ingin membuktikan jika ia pun bisa mendirikan perusahaannya sendiri. Berkat kerja kerasnya itulah kini Pak Arga bisa menikmati hasil jerih payahnya.
"Apa Pak Adi ada diruangannya?" tanya Cahya kepada seorang resepsionis.
"Saya anaknya Cahya Purnama?" jelas Cahya dengan penuh penegasan.
"Oh, bapak ada diruangannya pak silahkan langsung kesana saja," jawab resepsionis itu yang mulai cemas karena ia baru saja berbicara dengan anak pemilik hotel itu.
Tanpa basa-basi lagi Cahya segera menemui ayahnya.
"Ayah," ujar Cahya saat membuka pintu.
"Hai anak ayah, ini sebuah kejutan! Kenapa tidak mengabari ayah jika akan kesini? Kan ayah bisa jemput kamu," tanya Pak Adi yang merasa heran karena Cahya tiba-tiba datang menemuinya.
"Ah tidak apa-apa yah, aku hanya merindukan kalian saja," lirih Cahya yang terlihat sedih dan langsung memeluk ayahnya.
__ADS_1
"Dari wajahmu ayah tahu jika kamu sedang tidak baik-baik saja," ujar Pak Adi yang langsung membalas pelukan Cahya.
Sebagai seorang ayah yang sangat dekat dengan anaknya, Pak Adi sangat tahu tentang perasaan Cahya. Selama ini Cahya selalu menceritakan hal apapun pada ayahnya. Termasuk soal Agnia. Cahya menemui ayahnya hanya ingin berkeluh kesah tentang apa yang dirasakannya saat ini.
"Ayah tahu, aku mencoba mengajak rujuk pada Agnia tapi dia tidak mau," ujar Cahya yang langsung menceritakan tentang apa yang dirasakannya.
"Begini nak, setelah apa yang sudah kamu lakukan, Agnia pasti tidak akan semudah itu menerima kamu kembali. Ayah tahu sebagai seorang wanita pasti Agnia masih merasakan sakit hati yang teramat dalam. Butuh waktu yang cukup lama bagi Agnia untuk mengobati rasa sakitnya," jelas Pak Adi.
"Aku tahu yah, tapi aku akan berusaha berubah jika dia memberikan aku kesempatan yang kedua," lirih Cahya.
"Tapi tidak semudah itu nak, lebih baik kamu lupakan Agnia. Masih banyak wanita lain diluaran sana," ujar Pak Adi lagi.
Cahya pun seketika terdiam merenungi kata-kata Pak Adi. Cahya memang ingin berubah untuk tidak seperti itu lagi. Mungkin Cahya juga akan mencoba membuka hatinya untuk yang lain.
"Baik yah, terima kasih karena sudah mendengarkan aku," ucap Cahya.
"Sama-sama nak," jawab Pak Adi.
"Oiya yah, kemana ibu?" tanya Cahya.
"Ibumu ada dirumah nak," jawab Pak Adi.
"Kalau begitu aku ke rumah dulu yah," pamit Cahya.
"Ya sudah kita berangkat sama-sama saja, lagian ayah juga sudah akan pulang," ujar Pak Adi.
Pak Adi pun segera membereskan barang-barangnya. Ia bersama Cahya segera pulang bersama. Pak Adi mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Sepanjang perjalanan Cahya melihat pemandangan disisi kiri dan kanan. Walaupun dulu ia pernah datang ke kota ini, tapi Cahya tidak terlalu banyak tahu tentang kota ini.
Dulu Cahya hanya beberapa hari menginap setelah itu kembali pulang. Tidak berapa lama akhirnya mereka tiba dirumah. Bu Sinta yang mengetahui anaknya pulang merasa sangat bahagia. Bu Sinta yang sebelumnya memasak banyak langsung mengajak Cahya dan suaminya untuk makan bersama.
"Ibu tahu aja aku akan kesini? Aku jadi lapar," ujar Cahya yang sudah tidak sabar ingin segera makan.
"Entahlah nak, sejak kemarin ibu ingin masak yang banyak. Mungkin karena naluri seorang ibu saja," timpal Bu Sinta.
__ADS_1
"Yang penting kita sekarang makan enak," jelas Pak Adi.
Suasana dimeja makan itu terasa hangat. Pak Adi dan Bu Sinta sangat merindukan makan bersama anaknya. Entah sudah berapa tahun mereka terpisah, yang jelas sekarang mereka sangat merindukan masa-masa seperti ini.