
Happy Reading... 😊
Agnia merasa sangat senang karena akhirnya ia dan Ihsan bisa saling mengisi. Agnia berharap Ihsan adalah laki-laki yang tepat untuknya. Agnia merasa jika Ihsan berbeda dari laki-laki yang lain. Ihsan sangat baik dan sangat tulus. Ihsan juga merupakan laki-laki yang sangat bertanggungjawab. Hal itulah yang menjadi nilai plus dimata Agnia.
"Maafkan aku yah, aku tidak bisa menerima perjodohan itu. Bukannya aku tidak percaya dengan pilihan ayah, hanya saja aku tidak mau jika karena perjodohan itu, hal yang telah lalu akan terulang kembali. Aku harap ayah akan mengerti dan setuju dengan pilihanku," gumam batin Agnia.
Beberapa bulan berlalu, hubungan diantara Agnia dan Ihsan pun semakin dekat. Bahkan mereka berniat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Untuk itu Ihsan meminta izin kepada Agnia untuk bertemu dengan ayahnya. Ihsan akan meminta restu kepada ayah Agnia agar dapat menikah dengan Agnia.
"Jadi kapan kita bertemu dengan ayahmu?" tanya Ihsan.
"Sabar sebentar ya, aku harus telpon ayah dulu," jawab Agnia.
Setelah percakapan itu akhirnya Agnia menghubungi Pak Arga untuk bisa datang kerumahnya. Beberapa hari setelah itu akhirnya Pak Arga datang ke rumah Agnia.
"Assalamualaikum," ucap Pak Arga saat baru tiba diteras rumah.
"Waalaikumsalam ayah," jawab Agnia yang langsung menghampiri ayahnya ke depan pintu sebab pintunya sedari tadi terbuka.
"Ayah mau minum apa?" tawar Agnia.
"Ayah mau kopi saja, Rehan kemana?" jawab Pak Arga yang langsung duduk disofa ruang tamu.
"Rehan sekolah yah," teriak Agnia dari arah dapur yang sedang membuat kopi.
Tak berapa lama Agnia pun membawa secangkir kopi dan satu toples kue untuk ayahnya.
"Silahkan diminum dulu yah," tawar Agnia.
"Terima kasih sayang," ujar Pak Arga yang langsung menyeruput kopi panasnya itu.
"Sama-sama yah," jawab Agnia.
"Oiya yah, ada seseorang yang ingin Agnia kenalkan sama ayah," ucap Agnia membuka pembicaraan.
"Siapa? Terus laki-laki yang akan ayah kenalkan gimana?" tanya Pak Arga yang ingin bersikukuh memperkenalkan Agnia dengan anak temannya.
"Teman Agnia yah, maaf Agnia tidak mau yah. Agi sudah memiliki pilihan sendiri," jawab Agnia.
__ADS_1
"Tapi setidaknya tolong temui sekali saja. Ayah yakin pria itu adalah pria yang baik," jelas Pak Arga lagi.
"Aku tidak mau jika sampai dijodohkan lagi yah, cukup sekali saja. Untuk kali ini Agi ingin pilihan Agi sendiri yah," lirih Agnia.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, suruh saja temanmu itu datang kesini," ucap Pak Arga.
"Baik yah, aku akan menelponnya sekarang," ujar Agnia.
Setelah pembicaraan itu Agnia segera menghubungi Ihsan agar Ihsan cepat datang ke rumah Agnia. Satu jam kemudian Ihsan akhirnya datang. Meski Ihsan sedang sibuk, akan tetapi Ihsan berusaha untuk meluangkan waktunya. Apalagi ini menyangkut tentang masa depannya.
"Assalamualaikum," sapa Ihsan yang baru saja datang dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Agnia dan Pak Arga serempak.
"Om Arga?" tanya Ihsan yang menautkan kedua halisnya.
"Ihsan? Jadi kamu temannya Agnia yang mau bertemu dengan om?" tanya Pak Arga.
"Iya om," jawab Ihsan yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena malu.
"Jadi ayah sudah kenal dengan Ihsan?" tanya Agnia yang menautkan kedua halisnya.
"Oh.." jawab Agnia datar.
"Kalau begitu ayah tidak perlu repot-repot lagi memperkenalkan kalian," ujar Pak Arga yang tersenyum sumringah.
Sementara Agnia dan Ihsan hanya tersenyum dan saling memandang. Agnia tidak pernah mengira jika Ihsan lah yang selama ini akan ayahnya kenalkan. Jika tahu Ihsan orangnya, mungkin Agnia tidak akan menolak untuk dikenalkan oleh ayahnya.
"Maaflan Agnia yah," ujar Agnia yang langsung menghampiri ayahnya.
"Loh kenapa harus minta maaf segala?" tanya Pak Arga.
"Karena sejak kemarin Agnia sudah membantah ayah,seandainya Agi tahu sebelumnya," lirih Agnia.
"Ya sudah tidak apa-apa, ayah mengerti sebab kamu pernah kecewa. Maka dari itu ayah tidak mau sembarangan memperkenalkan laki-laki sama kamu," jelas Pak Arga.
"Iya yahh," jawab Agnia.
__ADS_1
Sebagai orang tua, Pak Arga pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Pak Arga tidak ingin mengulangi kesalahannya dengan menjodohkan Agnia dengan anak temannya. Meski temannya itu adalah teman yang baik bagi Pak Arga, akan tetapi itu semua bukanlah sebuah jaminan. Pak Arga tidak ingin lagi melihat anaknya gagal dalam membina sebuah hubungan rumah tangga. Cukup yang dahulu menjadi sebuah pelajaran bagi Pak Arga.
"Jadi maksud kedatangan saya ke sini untuk melamar Agnia om," ujar Ihsan mengutarkan maksud kedatangannya.
"Om sudah tahu itu dan om pasti menyetujui hubungan kalian," jawab Pak Arga senang.
"Kalau begitu besok saya akan datang dengan orang tua saya om," ucap Ihsan lagi.
"Baik om tunggu," jawab Pak Arga.
"Siap om!" ujar Ihsan.
Tidak lama Agnia pun datang membawa minuman untuk Ihsan. Agnia merasa sangat gugup dan sudah tidak sabar untuk menanti hari bahagia itu. Selepas percakapan itu, Ihsan pun tidak sabar untuk cepat pulang. Ihsan sudah tidak sabar ingin mengajak orang tuanya kembali lagi untuk melamar Agnia. Begitupun dengan Agnia yang merasa senang karena akhirnya ia memiliki pendamping hidup saat ini. Semoga Rehan akan menerima Ihsan dan semoga semuanya akan berjalan dengan lancar.
"Diminum dulu mas," tawar Agnia.
"Terima kasih Agnia," ujar Ihsan.
"Kalau begitu aku pamit dulu om," pamit Ihsan.
"Mau kemana ini masih siang," ujar Pak Arga.
"Aku ingin segera pulang om, aku sudah tidak sabar untuk mengajak orang tuaku datang kesini," ucap Ihsan sambil membisikannya ke telinga Pak Arga.
"Betul, betul. Lebih cepat lebih baik!" ucap Pak Arga yang langsung tersenyum.
"Kalian ngomongin apa sih? Bisik-bisik segala," ujar Agnia yang merasa kesal karena mereka hanya berbicara berdua.
"Ada deh," ujar Ihsan yang terkekeh melihat tingkah Agnia.
"Kalau begitu aku pamit pulang ya om," pamit Ihsan sambil berlalu meninggalkan rumah.
"Iya Ihsan hati-hati dijalan," jawab Ihsan.
"Aku pulang dulu ya," pamit Ihsan sambil berlalu dihadapan Agnia.
"Iya hati-hati ya, kalau sudah sampai kabarin aku," ujar Agnia.
__ADS_1
"Siip!" ujar Ihsan sambil mengangkat jempol kanannya dan bergegas keluar rumah.
Meskipun merasa kesal karena Agnia tidak tahu apa yang dibicarakan Ihsan dan ayahnya, akan tetapi Agnia tetap memberikan perhatiannya. Agnia memang wanita yang baik dan begitu perhatian. Setelah sekian lama Agnia menutup pintu hatinya, kali ini Agnia mencoba membuka hatinya kembali. Agnia berharap jika pernikahannya kali ini akan menjadi pernikahannya yang terakhir.