
Happy Reading... 😊
"Tapi kenapa Agnia kenapa?" tanya Bayu lagi.
"Maaf Bayu, aku tidak bisa menjelaskan apa-apa. Yang jelas saat ini aku sedang tidak ingin dekat dengan siapa-siapa, karena aku ingin fokus mengurus Rehan," jelas Agnia.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, mulai saat ini aku tidak akan pernah menemuimu lagi dan aku akan pergi dari hidupmu!" ujar Bayu yang langsung bergegas meninggalkan rumah Agnia tanpa pamit terlebih dahulu. Bayu merasa kesal dan sangat sakit hati atas apa yang Agnia katakan. Bayu benar-benar terluka karena ia sangat mencintainya.
"Maafkan aku Bayu, aku terpaksa melakukan hal ini agar kamu pergi meninggalkan aku. Aku yakin masih banyak wanita diluaran sana yang lebih pantas untukmu," lirih Agnia dengan mata yang berkaca-kaca.
Agnia sebenarnya tidak pernah ingin menyakiti hati Bayu. Agnia hanya ingin fokus mengurus Rehan dan tidak bergantung kepada siapapun.
Agnia hanya ingin hidup tenang dan tidak ingin memiliki masalah dengan siapapun.
Sementara Bayu mengendarai mobilnya dengan begitu cepat. Hingga sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi. Bayu mengalami kecelakaan karena dalam perjalanan Bayu tidak bisa berkonsentrasi saat menyetir. Pikirannya begitu kacau memikirkan hubungannya dengan Agnia. Bayu tidak pernah mengira bahwa hubungannya akan berakhir secepat ini, disaat ibunya sudah memberikan restu.
Brak...
Tabrakan itu tidak terelakan. Bayu menabrak sebuah pohon besar. Mobilnya rusak parah dan Bayu mengalami luka yang sangat serius. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu segera menghubungi rumah sakit. Bayu diselamatkan oleh beberapa orang yang sedang berada ditempat kejadian. Tak lama suara ambulan itu terdengar dan Bayu segera dilarikan ke rumah sakit.
"Sepertinya dia bukan orang sini," ujar salah seorang yang berada dalam kerumunan itu.
"Iya betul, aku juga baru melihat orang itu," timpal seseorang lainnya.
Dijalanan itu tampak ramai. Orang-orang yang berada ditempat itu malah asyik menyaksikan kejadian itu. Dengan kecepatan tinggi ambulan itu melaju, mobil yang berada didepan ambulan itu seketika menepi ke pinggir jalan. Satu jam kemudian akhirnya ambulan itu tiba dirumah sakit. Bayu segera dibawa keluar dan segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Dalam beberapa menit Bayu diperiksa dan akhirnya Bayu dinyatakan meninggal karena kehilangan banyak darah akibat pendarahan yang banyak keluar dari kepalanya. Pihak rumah sakit pun segera menghubungi pihak keluarga Bayu.
📱"Halo, Selamat malam?" ujar salah seorang perawat.
📱"Halo Bayu? Ini siapa? Bayu mana? Kenapa hpnya ada sama kamu?" tanya Bu Ester dengan beberapa pertanyaan dari sebrang sana.
__ADS_1
📱" Saya dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan jika anak anda Bayu telah mengalami kecelakaan dan korban telah meninggal dunia," ujar perawat itu.
📱"Apa? Bayu anakku? Bayu ada dirumah sakit mana?" tanya Bu Ester.
📱"Dirumah sakit sejahtera bu," jawab perawat itu.
Bu Ester langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Bu Ester masih tidak percaya jika anaknya Bayu meninggal dunia. Maka dari itu Bu Ester ingin memastikan berita itu.
"Pih, papih!" pekik Bu Ester.
"Iya mih ada apa? Kok teriak-teriak?" tanya Pah Hars yang terbangun dari tidurnya.
"Anak kita pih, anak kita," ujar Bu Ester dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa dengan Bayu mih?" tanya Pak Hars yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Bu Ester.
"Anak kita kecelakaan pih, dan Bayu meninggal," lirih Bu Ester dan air mata itupun akhirnya tumpah tak tertahankan.
"Apa mih? Yang benar saja mih?" tanya Pak Hars yang tidak percaya.
"Ya sudah kalau begitu papih siap-siap dulu," ucap Pah Hars yang langsung mengganti pakaiannya dan cepat menyiapkan mobil.
Begitupun dengan Bu Ester yang cepat-cepat mengganti pakaiannya. Dengan sangat berat hati Bu Ester tetap bersiap dan berdandan ala kadarnya. Bu Ester merasa tidak karuan, setelah mendengar berita tentang Bayu. Antara percaya dan tidak percaya, yang jelas Bu Ester ingin segera memastikan kejadian itu.
Beberapa menit kemudian akhirnya Pak Hars dan Bu Ester telah bersiap. Dengan kecepatan yang tinggi Pak Hars segera melajukan kendaraannya. Meski sebenarnya tidak karuan, tapi Pah Hars mencoba untuk bersikap tenang. Ia tidak ingin sesuatu terjadi. Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba di rumah sakit sejahtera. Bu Ester segera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam gedung rumah sakit.
"Bayu... Bayu.." pekik Bu Ester histeris.
"Mih tunggu, jangan seperti ini! Malu dilihat orang mih," ujar Pak Hars yang mencoba menenangkan dan mengajak Bu Ester untuk duduk dulu, sementara Pak Hars menanyakan pada pusat informasi.
"Permisi saya mau menanyakan tentang kecelakaan yang terjadi tadi," tanya Pak Hars yang langsung menanyakan tujuannya.
__ADS_1
"Oiya pak, korban kecelakaan tadi ada dikamar no.112," jawab perawat yang berjaga saat malam itu.
"Oiya terima kasih," ujar Pak Hars yang langsung bergegas ke kamar 112 dan membawa Bu Ester.
"Ayo mih," ajak Pak Hars yang menarik tangan Bu Ester.
Tidak banyak kata yang keluar dari mulut Bu Ester, ia hanya terdiam dan mengikuti langkah suaminya. Karena ruangan itu berada dilantai 2, Pak Hars dan istrinya menaiki lift agar lebih cepat sampai. Tak jauh dari lift itu terlihat kamar no.112. Pak Hars dan Bu Ester pun langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Bayu," teriak Bu Ester yang langsung memanggil nama anaknya saat memasuki ruangan itu dan berlari menuju ranjang Bayu.
"Maaf pak, bu, kami tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien, karena pasien begitu banyak kehilangan darah dibagian kepalanya," ujar seorang perawat yang berada dalam ruangan itu.
Sementara perawat yang lain sedang sibuk membereskan alat bekas operasi. Bayu yang telah tiada ditutupi kain berwarna putih diatas ranjang.
"Bayu anakku, jangan tinggalkan momy," lirih Bu Ester yang menangisi kepergian Bayu.
Bu Ester menangis sejadi-jadinya, menangis sambil memeluk erat tubuh Bayu yang terbaring.
"Sudah mih, sudah," ujar Pak Hars yang mengusap punggung istrinya.
"Bayu, jangan tinggalkan momy," ujar Bu Ester lagi.
Bu Ester terus meratapi kepergian anaknya hingga ia jatuh pingsan dilantai.
"Mih, bangun mih," ucap Pak Hars yang menepuk-nepuk pipi Bu Ester.
Dengan sigap para perawat yang berada diruangan itu membawa Bu Ester ke kamar yang kosong. Bu Ester dibaringkan diatas ranjang. Beberapa perawat terlihat melakukan penanganan pada Bu Ester yang sedang pingsan. Tak berapa lama akhirnya Bu Ester siuman juga.
"Mih, mamih tidak apa-apa?" tanya Pak Hars.
"Bayu pih, mana Bayu?" tanya Bu Ester disela-sela tangisannya.
__ADS_1
"Bayu sudah tenang mih, jangan seperti ini," jelas Pak Hars.
"Kita pulang ya, ini sudah larut malam. Besok kita urus pemakaman anak kita," ajak Pak Hars.